Showing posts with label Kelas Reguler. Show all posts
Showing posts with label Kelas Reguler. Show all posts

Saturday, January 9, 2016

2016, Let's dedicate this year for seriously learning Dharma

Bulan Januari 2016 ini dimulai dengan sharing dari Tim Sumati Kirti mengenai teaching dari Suhu Bhadra Ruci pada Maha Pranidhana Puja 2 pada bulan Desember 2015 lalu.

Kadam Choeling Indonesia artinya pusat belajar aliran Kadampa. Di sini anak-anak belajar Dharma, Dharma Center.
KCI bukan toko, melainkan sekolah.
Di sini orang-orang datang bukan saat ada masalah saja dan setelah masalah hilang tidak datang, namun orang-orang datang juga saat keadaan baik. Di saat ke depannya, ketika anak-anak KCI menemukan masalah apa pun, mereka bisa mengatasi segala masalahnya dengan bekal yang mereka dapat selama belajar di KCI.

Dulu selama kita kuliah, kita menghabiskan waktu banyak untuk belajar kuliah. Apakah kita pernah menghabiskan waktu untuk belajar Dharma?
Kita perlu bertanya terlebih dahulu, apa pentingnya Dharma untuk kita?
Adakah yang setelah belajar Dharma menjadi lebih baik? Menjadi berkurang marahnya, menjadi lebih sabar?
Kalau begitu, kita seharusnya lebih banyak put an effort di belajar Dharma.
Selama ini kita belajar tekstual, dan itu harus dimasukkan ke hati, bukan hanya di otak saja, sehingga kita bisa berubah.

Gubernur KCJ mengingatkan kembali bahwa di tahun 2015 lalu kita tak bisa bertemu dengan Guru kita karena kesehatan memburuk.

Kita belajar saling bergantungan dan karma (aksi-reaksi) ada Guru ada murid, ada murid maka akan ada guru. Kemarin Guru tak bisa datang, apakah karena Gurunya yang tak sanggup? Atau karena kita yang tak sanggup menerima ajaran dari Guru?
Kita harus benar benar belajar lebih banyak agar dapat menjadi wadah yang sanggup menerima ajaran dari Guru.

Di tahun 2016 ini kita harus serius untuk belajar Dharma, bersyukur KCJ merupakan center pilot dimana akan diadakan program dari Sumati Kirti, yaitu Program Pembelajaran Lamrim (Prolam), info lebih lanjut akan segera dikeluarkan.

Belajar serius ini bukan hanya jargon main-main saja, tapi kita harus serius memandang hidup kita. Kita boleh bekerja, bermain, dll, tapi kita harus tetap punya tujuan hidup, yaitu memperjuangkan spiritual. Bekerja dan hal lainnya menjadi pelengkap kita mencapai tujuan itu. Segala sesuatu harus menunjang spiritual, bukan sebaliknya.

Di tahun ini kita harus buat resolusi, kita harus meletakkan itu jadi yang utama, dia prioritas, menjadi nomer satu. Kita harus lebih disiplin terhadap diri kita.

Kalau kita belajar serius, ada sesuatu yang berubah di diri kita, komunitas kita dan bahkan kita bisa sampai menyebarkan Lamrim ke nusantara. Ini sesuai dengan harapan Guru-guru kita.

Jadi, semangat semua! 😁

Sunday, November 29, 2015

Special Weekend with Tenzin Chograb

"Ibarat seekor anak gajah yang mendambakan kenikmatan beberapa suap
Rumput yg tumbuh di tepi lembah yg dalam dan
Akibatnya jatuh ke jurang yang dalam tanpa mendapat sesuap pun,
Demikian pula halnya mereka yg mendambakan kenikmatan-kenikmatan di dunia ini."
~Sisya-lekha

Pada Sabtu, 28 November 2015 dan Minggu, 29 November 2015 ini, warga KCJ mengikuti kegiatan yang cukup berbeda dari biasanya, yaitu kelas spesial bersama Biksu Tenzin Chograb. Peserta yang hadir dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4-8 orang masing-masing kelompok) yang dipimpin oleh tim Sumati Kirti. Setiap kelompok memiliki tema diskusi masing-masing. Tema diskusinya antara lain adalah:


- Batin dan Faktor Mental
Manusia terdiri dari 5 agregat dan 51 mental faktor, 4 faktor mental yang selalu hadir, 11 faktor mental bajik dan 27 faktor mental tak bajik (6 klesha akar dan 20 klesha sekunder).

- Madhyamika (Middle Way)
Mengajarkan jalan tengah agar kita tidak ekstrim ke kiri maupun ke kanan. Tidak ekstrim ke nihilisme maupun eternalisme. Hukum sebab akibat yang saling bergantungan di mana ada sesuatu yang bergantung, yang tidak ada adalah sesuatu yg berdiri sendiri. Segala sesuatu yang komposit tidaklah kekal akan selalu berubah. Hanya fenomena non-komposit, yaitu keBuddhaan yang bersifat kekal.


- Jalan Mudah
Cara mudah memberikan compassion ke semua makhluk. Di sini coba direnungkan berkah maupun realisasi apa yang telah dicapai kemudian mencoba membagikan berkah/blessing ini dengan compassion untuk semua makhluk.


- Uttara-Tantra
Sifat Kebuddhaan merupakan mental kontinum yang unggul, tidak berawal, tidak memiliki tengah dan tidak memiliki akhir. Ia ada di batin setiap mahkluk, namun tertutup klesha. Layaknya kaca yang tertempel debu yang dapat dibersihkan, layaknya buah yang banyak kulitnya yang dapat dikupas satu persatu.

- 37 Praktik Bodhisattva

Saat ibu-ibu yang sangat baik terhadap kita dari awal yg tak bermula sedang menderita, apalah artinya sebuah kebahagiaan diri kita sendiri?

Oleh karena itu, membangkitkan batin pencerahan dengan tujuan untuk membebaskan semua makhluk yg tak terhingga jumlahnya adalah Praktik Bodhisattva.

Salah satu poin prakrik Bodhisattva adalah bahwa kita harus menghormati orang yang menghina diri kita, itu adalah praktik Bodhisatwa.


Setelah mengikuti diskusi selama kurang lebih 2 jam, peserta dikumpulkan kembali dalam forum besar dan kemudian masing-masing kelompok menceritakan apa yang mereka dapat dari kelompok tersebut. Ada beberapa pertanyaan yang kurang dimengerti, ditanyakan dan dijawab oleh Tim Sumatikirti dan Biksu Tenzin Chograb.


Monday, November 16, 2015

Sudahkah Anda Menemukan Guru Spiritual?

Sebagai seseorang yang ditutupi klesha, kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan cenderung memilih Guru yang memuji-muji kita dan menolak Guru yang mengkritik ataupun menghina kita.
Kita tidak dapat melihat makna dari kata-kata beliau dan justru membentengi diri kita dengan berlapis-lapis ego kita.
Kita perlu melihat manakah Guru yang betul-betul dapat mengurangi klesha kita, merubah sikap kita, mendorong kita untuk berubah. Bukan seorang Guru yang justru menaikkan ego kita, kseombongan kita.

"Jika engkau mengandalkan siapapun yang lebih unggul -sepenuhnya tenteram,
Dan diberkahi dengan disiplin etika,
Dan kebijaksanaan yang melampaui,
Engkau akan menjadi lebih unggul bahkan ketimbang mereka yang lebih unggul."
~Mitra Varga

Di zaman kemerosotan ini, memang sangat sulit mencari Guru yang memenuhi 10 kualitas -berdisiplin, tenang, sepenuhnya tenteram, memiliki kualitas baik yang melebihi muridnya, kaya pengetahuan tekstual, pengetahuan realitas mendalam, perhatian cinta kasih, mahir dalam membimbing murid-murid, dan meninggalkan keputusasaan.
Namun sangat penting sekali untuk dapat menemukan Guru tersebut. Karena semua sumber pencapaian spiritual berasal dari Guru.

"Pada akhirnya semua topik Lamrim akan bermuara pada topik Berbakti pada Guru Spiritual."
~Lenny Hidayat

Mengapa begitu?

Akan dibahas di kelas Minggu, 22 November 2015 ya...



Wednesday, July 8, 2015

Kelas Bodhisatva Vow

"Dan bagi mereka yg telah mengukur pikirannya dengan baik
Dengan tekad tak akan mundur
Dari usaha membebaskan seluruh
Bentuk kehidupan yg tak terbatas.

Sejak saat itu
Meskipun tidur ataupun tak sadar
Kekuatan kebajikannya seluas angkasa
Akan tiada habisnya mengalir."
~Bodhicaryavatara

Apakah itu Sumpah Bodhisatva?
Apakah Anda sudah mengambilnya?
Apakah Anda sudah menjalakannya dg baik?

Minggu, 12 Juli 2015
Puja + Kelas Dharma
Pk 10.00-13.00
Topik: The Bodhisatva Vow
Moderator: Yanto T / Eka Agustian

Mari belajar Vow dg baik dan pastikan dirimu siap menerima inisiasi Wang akhir tahun ini ya.. 😉

Join Us @KCJ 😆😆

Wednesday, March 25, 2015

Review Retret ILF 2014: Instruksi Menyetarakan dan Menukar Diri dengan Mahkluk Lain (Poin Merenungkan kerugian mementingkan diri sendiri & Merenungkan manfaat mementingkan orang lain) 22032015

Pada retret Lamrim Desember 2015 lalu, Rinpoche membahas motivasi agung, yaitu mencapai Kebuddhaan demi kebaikan semua mahkluk Ibu-ibu kita. Setelah menjelaskan manfaat-manfaat menumbuhkan batin pencerahan (Bodhicitta), Rinpoche membahas mengenai bagaimana cara membangkitkan batin pencerahan. Dan pada kelas Review Retret Lamrim minggu ini akan membahas ulang mengenai melatih batin dengan instruksi Menyetarakan dan Menukar diri dengan mahkluk lain.

Instruksi ini berasal dari Arya Santideva. Sehingga Attha membuka kelas dengan menjelaskan sedikit biografi dari Arya Santideva. Siapakah Arya Santideva? Klik di sini.


Instruksi Menyetarakan dan Menukar Diri dengan Mahkluk Lain

Attha membacakan bait pada buku Liberation:
"Batin yang mementingkan diri sendiri paling bertanggung jawab atas semua hal yang tak menyenangkan terjadi pada diri kita. Hal ini termasuk kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap kita, contohnya dengan menggunakan senjata atau racun, begitu juga yang dilakukan kepada kita oleh dewa-dewa duniawi, para naga dan mahkluk hidup bukan manusia lainnya. Bahkan batin yang mementingkan diri sendiri bertanggung jawab ketika kita terlahir kembali di alam-alam neraka, setan kelaparan, atau binatang dan seterusnya, karena semua akibat tersebut disebabkan oleh keyakinan ang jahat bahwa membunuh atau merugkan mahkluk lain, sifat kikir, dan perilaku lainnya yang sejenis, merupakan cara untuk memperoleh kebahagiaan bagi diri kita sendiri."


Tidak ada salahnya kita mencari kebahagiaan, namun yang salah adalah cara mendapatkan kebahagiaan tersebut. Kita salah kaprah menilai sesuatu yang tidak murni sebagai murni, tidak kekal sebagai kekal, dan sebagainya. Batin yang mementingkan diri sendiri ini sangat buruk, buktinya kita masih di dalam samsara, tidak seperti Buddha. Buddha dulunya sama seperti kita, tapi bedanya, Buddha bukan anak-anak lagi. Anak-anak itu memikirkan diri sendiri sehingga masih di samsara. Sedangkan Buddha memikirkan orang lain sehingga bebas dari samsara.

Banyak argumen-argumen yang bisa kita gunakan untuk melawan batin yang mementingkan diri sendiri ini. Batin yang mementingkan diri sendiri ini besar, bulat dan padat. Batin ini yang kita bawa kemana-mana selalu. Jika kita ingin menguranginya, kita harus mempraktikkan instruksi ini. Hal ini bukanlah hal-hal yang sulit dimengerti. Phabongka Rinpoche mengatakan bahwa kesalahan tersebut disebabkan oleh perbedaan persepsi. Diibaratkan dengan di sini dan di situ. Apabila di sini dipindah menjadi di situ, di situ akan menjadi di sini.

Ketika kita belum dapat mempraktikan seluruhnya, ibarat akar yang menjadi obat bukan keseluruhan pohon, hanya mempraktikkan instruksi ini sedikit saya akan memberikan manfaat yang manjur. 

Eka Agustian kemudian menambahkan dengan perumpamaan, kita sangat menyukai suatu makanan tertentu dan sudah 20 tahun tidak memakannya, kita diberikan sepotong makanan tersebut. Kemudian kita bayangkan ada diri kita yang lain di depan kita. Diri kita sendiri. Apakah kita rela memberikan makanan tersebut? Pada dasarnya orang lain sama seperti kita, menginginkan kebahagiaan juga. Jadi mengapa kita begitu mementingkan diri kita sendiri.

Pada kelas selanjutnya, akan dibahas poin-poin ini lebih mendetail.
1. Memeditasikan kesetaraan diri dengan mahkluk lain
2. Merenungkan dalam banyak cara mengenai kesalahan-kesalahan mementingkan diri sendiri
3. Merenungkan dalam banyak cara mengenai manfaat-manfaat mementingkan orang lain

4. Melatih praktik utama menukar diri dengan mahkluk lain

5. Memeditasikan pada praktik memberi dan mengambil




Review Retret ILF 2014: Lanjutan Tujuh Tahap Sebab Akibat & 7 Poin Instruksi Latihan Batin 15032015

Kelas Minggu, 15 Maret 2015,  dimoderatori oleh Attha Suryadharma (ko Attha). Kelas kali ini dimulai dengan perkenalan singkat karena dihadiri beberapa sahabat yang baru hadir di center Jakarta. Mereka adalah Hadi, Santi, dan Anton (dari center Jogya) dan Ratna (dari center Depok)

Seusai perkenalan singkat, Ko Attha pun memulai kelas dengan me-review topik minggu kemarin. Karena ada yang baru hadir maka Ko Attha pun menjelaskan cara penyampaian kelas Dhamma di Center Jakarta. Kelas Dhamma ini mengacu kepada Lamrim sebagai kurikulum. Hal ini dikarenakan Lamrim merupakan intisari ajaran-ajaran Sang Buddha yang telah disarikan dan diurutkan secara sistematis. Lamrim juga bebas dari kontradiksi dan juga sekaligus menghilangkan kesalahpahaman dari mengkotak-kotakan ajaran Sang Buddha.

Ko Attha menjelaskan bahwa kita tidak seharusnya mengagungkan salah satu Kendaraan dan memandang rendah lainnya (Hinayana dan Mahayana) ataupun mengagungkan salah satu topik dalam Lamrim dan memandang rendah lainnya. Sikap ini akan menjadikan kita melakukan kesalahan besar yaitu menolak Dhamma. Kesalahan ini sangat berat konsekuensinya karena untuk bisa menjadi Buddha yang lengkap dan sempurna kita memerlukan keseluruhan tahapan jalan dan Dhamma Sang Buddha untuk melepaskan semua kilesa serta mendapatkan kebijaksanaan superior.

Kenapa Lamrim bisa bebas dari menkotakkan ajaran Buddha? Hal ini dijelaskan bahwa, meskipun Lamrim mengajarkan ajaran Mahayana untuk mencapai kebuddhaan yang lengkap dan sempurna, namun di dalam lamrim juga diajarkan step by step dari ajaran Buddha untuk mencapai pembebasan.

Lamrim memuat 3 motivasi dari seorang yang telah berlindung, yaitu:

1. Motivasi awal;

Seseorang baru disebut sebagai penganut Buddhisme apabila ia telah memiliki motivasi awal. Motivasi ini adalah keinginan bahwa kehidupan mendatang ia ingin lebih berbahagia dari kehidupan saat ini. Sehingga ia tidak hanya memikirkan kehidupan saat ini saja melainkan juga telah memikirkan kehidupan yang akan datang. Dengan memiliki motivasi awal ini, seseorang akan menjaga perilaku dan pikirannya agar kehidupan mendatang bisa terlahir lagi di alam yang bahagia.

2. Motivasi menengah; 

Setelah lebih menyadari bahwa kehidupan mendatang yang lebih baik bukanlah akhir dari samsara, maka mereka yang menyadari hal tersebut melatih diri untuk menolak samsara agar bisa memutus rantai samasara dan mencapai kebebasan pribadi.

3. Motivasi agung; 

Melihat betapa bahagianya pembebasan samsara, beberapa orang memiliki motivasi untuk tidak hanya berjuang membebaskan diri dari samsara melainkan juga bertekad menyelamatkan semua makhluk untuk bebas dari samsara. Pencapaian bagi yang memiliki motivasi agung adalah kebuddhaan yang lengkap dan sempurna untuk kepentingan semua makhluk.

Kemudian Ko Attha menjelaskan bahwa untuk bisa merealisasikan ajaran maka diperlukan perenungan. Karena melalui perenunganlah realisasi baru bisa dicapai. Sehingga kelas di Center Jakarta akan di-combine antara teori dan perenungan.

Ko Attha pun melanjutkan review topik minggu lalu, dimana untuk bisa membangkitkan bodhicitta perlu melatih instruksi “Tujuh Tahap Sebab Akibat” dan “Tujuh Poin Instruksi Latihan Batin”.
Untuk instruksi tujuh tahap sebab akibat, Ko Attha mengulangi lagi poin utamanya yaitu kita harus melatih:
a. Melatih keseimbangan batin
b. Mengenali semua makhluk sebagai ibu – ibu kita
c. Mengingat kembali semua kebaikkan ibu – ibu kita
d. Membalas kebaikan ibu – ibu kita
e. Mengembangkan Cinta kasih dengan menganggap semua makhluk sebagai yang terkasih
f. Mengembangkan welas asih agung

Kemudian Ko Attha membahas poin selanjutnya yaitu Tekad yang luar biasa dan Membangkitkan batin pencerahan. Poin “Tekad yang luar biasa ini” dimaksudkan bahwa kita harus mengambil tanggung jawab untuk menyelamatkan ibu – ibu kita bagaimanapun caranya yang dilakukan sesegera mungkin, bukan hanya sekedar berpikir bahwa kita harus menyelamatkan ibu – ibu kita.

Poin terakhir tentang “Membangkitkan batin pencerahan” menyadarkan kita, setelah kita berani mengambil tanggung jawab (tekad yang luar biasa) untuk menolong ibu – ibu kita, ternyata itu saja tidak cukup. Kita tidak memiliki cara untuk membawa bahkan satu makhluk pun ke kebahagiaan tertinggi. Oleh sebab itu kita perlu mencari siapakah yang mampu, apakah dewa? Ternyata bukan, Arahat, dan Praceka Buddha juga bukan. Bodhisatva pun belum mampu. Hanya Buddha yang tercerahkan sempurna lah yang mampu memenuhi kesejahteraan semua makhluk dengan tanpa upaya. 

Oleh sebab itu pada poin ini kita seharusnya merenungkan kembali aneka macam kualitas yang diperoleh dengan mencapai Kebuddhaan pada topik “Berlindung” agar kita bisa mengembangkan keyakinan yang mendalam bahwa kita mutlak perlu mencapai kemahatahuan agar bisa bermanfaat bagi semua makhluk.

Setelah merampungkan “Tujuh Tahap Sebab Akibat”, Ko Attha melanjutkan ke Tujuh Poin Instruksi Latihan Batin dengan menjelaskan silsilah ajaran ini. Ko Attha mengatakan kita harus berbangga karena silsilah ini dipegang oleh YM Serlingpa Dharmakirti, dimana beliau adalah guru Buddhisme yang merupakan orang Indonesia.

Poin instruksi ini diawali mirip seperti tujuh tahap sebab akibat yaitu kita harus memeditasikan bahwa kita adalah setara dengan makhluk lainnya. Kita harus menyadari bahwa kita dan makhluk lainnya memiliki keinginan yang sama yaitu sama sama ingin berbahagia dan menghindar dari penderitaan.

Instruksi ini dilanjutkan dengan merenengkan kesalahan mementingkan diri sendiri dan merenungkan manfaat mementingkan makhluk lain. Apakah benar bahwa kebahagiaan terkecil yang kita peroleh seperti bisa memperoleh makanan ketika sedang lapar adalah karena batin yang mementingkan makhluk lain?


Mari kita baca buku Pembebasan di Tangan Kita dari halaman 237 – 248 untuk didiskusikan minggu depan.


Tuesday, March 10, 2015

Review Retret ILF 2014: 7 Poin Instruksi Sebab dan Akibat (Cinta Kasih dan Welas Asih Agung) 08032015




“Fake it ‘till you make it...Fake it ‘till you become it” – Jimmy


Pada minggu kedua bulan maret ini, kelas regular kembali mengulas ILF 2014 yang dijalani Desember 2014 lalu. Kelas regular kali ini kedatangan beberapa orang baru, yaitu Siswanto, Aprianti, dan Anita. Jadi untuk memulai kelas, moderator Jimmy dan Eddy Harsono, menanyakan alasan datang jauh-jauh ke center untuk ikut kelas. Beberapa pendapat dikemukakan, dan bermuara pada rasa ingin memanfaatkan lebih ajaran Buddha Dharma yang telah dipelajari. Ko Jimmy mengumpamakan ,untuk mendapatkan pekerjaan yang baik yang dapat memberikan kesejahteraan, kita perlu put a lot of effort pilih jurusan yang baik. Kita harus belajar yang keras, mempersiapkan diri, dan bahan-bahan ketika mau interview, semata-mata supaya user kita kagum dan mengakui bahwa kita mampu di bidang yang kita tekuni tersebut. Tapi, ada hal lain yang kita lupakan, yang sebenarnya jauh lebih esensial, yaitu mengurus batin kita. Kita tidak pernah belajar, siapkan bahan apapun, kalaupun ada hanya sedikit sekali, untuk menghadapi "interview" ujian batin, which is showtime-nya saat kematian datang. Kalau urusan mencari pekerjaan, apabila kita tidak capable, mungkin konsekuensinya hanya tidak dipekerjakan. Namun saat menghadapi kematian, apabila kita tidak mempersiapkannya, kita akan jatuh ke tiga alam rendah. Belajar Dharma secara sungguh-sungguh merupakan cara kita menghadapi kematian tersebut.
Kelas regular kali ini akan melanjutkan pembahasan metode melatih batin menurut Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat dengan sebelumnya mengulang kembali Outline Lamrim agar kita dapat tahu letak persisnya pembahasan hari ini. Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat terdiri dari 8 bagian:

  1. Keseimbangan batin yang tanpa batas,
  2. Mengenali semua mahkluk sebagai ibu-ibu kita,
  3. Mengingat kembali kebaikan semua ibu-ibu kita,
  4. Mengembangkan keinginan untuk membalas kebaikan mereka,
  5. Cinta kasih yang menganggap semua mahkluk sebagai yang terkasih,
  6. Welas asih, 
  7. Tekad yang luar biasa, dan 
  8. Batin Pencerahan

Pada pembahasan sebelumnya oleh Ko Hendra Wijaya, Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat ini telah sampai poin keempat dan akan dilanjutkan poin kelima. Namun, sebelum memasuki poin kelima, ada sebuah pertanyaan mengenai mengingat kembali kebaikan semua makhluk sebagai ibu-ibu kita. Apabila kita dilahirkan sebagai yatim piatu yang tidak mengenal kasih sayang ibu ataupun sebagai anak yang diperlakukan kasar oleh orang tua, untuk ingat kebaikan ibu kita saja sulit lalu bagaimana bisa keinginan untuk membalas kebaikan mereka itu muncul? Betul, akan sangat sulit sekali untuk dapat mengenali kebaikan ibu kita,  namun bukannya tidak mungkin untuk bisa mengenali hingga muncul keinginan untuk membalas kebaikan ibu-ibu kita. Dalam teks, ibu-ibu kita disebut sebagai motherbeings karena para guru besar ingin memudahkan kita mengenali kebaikan semua makhluk, yaitu melalui ibu kita sendiri karena ibu adalah makhluk yang paling dekat, paling sayang kepada kita, dan bersedia mengorbankan apapun, termasuk dirinya, demi kita. Akan tetapi, bukan berarti "ibu" disini hanya terbatas pada ibu kandung yang melahirkan kita. Bisa saja sejak kecil kita diasuh oleh kakak kita, nenek kita, atau orang lain yang bukan ibu kandung kita. Kita juga bisa merenungkan kebaikan yang dimaksud para guru melalui mereka. Dengan cara ini, kita bisa mengingat kebaikan orang sekitar kita dan membangkitkan keinginan untuk membalas kebaikan mereka. Apabila masih belum bisa juga melihat kebaikan-kebaikan tersebut, kita bisa menggunakan metoda “fake it ‘till you make it. fake it ‘till you become it.”. Dengan berpura-pura, diharapkan batin dapat terbiasa hingga ingatan dan rasa ingin membalas kebaikan semua makhluk benar-benar muncul secara spontan.


5)      Cinta kasih yang menganggap semua mahkluk sebagai yang terkasih
  Dengan menjalankan dan memeditasikan 4 poin sebelumnya, cinta kasih akan muncul dengan  sendirinya. Cinta kasih akan menghasilkan 8 keuntungan, yaitu :
a)      Dewa dan manusia akan berteman denganmu,
b)      Dewa dan manusia akan melindungimu,
c)       Engkau akan mendapatkan kesenangan,
d)      Engkau akan mendapatkan banyak kebahagiaan,
e)      Racun tidak akan bisa melukaimu,
f)       Senjata tidak akan bisa melukaimu,
g)      Engkau akan mencapai tujuan-tujuanmu dengan mudah, dan
h)      Engkau akan terlahir kembali di alam Brahma.
6)      Welas Asih
   Di salah satu bait pembuka Pengantar ke Jalan Tengah, Chandrakirti yang agung menuliskan :
Welas asih itu sendiri diketahui sebagai benih dari panen sempurna Para Penakluk,
Air yang membuatnya tumbuh, dan caranya membuahkan hasil--
Memastikan bahwa buah tersebut akan dinikmati dan tetap ada dalam waktu yang lama.
Karena alasan ini, Aku memuji welas asih sejak dari awal
Welas asih sangat penting di awal praktik spiritual bagaikan benih untuk mencapai pencerahan. Welas asih pun penting sebagai penyemangat selama periode menjalankan aktivitas bagaikan air dan pupuk yang membantu benih untuk tumbuh berkembang. Pada akhirnya, welas asih penting diakhir praktik yang berfungsi sebagai suatu cara yang mana semua aktivitas demi semua makhluk dari seorang Buddha berlangsung terus tanpa terganggu.

Kekuatan batin pencerahan kita sepenuhnya ditentukan oleh welas asih kita. Alasan mengapa beberapa Bodhisatwa melewati tingkatan jalan lebih cepat dari yang lain adalah juga karena welas asih yang lebih dalam yang membentuk akar praktik mereka. Sebagai contoh, jika seorang anak akan jatuh ke sebuah lubang api, orang tuanya dengan segera akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mengeluarkannya. Anggota keluarga yang lain atau teman tidak akan melakukan tindakan tersebut secepat mereka. Alasan untuk hal ini adalah karena orang tua mempunyai welas asih yang lebih kuat untuk anaknya daripada yang dimiliki orang lain.

Lalu, apa perbedaan antara cinta kasih dan welas asih? Secara singkat, cinta kasih terbagi menjadi dua, yaitu cinta kasih khusus dan cinta kasih umum. Cinta kasih khusus bisa tumbuh setelah melewati 4 poin diatas. Kemudian muncul welas asih, dimana kita tidak tahan  melihat makhluk lain menderita. Setelah itu, muncul cinta kasih umum, dimana kita ingin membuat makhluk lain bahagia.

Untuk merenungkan kedua poin diatas, teman-teman diminta untuk mengingat kembali penderitaan-penderitaan kecil yang pernah dialami. Kita pasti merasakan tidak nyaman, sedih, dan menderita ketika mengalami penderitaan-penderitaan kecil tersebut dan pasti berharap supaya tidak lagi mengalami penderitaan seperti itu. Perasaan tidak nyaman, sedih, menderita, dan tidak ingin mengalaminya lagi tentu dimiliki oleh makhluk lain seandainya mereka mengalami kondisi yang sama. Dari pemahaman inilah, kita membangkitkan perasaan welas asih, perasaan yang tidak tahan melihat makhluk lain menderita, karena kita sendiri mengetahui persis bagaimana rasa tidak nyaman, sedih, dan menderita tersebut. Lalu, apakah berarti kita harus merasakan semua jenis penderitaan agar kita bisa merenungkan penderitaan semua makhluk? Tentu saja tidak, latihan yang diberikan oleh para guru ini dimaksudkan agar kita bisa melatih batin dan lebih aware terhadap apa itu penderitaan dan apa itu kebahagiaan, jangan hanya berlalu begitu saja tanpa merasakan apapun. Akhir sesi, Ko Jimmy menekankan bahwa perlunya memakai pengalaman diri sendiri untuk dijadikan bahan perenungan.

Wednesday, March 4, 2015

01032015 Review Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim)

"Lamrim itu unik karena merupakan teori-teori yang dapat direnungkan. Untuk meditasi, kita perlu teori. Tanpa teori, apa yang akan dimeditasikan?" ~ Tenzin Chograb



Bulan Maret ini dibuka dengan review Lamrim oleh YM Tenzin Chograb. Melalui kebaikan hati Beliau untuk mengisi kelas Dharma hari itu, warga KCJ diingatkan kembali sampai sejauh mana praktik Lamrim yang telah dijalankan oleh masing-masing individu. Berikut ringkasan review kelas minggu lalu.

Ketiga motivasi Lamrim harus dijalankan bersama-sama, ibarat tiga buah mangkuk, ketiganya harus diisi secara bersamaan.

YM membuka kelas dengan menyebutkan tiga motivasi Lamrim, yaitu motivasi kecil, tengah dan agung. Untuk menjadi seorang Buddhis, minimal kita harus memiliki minimal motivasi kecil, yaitu mempersiapkan kebahagiaan kehidupan mendatang. Sedangkan motivasi tengah untuk terbebas dari samsara dan motivasi akhir untuk mencapai Kebuddhaan demi kebaikan Ibu-ibu kita pun harus perjuangkan untuk kita miliki.

Untuk dapat memasuki jalan mencapai Kebuddhaan, kita harus memiliki Bodhicitta (Batin Pencerahan) terlebih dahulu. Batin pencerahan dapat kita miliki setelah kita membangkitkan keinginan menolong Ibu-ibu kita yang menderita dalam samsara. Inilah yang disebut jalan Mahayana.
Sebelum memasuki jalan mahayana, terlebih dahulu kita harus membangkitkan rasa penolakan samsara. Kita harus menyadari cacat penderitaan samsara. Inilah yang disebut jalan Hinayana.
Sebelum menyadari penderitaan samsara, kita terlebih dahulu harus menyadari bahwa suatu saat kita akan mati dan ada karma yang dapat melemparkan kita ke alam baik ataupun buruk, dan hanya dengan berlindung pada Triratnalah kita dapat menolong diri kita. Di saat inilah kita baru dapat menyebut diri kita sebagai seorang Buddhis.

Kita harus mencari tahu berapa persen kita ingin kehidupan kita yang mendatang untuk bahagia, terbebas dari samsara dan mencapai Kebuddhaan.
.

YM kemudian menerangkan mengenai motivasi awal. Beliau membahas sedikit mengenai karma, alam rendah kematian dan berlindung. Beliau mengingatkan dalam belajar Lamrim, apabila ada topik yang kurang dapat dipahami, misalnya pada bagian kematian datang tiba-tiba, kita harus memperkuat pembelajaran pada topik tersebut.

Apa yang sudah kita kirim ke kehidupan kita yang mendatang?

YM kemudian melanjutkan dengan membahas motivasi tengah. Beliau menanyakan apabila kita diberi pilihan tiket, yaitu tiket ke alam dewa, tiket ke Kebuddhaan dan tiket ke Eropa, manakah yang akan kita pilih?

Ketika kematian, kita akan diuji, apabila masih ada keinginan ke alam dewa, dan kemudian kita terlahir di alam dewa dan tidak bertemu ajaran Buddha, ya sudah, bye-bye. Kalau kita terlahir di Eropa, memang secara lingkungan dan etika masyarakatnya baik, namun sangat sulit mencari Dharma di sana.


"Jika engkau tidak berjuang merenungkan kerugian-kerugian Dukkha,
Tiada aspirasi sejati untuk mencapai pembebasan akan muncul.
Jika engkau tidak merenungkan penyebab Dukkha dan bagaimana mereka mempertahankanmu di dalam samsara,
Engkau tidak akan mengetahui cara memotong akar samsara.
Bangkitkan rasa jijik dan penolakan terhadap samsara
Serta junjunglah kewaspadaan akan apa yang mengikatmu pada samsara.
Yang Mulia Guru telah mempraktikkan dengan cara ini.
Engkau, yang menginginkan pembebasan, lakukanlah hal yang sama!"
~Baris Pengalaman, Jey Rinpoche

Setelah membacakan bait tersebut, YM kemudian menjelaskan macam-macam penderitaan (Dukkha) yang ada dalam samsara, yaitu Dukkha Dukkha, Dukkha Perubahan dan Dukka Berkondisi. Ketika kita sedang menderita memang cukup mudah melihat kita sedang menderita. Namun untuk melihat kebahagiaan dan netral sebagai penderitaan itu sulit. Namun kita tetap harus berjuang untuk melihat segala penderitaan, kenetralan dan kebahagiaan sebagai penderitaan.

Kemudian YM melanjutkan dengan menjelaskan penyebab samsara. Penyebab samsara merupakan Klesha (faktor mental pengganggu) yang melekat batin kita. Dari semua klesha yang menyebabkan kita berputar-putar dalam samsara, ketidaktahuanlah yang merupakan akar dari berbagai klesha. Konsep 'Aku yang berdiri sendiri' ini merupakan ketidaktahuan yang mengikat kita dalam samsara.

Semua mahkluk hidup memiliki klesha yang melekat pada aku. Klesha inilah yang harus disalahkan atas semua keburukan yang dilakukan oleh semua mahkluk. Dari sinilah compassion untuk semua mahkluk memungkinkan untuk tumbuh.
Apabila ada seseorang yang marah pada kita, kita tidak seharusnya marah pada orang tersebut. Karena orang lain juga memiliki marah tersebut. Lantas mengapa kita tidak marah pada orang lain tetapi hanya ke orang tertentu saja? Dan kita pun juga memiliki klesha tersebut. Lantas, wajarkah jika kita marah?

YM kemudian melanjutkan dengan motivasi agung. Kita dikatakan memiliki motivasi agung apabila kita ingin menolong semua mahkluk dengan menjadi Buddha. Selain menjadi Buddha, misalnya menjadi orang terkenal, berarti bukan memiliki motivasi ini.

YM kemudian menyebutkan sedikit mengenai 7 poin instruksi latihan batin, yaitu keseimbangan batin, mengenali semua mahkluk sebagai ibu-ibu kita, mengingat kembali kebaikan ibu-ibu kita, membalas kebaikan ibu-ibu kita, cinta kasih yang menganggap ibu-ibu kita sebagai yang terkasih, welas asih agung, tekad yang luar biasa dan membangkitkan batin pencerahan.

Kita harus menumbuhkan cinta kasih kita pada mahkluk menderita (neraka, peta, binatang), mahkluk yang netral dan mahkluk yang bahagia (dewa, brahma). Mengapa kita juga harus menolong Brahma? Sama halnya dengan dewa yang akan jatruh ke alam rendah setelah karma baiknya habis digunakan untuk menjadi dewa, Brahma juga akan jatuh ke alam rendah ketika menimbulkan pandangan salah terhadap Dharma. Setelah karma baik Brahma habis, ia berpikir bahwa Dharma yang dijalankan salah karena tetap membawanya ke alam rendah, di saat itulah pandangan salah muncul dan melemparkannya pada alam rendah.


Selanjutnya, YM menjelaskan mengenai 6 paramita, yaitu dana, sila, khanti, viriya, samadhi dan prajna.


Sila seringkali dinilai hanya sebagai aturan. Namun sila ini seharusnya dijalankan untuk tidak menyakiti mahkluk lain. Terdapat 3 macam sila, yaitu sila yang menghindari, sila yang mengumpulkan kebajikan, sila yang menolong semua mahkluk.
Sila yang menghindari, antara lain membunuh, mencuri, asusila, bohong, pecah belah, tak berguna, ucapan kasar, niat jahat, pandangan salah.
Sedangkan sila yang mengumpulkan kebajikan dan menolong semua mahkluk dapat ditemukan di Boddhisatwa Vow (Sumpah Boddhisatwa).
Dengan menjaga sila kita dengan baik, kita dapat menjaga diri kita sendiri, seperti pada cerita Jataka mengenai burung yang menghentikan kebakaran hutan karena menjaga silanya tidak melukai mahkluk lain.


Monday, February 16, 2015

15022015 Review Retret ILF 2015: 7 Poin Instruksi Sebab dan Akibat (Mengingat kebaikan Ibu-ibu Kita dan Membalas Kebaikan Ibu-ibu Kita)


Kelas dibuka oleh Ko Hendra Wijaya dengan mengulang 4 bab utama pada Lamrim.
Ia menekankan dalam melakukan meditasi kita harus memiliki modal, yaitu ingatan akan pembelajaran (outline Lamrim, kutipan-kutipan, poin-poin dari guru besar). Dan selama perenungan kita harus menggunakan segala pembelajaran kita untuk menyerang batin kita,seperti gunung yang diserang dari segala arah.
Pada kelas kali ini, dibahas 2 poin instruksi batin yaitu mengingat kebaikan semua mahkluk ibu-ibu kita dan membalas kebaikan semua mahkluk ibu-ibu kita.
Untuk melihat rangkuman pendek review retret sebelumnya, klik di sini.

Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat:


1. Keseimbangan Batin

Memiliki batin seimbang bukan berarti kita melihat semua mahkluk sebagai robot atau menjadi netral terhadap semua mahkluk. Namun kita tidak menimbulkan kemelekatan pada orang yang kita sayangi dan menimbulkan kebencian pada musuh kita. Memiliki beda pendapat tidak dapat terelakan, namun kita tidak perlu menimbulkan ketidaksukaan.
Dan kemudian kita seharusnya bisa menimbulkan rasa sayang kepada mereka semua.

2. Mengenali semua mahkluk sebagai Ibu-ibu kita


Pada poin keseimbangan batin dan mengenali semua mahkluk sebagai Ibu-Ibu kita memang merupakan poin yang tidak mudah untuk direalisasikan. Namun kita tidak boleh tersendat dan tidak maju ke poin selanjutnya, melainkan kita harus tetap berusaha untuk mendapatkan sense terhadap 2 topik awal tersebut, melanjutkan untuk memahami keseluruhan poin ini dan kemudian mengulang kembali dari awal.

3. Mengingat kembali kebaikan semua mahkluk, ibu-ibu kita.

Setelah memahami bahwa semua mahkluk adalah setara dan pernah menjadi ibu-ibu kita dalam kehidupan yang tak terhitung banyaknya, kita harus mengingat kembali kebaikan apakah yang telah mereka lakukan dalam kehidupan ini.
Menjadi Ibu pada kehidupan lalu tidaklah menghilangkan makna akan kebaikan hati yang telah beliau lakukan. Rasa sayang yang kita terima dulu sama dengan rasa sayang yang kita terima saat ini.

Kebaikan yang telah ia lakukan terjadi pada 3 tahap, yaitu:
- Awal: Pada masa ini ia menjaga kita selama 9 bulan dalam kandungan, ia begitu memperhatikan semua gerak geriknya dan makanan yang dimakannya agar tidak membahayakan kita. Ia memakan makanan yang tidak enak demi kesehatan kita. Coba bayangkan, apabila ia menolak untuk memakan makanan tersebut ataupun bertindak ceroboh, mungkin kita tidak dapat memiliki otak yang cerdas untuk mengerti Dharma.
Sebelum kita lahir, ia sudah begitu menyayangi kita. Padahal ia tidak tahu akankah kita terlahir utuh atau cacat, cantik atau jelek, dan apakah akan menjadi orang baik atau jahat.
- Tengah: Setelah kita lahir, kita tidak lebih baik daripada seonggok daging, apabila ia meninggalkan kita sejam atau sehari, kita tidak akan mampu bertahan hidup. Ia membersihkan ingus kita dengan lidahnya karena takut tangan akan terlalu kasar dan melukai kita.
Bayangkan sudah berapa banyak hal buruk yang telah ia lakukan demi kita. Berapa banyak nyamuk yang dibunuhnya demi kita? Berapa banyak ikan atau ayam yang dipotongnya untuk menyediakan makanan segar bagi kita?
- Akhir: Ketika kita sudah besar, ia tetap menjaga dan menyayangi kita. Ia bekerja keras dan menabung untuk mempersiapkan kehidupan rumah tangga bagi putra-putrinya, mengatur pernikahan untuk putra-putrinya, dsb.

Setelah kita memahami dan mendapatkan sense akan kebaikan hati Ibu-ibu kita, kita seharusnya merenungkan kebaikan hati ayah kita dan semua mahkluk yang telah sama baiknya pada kita.

Tidak hanya pada kehidupan ini saja ibu kita baik pada kita. Pada kehidupan lalu, ketika kita menjadi hewan, ibu kita juga menyayangi kita. Ketika terlahir menjadi rusa atau anjing, ia rela menjilati tubuh kita ketika kita lahir. Ketika kita terlahir sebagai burung, ibu kita mencarikan makanan dan menjaga kita dari pemangsa.

Kita harus merenungkan hal ini hingga kita ketika kita melihat seekor semut, kita bisa langsung melihatnya sebagai ibu kita yang sangat baik kepada kita.


4. Membalas kebaikan semua mahkluk, ibu-ibu kita

"Dibuat gila oleh klesha, dibutakan oleh ketidaktahuan,
Dan tersandung pada setiap langkah
Menelusuri jalan setapak yang dipenuhi jurang terjal
Aku dan yang lain selalu berada dalam keadaan tidak menguntungkan
Semua mahkluk juga mengalami keadaan menyedihkan yang berlaku umum ini."
~Rangkuman Latihan

Begitulah keadaan ibu-ibu kita sekarang, dengan beban karma buruk yang siap berbuah dan batin dipenuhi ketidaktahuan, ia siap jatuh ke jurang neraka. Dan karma buruk tersebut dilakukannya karena kita.
Kita yang kini dapat membedakan mana yang baik dan buruk, kita yang mendapatkan keberuntungan untuk bertemu Dharma sejati, tegakah kita membiarkan ibu kita disiksa di neraka?
Kita harus memeditasikan: "Karena saat ini saya memiliki cara menyelamatkan semua mahkluk, ibu-ibuku, yang telah jatuh ke dalam pusaran besar samsara, makan sangatlah kejam dan keji jika saya tidak melakukannya. Adalah kewajibanku untuk menyelamatkan semua mahkluk, ibu-ibuku."


5. Cinta kasih yang menganggap semua mahkluk sebagai yang terkasih


6. Welas kasih yang agung


7. Tekad yang luar biasa

Wednesday, February 11, 2015

08022015Review Retret ILF 2015: 7 Poin Instruksi Sebab dan Akibat (Keseimbangan Batin dan Mengenali Semua Mahkluk sebagai Ibu-ibu Kita)

Pada kelas reguler bertemakan review retret Lamrim Desember 2014 dimoderatori oleh Hendra Wijaya atau biasa disebut dengan Ko Bule. Kelas kali ini membahas mengenai Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat.

Hendra Wijaya menekankan bahwa warga KCJ yang telah belajar lama, bukan hanya belajar saja, namun sudah memasuki tahap merenung dan meditasi. Namun untuk dapat memasuki tahap tersebut, kita harus sudah menguasai pembelajaran atau sudah menghapal.


Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat:


1. Keseimbangan Batin

Kita memulai dengan memeditasikan orang yang netral, orang yang kita suka dan kemudian orang yang kita benci.
Sebagai contoh, ketika melihat seseorang dari belakang, kita hanya bisa melihat punggungnya dan ketika itu batin mungkin masih netral. Namun ketika dia berbalik, apabila cantik akan menimbulkan rasa suka, namun apabila jelek, akan menimbulkan rasa tidak suka.

2. Mengenali semua mahkluk sebagai Ibu-ibu kita

"Jika kita mencoba menghitung silsilah kita dengan butiran tanah, seukuran jintan saru, seluruh bumi tidak akan mencukupi."
 ~Surat kepada seorang Sahabat

Setelah menganggap kita memiliki keseimbangan batin, kita memasuki tahapan selanjutnya yaitu 'semua mahkluk sebagai ibu-ibu kita.' Namun apakah hal itu memungkinkan?

Phabongka Rinpoche menjawabnya di dalam "Pembebasan di Tangan Kita."
- Kita harus yakin bahwa ada kesinambungan dari momen ke momen
- Momen-momen sebelumnya ini meyakinkan kita akan adanya kehidupan lampau
- Karena momen sebelumnya itu pasti, berarti tidak ada namanya momen pertama
- Karena tidak ada momen pertama maka tidak ada awal dari kelahiran
- Karena tidak ada awal maka kita telah lahir tak terhingga banyaknya
- Jumlah kelahiran kita lebih besar dari jumlah mahkluk di alam semesta
- Di setiap kehidupan lampau, kita memiliki ibu yang sayang kepada kita
- Kita telah lahir dari ibu-ibu tersebut berulang-ulang kali karena jumlah kelahiran kita yang lebih banyak dari jumlah semua mahkluk

Maka dari itu, semua mahkluk pasti pernah menjadi ibu-ibu kita. Karena itu kita harus mengenali mereka sebagai ibu kita dan membangkitkan tekad untuk menolong mereka. 




3. Mengingat kembali kebaikan semua mahkluk, ibu-ibu kita.


4. Membalas kebaikan semua mahkluk, ibu-ibu kita


5. Cinta kasih yang menganggap semua mahkluk sebagai yang terkasih


6. Welas kasih yang agung


7. Tekad yang luar biasa


01022015 Kelas Reguler: Perkenalan KCJ & Buddhism


Bulan Februari yang biasa dikenal dengan bulan cinta kasih, diawali dengan hujan yang mengguyur Jakarta dengan lebat.
Hujan merupakan sebuah berkah, namun di sisi lain menjadi penghalang bagi warga KCJ untuk datang mengikuti kelas hari itu.
Namun kita harus turut gembira, di hari yang sulit tersebut KCJ kedatangan 3 orang tamu dari Universitas Tarumanegara (UNTAR) dan Bina Nusantara (Binus). Jumlah ini memang berbeda dari yang direncanakan. Namun antuasiasme mereka untuk mengikuti sharing hari itu patut diacungkan jempol.

Tim Sumartikirti menyiapkan sebuah tema spesial dihari itu, yaitu Perkenalan KCJ dan Buddhism.

Salah satu hal yang cukup mengena adalah ketika pembahasan tentang Buddha, berikut rangkumannya.

Siapakah Buddha?

Sebuah pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui jawabannya.

Ada 3 macam Buddha yang kita kenal, siapa saja?
Samma Sambuddha; dapat mengajar dan yang diajar dapat mencapai pencerahan
Pratyeka Buddha; mencapai pencerahan sendiri, tidak dapat mengajar  
Sravakha Buddha (Arahat); tidak dapat mencapai pencerahan sendiri (butuh Guru), tidak dapat mengajar

Untuk dapat mencapai pencerahan dengan mendengar ajaran Buddha, kita wajib bertemu dengan Samma Buddha. Samma Buddha selanjutnya adalah Buddha Maitreya yang datang masih berjuta-juta tahun lagi. Kalau begitu, untuk apa kita sulit-sulit menjadi Buddhis? Toh, kita tidak dapat mencapai pencerahan juga sampai saat Buddha Maitreya tiba.

Jawabannya adalah kita memastikan diri kita dapat menjadi manusia yang memiliki keberuntungan. Kita tidak menjadi seekor nyamuk, mahkluk peta, mahkluk neraka ataupun dewa, melainkan menjadi manusia. Manusia yang lahir di belahan bumi yang sama dengan Buddha Maitreya.

Menjadi manusia yang beruntung itu sangat tidak mudah, kita butuh karma bajik yang sangat kuat dan banyak, serta butuh segala pencapaian yang siap matang. Seorang arahat yang hari itu dicerahkan oleh Buddha Sakyamuni bukanlah seseorang yang tidak pernah mencapai pencapaian apa pun di kehidupan sebelumnya. Dia telah beratus-ratus kehidupan bermeditasi. Dan saat bertemu Buddha, disanalah pencerahan itu matang.

So, pastikan dirimu memiliki cukup kebajikan untuk bertemu Buddha Maitreya ya!


Friday, August 22, 2014

KCJ in Dirgahayu Indonesiaku 69

Minggu, 17 Agustus 2014 merupakan hari yang spesial karena Indonesia berulang tahun ke 69.
Pada hari itu warga KCJ mengadakan kelas seperti biasa dengan topik Outline Lamrin dimoderatori oleh Attha SD.

Namun didukung oleh semangat perjuangan, mereka mengadakan lomba makan kerupuk!

Mari kita cek foto-fotonya.









Lomba makan kerupuk dimenangkan oleh....

Semuanya!
Karena semua jago makan! xp

 

Selwee kemenangan!!



Salam 3 jari! Persatuan Indonesia! Demi Indonesia yang lebih baik!



Hormat Indonesiaku! Jaya Indonesiaku!

Sunday, April 13, 2014

We have new Omzey!!

Minggu, 6 April 2014 lalu KCJ melakukan kelas rutinnya dimulai pukul 10.00 dengan puja.
Omzey baru kita yaitu William Wijaya, dewa bumi yang baru memimpin puja dengan merdu. Rejoice!

Kelas minggu ini kita membahas mengenai riwayat hidup Buddha Sakyamuni.
Walau mungkin kita sudah pernah mendengarnya, tapi ada beberapa hal yang kita perlu ingat-ingat kembali seperti perjuangan beliau yang bertapa ekstrim selama 6 tahun demi menyelamatkan kita semua.
Betapa baik luar biasa Guru kita...