Showing posts with label Kadam. Show all posts
Showing posts with label Kadam. Show all posts

Tuesday, August 25, 2015

Selamat Ulang Tahun Y.M. Tenzin Kunchog

Pada tanggal 14 Agustus 2015, bertepatan dengan diadakannya Sojong di Kadam Choeling Jakarta, Anggota KCJ berkesempatan untuk merayakan bersama ulang tahun Y.M. Tenzin Kunchog. Setelah selesai Sojong sekitar pukul 22.00, kue ulang tahun yang telah dipersiapkan sebelumnya dibawa masuk ke Hall beserta lilin-lilin yang menyala terang. Diiringi lagu “Selamat Ulang Tahun”, Y.M. Tenzin Kunchog memanjatkan doa di hari ulang tahunnya.
Sebelum tiup lilin, tidak lupa kami wefie bersama di momen berbahagia ini. Teriring doa kami untuk Y.M. Tenzin Kunchog, semoga aspirasi dan cita-cita Beliau dapat cepat tercapai dan halangan-halangan diminimalisir, api yang menyala-nyala diatas kue ditiup disertai tepuk tangan yang bersahut-sahutan. Acara ditutup dengan membagi-bagikan kue untuk disantap bersama-sama.
Sampai ketemu lagi di momen-momen berbahagia KCJ berikutnya.

Meditasi itu….

Artikel ini ditulis pada tanggal 11 Agustus 2015

Sesekalinya berada di tengah pusat perbelanjaan, ada satu hal yang tertangkap cukup sering, yaitu tas gym. Kebetulan pada tas tersebut terdapat nama gym yang bersangkutan, sehingga saya bisa menyimpulkan ya, ini tas gym, bukan sekedar tas pada umumnya. Karena penasaran lalu mencari tahu lebih lanjut tentang gym dan fitness dari kenalan yang kebetulan juga punya tas yang sama. Jadi kita membayar sejumlah tertentu uang kepada gym, lalu kita menjalani serangkaian latihan, dipandu instruktur, lalu pakai alat A, B dan C, lalu selesai, lelah, pegal, pulang, lalu di jam dan hari yang lain melanjutkan latihan. Keluarannya suatu saat di masa mendatang adalah mungkin lebih kurus, lebih berisi, tubuh lebih estetis, mungkin. Sederhananya, ada niatan ‘tuk menjalani latihan, ada suatu disiplin, ada uang, waktu, dan tenaga yang dikerahkan, sehingga ada keluaran yang diperoleh dari upaya.

Tadi itu bicara olah fisik. Untuk olah mental, meskipun tidak ada gym khusus mental atau setidaknya yang terang-terangan deklarasi, upaya untuk mengolah mental juga cukup banyak. Ini dapat dilihat dari banyaknya berbagai buku bergenre self-help, berjudul ‘rahasia’, sup ayam, 4 kebiasaan, 6 kebiasaan, mungkin kelak 100 kebiasaan seiring waktu. Juga banyak seminar motivasi, pelatihan-pelatihan memprogram pikiran (bukan hipnotis), dan sebagainya. Secara garis besar polanya mirip dengan fitness, bayar uang sejumlah tertentu, dipandu, ada tahapan, harus ini dan itu, dan seterusnya. Sang Buddha juga sejak 2500-an tahun lalu juga sebenarnya sudah meresepkan hal yang sama, bedanya adalah tanpa biaya. Mungkin karena kalah dalam iklan dan kampanye, Ajaran Buddha dan Guru Besar Buddhis  tentang meditasi tidak menjadi best seller atau sesuatu yang happening di korporat.

Meski beda secara biaya, secara pamor, metode, dan nilai, antara meditasi dan seminar maupun training motivasi dan sebagainya itu, tetapi mereka melihat kesamaan bahwa pikiran dan batin adalah aset yang harus diolah. Tapi kenapa saya memilih Meditasi Buddhis di antara semua pendekatan tersebut, adalah karena jurus olah batin ala Buddha lah yang menyelesaikan masalah tanpa masalah yang berfungsi juga untuk kehidupan mendatang; selain juga karena saya seorang Buddhis atau paling tidak beratribut Buddhis maka saya berpihak, esprit de corps, dan seminimalnya karena saya diminta menulis artikel tentang Meditasi Buddhis dan ditagih.

Meditasi Buddhis juga seperti halnya fitness memiliki suatu disiplin tertentu, menjalankannya secara serampangan akan menimbulkan efek samping kebosanan, kapok, atau malah kebal atau bebal terhadap efek meditasi alias batin membatu tak bisa berubah; kita yang berumur 30 tahun akan tetap memiliki batin kita yang 10 tahun, semacam itu kurang lebih. Sesi meditasi yang ideal dijelaskan dalam kitab suci adalah 4 sesi, subuh, pagi, siang, dan malam sebelum tengah malam. Durasinya, Yang Mulia Kamalasila menjelaskan, adalah satu jam, atau setengahnya, atau lebih sedikit lagi selama kita masih bersemangat; sehingga ketika berhenti dari meditasi kita berhenti dengan impresi yang baik terhadap meditasi, bukan sebaliknya, muak dan di kemudian hari melihat bantalan meditasi sebagai momok seram.

Bagaimana bermeditasi diajarkan dalam Gomchen Lamrim atau karya Lamrim lainnya adalah objek meditasi harus ditetapkan terlebih dahulu, begitu juga urutannya, tidak boleh ada penambahan atau pengurangan, dan seterusnya. Merujuk daripada instruksi ini, maka sebelum bermeditasi, kita harus terlebih dahulu kenal dengan objek meditasi, dan setidaknya punya familiaritas tertentu sehingga tidak melupakannya di tengah meditasi kita. Dengan demikian, ini menjelaskan mengapa studi-kontemplasi-meditasi merupakan urutan penting dalam menjalankan meditasi. Kebutuhan studi sangat mendesak karena begitu banyak pilihan objek meditasi yang masing-masing punya TUPOKSI-nya masing-masing untuk mengatasi kilesha tertentu agar mencapai tujuan. Untuk semakin memperkuat lagi perlu dan mendesaknya belajar demi mendukung meditasi, mengutip nasehat Buddha dalam Sutra Sadhnirmochana:
“… Para Bodhisattva ini harus mendengarkan Ajaran-ajaran ini dengan benar, mengingat isinya, melatih pelafalan lisan, dan menganalisanya secara seksama. Dengan pemahaman sempurna, mereka harus pergi ke tempat terpencil seorang diri dan merenungkan Ajaran-ajaran ini serta memusatkan perhatian pada Ajaran tersebut secara terus-menerus…”

Jika seorang Bodhisattva saja juga harus belajar, apalagi saya, dan mereka, dan anda yang seperti saya? Maka sungguh luas dan mendalam nasehat Yang Mulia Suhu Bhadraruci, Butuh Banyak Belajar Biar Bisa Bantu Banyak Orang (B7O).

Berikutnya, yang merupakan tombol start untuk meditasi adalah niat (‘tuk bermeditasi). Untuk menumbuhkan niat bermeditasi, mengetahui manfaat dari meditasi adalah penting, dan agar manfaat tersebut bisa relevan maka kita memerlukan ketertarikan antara batin dan kehidupan kita. Alexander Berzin menjelaskan bahwa, “kita bukan seorang korban dari apapun yang dilemparkan oleh kehidupan kita. sebaliknya kita berperan sentral pada apa dan bagaimana kita mengalami kehidupan kita… untuk melakukanya kita harus tahu bagaimana cara kerja batin kita.” Begitu kita bisa menempatkan batin posisi awalnya yang adalah pusat kehidupan kita, barulah manfaat meditasi bisa relevan bagi kita. Tanpanya, bisa jadi meditasi menjadi sekedar olahraga, olahraga diam dalam hening sambil bersila.

Akhir kata, seperti halnya ketika fitness, anda juga butuh seorang instruktur, sama halnya dan apalagi dalam meditasi juga butuh pemandu. Makanya Lamrim mengatakan guru spiritual adalah Akar dari Sang Jalan.
Sarva Manggalam [tk]

Keagungan Ajaran

 Artikel ditulis oleh Attha Surya Dharma, 23 Juli 2015 

Dharma ini lebih baik, yang ini kurang baik. Dharma yang ini yang harusnya aku praktikkan, Dharma yang itu aku tidak dapat terima dengan akalku. Praktik Dharma ini superior, aku harus menjalankan yang ini saja, dan tidak membuang waktu lebih banyak terhadap praktik yang lain (yang lebih inferior). Ketika kita tidak dengan cara yang baik mengerti suatu Dharma, akan sangat mudah muncul pemikiran-pemikiran demikian, yang membuat Dharma yang kita pelajari menjadi percuma (malah akan berakibat negatif)  karena kesalahan kita sendiri membangkitkan pikiran yang tidak bajik. Namun dengan metode Lamrim, Jalan Bertahap Menuju Pencerahan, kita akan dapat mengerti bagaimana keseluruhan Teks Dharma ini berkaitan satu sama lainnya dalam kesatuan sistem yang koheren (logis dan masuk akal).

Apakah yang disebut dengan Ajaran? Disini, Ajaran yaitu Dharma dalam bahasa sansekerta, atau Dhamma dalam bahasa Pali, atau Cho dalam bahasa Tibet, merujuk kepada teks akar dari Instruksi Pelita Sang Jalan menuju Pencerahan oleh Atisha. Menurut sumber Teks Instruksi Guru Yang Berharga, ada empat bagian untuk menjelaskan kualitas unggul dari ajaran Lamrim. Dengan belajar dan mempraktekkan Lamrim:
  1. Kita akan memiliki kemampuan untuk memahami bahwa semua Ajaran Buddha bebas dari pertentangan
  2. Semua literatur akan terlihat sebagai Instruksi untuk berlatih/berpraktik Dharma
  3. Kita dapat dengan mudah mengerti maksud dari Sang Penakluk, dalam artian kita dapat mencapai tahapan jalan karena luasnya Dharma Sang Buddha telah diorganisasikan dalam satu sistem yang koheren
  4. Dengan secara alami kita akan terbebas dari kesalahan besar mengabaikan/menolak dharma

Mari kita memulai dengan membahas poin yang pertama, bahwa (1) tidak ada pertentangan di seluruh Ajaran Buddha. Bagian ini amat penting dan sering kita jumpai di sekitar kita, bahwa yang mempercayai Tipitaka pali, menyatakan bahwa Tripitaka sanskrit tidak valid, juga demikian sebaliknya. Hal ini kerap terjadi jika kita gagal melihat Ajaran Buddha adalah tanpa pertentangan. Bila kita mempelajari asal usul Ajaran Buddha, dan darimana suatu Tripitaka itu disusun dan ditulis oleh Guru-guru masa lampau, kita akan mengenali bahwa sebenarnya Sang Buddha mengajarkan Dharma kepada murid-muridnya atas dasar kapasitas seorang murid, bukan berdasarkan apa yang Beliau ketahui. Sang Buddha amat mahir dalam mengajar, Beliau dapat mengajar dalam satu sesi Ajaran Dharma kepada berbagai jenis kapasitas manusia. Bila kita mengingat kualitas ucapan Sang Buddha, bahwa Sang Buddha dapat menjawab berbagai pertanyaan berbeda dari semua makhluk di alam semesta dalam satu waktu yang sama dengan pernyataan tunggal yang akan didengar oleh setiap makhluk tersebut dalam bahasa mereka masing-masing dan dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing (Liberation In Our Hand Jilid 2, hal 293).  

Sang Buddha memutarkan tiga roda Dharma selama hidupnya, yang dari situ dapat kita golongkan menjadi tiga kendaraan, yaitu Hinayana, Mahayana, dan Tantrayana. Mereka dapat saja terlihat tidak konsisten bila kita melihat hanya dipermukaannya, dikarenakan Buddha mengajar hal yang berbeda dalam waktu yang berbeda tergantung pada apa yang cocok pada seorang murid, namun karena semua Ajaran yang berbeda ini adalah tujuannya untuk mencapai ke kebuddhaan yang lengkap dan sempurna, maka tidak ada kontradiksi diantara Ajaran Buddha ini. Je Rinpoche juga menyebutkan dalam Risalah Agung Tahapan Jalan Mantram, “Dari berbagai arah banyak sungai yang mengalir ke lautan luas”.

Cara untuk memahami bahwa semua Ajaran Buddha adalah bebas dari pertentangan adalah dengan bertumpu kepada Guru yang Suci untuk mendapatkan pemahaman yang kokoh bahwa semua kitab adalah sebab untuk seseorang mencapai pencerahan, baik itu ajaran Hinayana, Mahayana, ataupun Vajrayana. Setelah hal ini, tidak akan terlihat mana perbedaan diantara ketiganya, kita akan mengembangkan rasa hormat yang setara kepada mereka semua. Dengan cara ini, juga kita dapat memulai memilih yang mana yang sesuai bagi kita untuk dipraktikkan. Tentu saja, banyak diantaranya yang diri kita belum siap untuk mempraktekkan suatu Instruksi, namun terhadap Instruksi yang kita belum mampu ini, adalah hal yang baik jika kita tidak bersikap “menolak/meninggalkan” Instruksi Dharma tersebut sama sekali, melainkan kita dapat berpikir “Walaupun saat ini saya belum dapat melakukan (Instruksi tersebut), saya berdoa suatu waktu nanti saya dapat melaksanakan praktik tersebut dan meninggalkan hal-hal yang negatif, dan semoga hal ini terjadi sesegera mungkin” hal ini akan menjadi sebab (sebagai pengakumulasian kebajikan dan menghancurkan penghalang melalui praktik pengakuan dan purifikasi) untuk mendapatkan kualitas batin yang sesuai untuk mempraktikkan hal-hal yang belum dapat kita praktikan sebelumnya.    

Hal kedua yang menjadi keunggulan metode Lamrim ini adalah, (2) dapat melihat Ajaran sebagai Instruksi pribadi. Mengapa Instruksi pribadi? Mari kita ambil contoh, bahwa Dharma ini adalah sebagai obat. Obat dari dokter (yaitu Sang Buddha) yang dapat mengobati penyakit (kilesha) dari seseorang, agar seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan lepas dari penderitaan. Serupa dengan ketika kita sakit demam, sang dokter akan menginstruksikan kita untuk meminum obat sesuai anjuran, dengan berbagai macam metode yang harus dilakukan dan harus di pantang (semisal tidak boleh minum es dan harus istirahat total). Demikian juga yang seharusnya terjadi, Dharma tersebut haruslah berupa Instruksi yang jelas dan tepat mengenai apa saja yang harus kita lakukan untuk melatih batin kita agar kita dapat mencapai kebahagiaan dan bebas dari penyakit.

Secara umum, kedamaian nirvana, dan juga segala bentuk kebahagiaan dan keuntungan sementara hanya dapat ditemukan dalam Kitab Sang Buddha. Hanya ketika seseorang bebas dari segala kebingungan, dapat menunjukkan kepada kita yang mana yang seharusnya dipraktikkan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Kumpulan dari Instruksi-instruksi Buddha ini, terdapat pada Sutra dan Tantra. Namun seiring dengan berlalu waktu, dan mulai merosotnya kebajikan manusia (dibandingkan dengan waktu Sang Buddha masih hidup dan mengajar), maka mulai banyak murid yang tidak dapat melihat kata-kata Buddha di dalam kitab suci ini sebagai Instruksi. Maka dari itulah Guru-Guru Agung seperti Guru Atisha, Guru Je Tsongkhapa dan lainnya, menyusun ulasan dari kata-kata Buddha tersebut untuk mengklarifikasi maksud dari Sang Buddha dan mentransmisikan Instruksi pribadi kepada murid-muridnya. Tanpa ulasan tersebut kita tidak akan dapat (amat sangat sulit) untuk mengerti secara akurat ajaran Buddha yang amat luas. Jika kita merasa setelah mempelajari sutra dan ulasan namun menemukan bahwa yang kita pelajari adalah tidak berguna untuk praktek kita sendiri, berarti kita sudah jatuh pada kesalahan bahwa kita gagal memahami ajaran Buddha sebagai instruksi pribadi yang harus kita jalankan. Mengutip perkataan dari Dromtonpa, “Jika, setelah mempelajari begitu banyak Dharma, kamu merasa butuh mencari kumpulan lain dari ajaran untuk dipraktekkan, maka kamu telah melakukan semuanya salah”. Hal ini digambarkan juga seperti layaknya kuda pacuan, ketika sebelum perlombaan, adalah baik untuk seekor kuda pacuan untuk mempelajari lintasan yang akan diperlombakan. Namun, adalah hal yang amat bodoh, ketika kita melatih kuda pacuan di suatu lintasan, lalu melombakannya di lintasan yang berbeda. Dan kesalahan ini adalah hal-hal yang akan dihalau dengan mempelajari metode Lamrim, kita akan mempelajari dan menemukan bahwa setiap topik dari Lamrim itu adalah merupakan Instruksi, mengenai hal-hal apa saja yang seharusnya kita akumulasikan, dan hal hal apa yang seharusnya kita tanggalkan, hal-hal apa saja yang seharusnya setelah dipelajari, lalu direnungkan, dan kemudian dimeditasikan.

Keagungan ketiga dari Lamrim adalah, (3) Dapat dengan mudah memahami maksud dari Sang Penakluk. Ajaran Buddha, yang terdiri dari Sutra dan Tantra adalah sangat teramat luas. Dalam Tripitaka terjemahan Tibet saja ada 100 volume lebih, lalu dari volume tersebut meliputi berbagai macam topik-topik yang berbeda tingkat kesulitannya, namun dari apa yang kita pelajari, semua hal ini adalah merujuk pada tujuan utama yaitu membimbing murid menuju pencerahan. Adalah teramat sulit bagi kita untuk mempelajari keseluruhan Dharma Sang Buddha tersebut, bahkan untuk seorang murid yang amat cemerlang sekalipun, akan membutuhkan waktu yang lama, usaha yang besar, dan juga tantangan yang luar biasa besar untuk menguasainya.

Inilah yang menjadi tujuan dari metode Lamrim, untuk mempermudah diri kita untuk dapat secara cepat dan mudah untuk mengerti dari arti yang sebenarnya dari Tripitaka. Bagaimana ini mungkin? Guru Atisa telah mengelola seluruh ajaran Buddha yang sedemikian luasnya, menjadi suatu bentuk tahapan jalan untuk individu dalam tiga jenis praktisi. Beliau menjelaskan setiap tahapan jalan tersebut, kita sang murid dapat mempelajari penjelasannya, merenungkannya, dan kemudian merealisasikannya. Dengan cara ini, Tradisi Lamrim, dapat dikatakan mengumpulkan seluruh Ajaran Buddha, dan kemudian memeras intisari dari Ajaran Buddha tersebut dan menyusunnya menjadi sistem yang bertahap, mulai dari bagaimana kita seharusnya belajar Dharma, bertumpu kepada Guru, sampai ke pencapaian kebuddhaan.

Poin keempat dari Keagungan Ajaran Lamrim adalah, secara otomatis kita akan terhindar dari kesalahan besar (menolak Dharma). Kesalahan dari menolak Dharma adalah sangat berat, dan merupakan salah satu kesalahan yang paling berat. Apakah yang disebut menolak Dharma? Ini adalah keyakinan/kepercayaan bahwa beberapa Ajaran Buddha harus dipraktikkan, dan yang lainnya harus dijauhkan (tidak dipraktikkan). Tsongkhapa menjelaskan dalam Sarva-vaidalya-samgraha-sutra:

Manjushri, karma penghalang dari menolak Dharma yang suci adalah sangat halus. Manjushri, siapa pun yang menganggap satu bagian dari kata-kata yang diucapkan Tathagata adalah baik, dan bagian lain adalah buruk adalah menolak Dharma. Siapapun yang menolak Dharma, maka ia mencela Tathagata dan menjelekkan Sangha dengan melakukannya. Dengan mengatakan, “Ajaran ini sesuai, Ajaran itu tidak sesuai,” seseorang sudah menolak Dharma. Dengan mengatakan “Ini diajarkan untuk para Bodhisatva; yang itu diajarkan untuk Sravaka.”seseorang telah menolak Dharma. Dengan mengatakan, “Ini diajarkan untuk Pratyeka Buddha,” seseorang telah menolak Dharma. Dengan mengatakan, “Ini bukanlah latihan untuk Para Bodhisatva,” seseorang telah menolak Dharma.

Berdasarkan bait tersebut, jika kita menolak Dharma, maka secara tidak langsung kita telah menolak juga ketiga Ratna; Buddha, Dharma, dan Sangha. Di satu sisi, jika kita melihat pernyataan tersebut, benar adanya merupakan pembedaan tingkat latihan, namun di sisi lain itu adalah merupakan keberpihakan yang salah arah. Salah arah disini dikarenakan semua Ajaran yang berbeda tersebut seharusnya mendapatkan perhatian yang sama karena membimbing individu menuju pencerahan. Masalah berikutnya muncul ketika kita sudah salah arah, kita akan memiliki anggapan bahwa, yang ini lebih baik dari yang lain, keberpihakan kita memungkinkan kita jatuh kepada penolakan terhadap ajaran yang inferior.

Ketika seseorang memulai untuk belajar Dharma adalah sangat mudah untuk jatuh kepada pemikiran: “Ajaran ini superior, ajaran itu inferior. Yang ini lebih baik, yang itu lebih buruk. Yang ini Mahayana, aku seharusnya berpraktik Mahayana. Aku seharusnya berpraktik Hinayana.” Dengan mempelajari ini (metode Lamrim) ketika kita mengingat bahwa ini adalah suatu hal yang buruk, maka kita dapat menghindari untuk berpikir/berpendapat demikian. Seberapa besarkah karma buruk yang dihasilkan oleh menolak Dharma?

Sutra Raja Konsentrasi mengatakan, “Karma negatif dengan menghancurkan seluruh stupa di Jambudvipa tidak akan seberat karma negatif yang dihasilkan dari menolak Dharma. Dalam cara yang sama, bahkan karma dari membunuh Arahat yang sejumlah pasir di Sungai Gangga tidak akan seberat karma negatif dari menolak Dharma.” Karma negatif yang dihasilkan amat-teramat berat, terutama dikarenakan karma negatif dari menolak Dharma adalah semakin menjauhkan kita dari pencapaian kebuddhaan, dibandingkan kedua aksi karma buruk tersebut. Karma menghancurkan stupa atau membunuh Arahat suatu saat akan habis dan kita dapat berpraktik Dharma kembali. Namun dengan penolakan Dharma yang kuat, maka kita tidak akan pernah mencapai realisasi dari topik Dharma yang kita tolak (mengingat kita membutuhkan semua realisasi Dharma untuk mencapai kebuddhaan).

Lalu, bagaimana kah cara menghindarinya? Pertama-tama kita harus mengingat kedua Keagungan pertama dari metode Lamrim. Bahwa Keagungan karena tidak ada pertentangan di dalam semua Ajaran Sang Buddha, dan melihat semua Teks sebagai Instruksi pribadi. Ada terdapat analogi dari buku-buku Lamrim, mengenai hal ini yang dikaitkan dengan masakan. Ketika kita mempersiapkan suatu masakan yang lezat, maka kita membutuhkan bahan-bahan makanan tertentu: air, garam, bumbu-bumbu, beberapa jenis sayuran dan daging. Setiap bahan makanan tersebut berkontribusi terhadap rasa dan esensi dari makanan itu, kita tidak dapat meninggalkan bahkan satu jenis bahan makanan tersebut, atau rasanya akan berbeda! Dengan cara serupa, semua ajaran Buddha diperlukan untuk mencapai penerangan Sempurna, melalui praktik dari tradisi lamrim ini, kita akan mengerti keseluruhan teks dharma, apa artinya, tujuannya, dan bagaimana mereka melengkapi satu sama lain. Kita akan dapat melihat semua teks sebagai setara, jadi kita akan menghargainya, menghormatinya, dan memuliakannya sebagai metode untuk kita sendiri, untuk berlatih menuju pencerahan sempurna.

Friday, January 30, 2015

8 Simbol Keberuntungan

Kepada Buddha, Dharma, dan Sangha yang mulia
Aku berlindung hingga aku mencapai pencerahan
Dengan praktik berdana dan kebajikan lain yang kulakukan
Semoga aku dapat segera mencapai pencerahan yang lengkap dan sempurna bagi kepentingan semua makhluk.

Hai Pembaca!

Apakah Anda tahu mengenai 8 simbol keberuntungan? Pernah melihatnya? 

Pada kesempatan ini, saya akan mengulas makna dari 8 simbol tersebut untuk menambah wawasan kita.
8 simbol keberuntungan atau dikenal dengan Ashtamangala (Sansekerta) atau བཀྲ་ཤིས་རྟགས་བརྒྱད (baca: tashee-tag-gyay) dalam bahasa Tibet atau 吉祥八宝 (baca: Jíxiáng bā bǎo) dalam bahasa Tiongkok terdiri dari: payung berharga, sepasang ikan mas, vas berharga, bunga teratai, kerang putih berulir ke kanan, simpul yang tak berujung, panji kemenangan, dan roda emas.

Dalam Buddhisme, 8 simbol keberuntungan ini merupakan representasi persembahan yang diberikan oleh para dewa tepat setelah Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan. Dewa pertama adalah Dewa Brahma yang mempersembahkan roda emas berjeruji seribu sebagai permohonan kepada Buddha untuk memutar roda Dharma. Dewa berikutnya adalah Dewa Indra yang mempersembahkan cangkang kerang putih yang berulir ke kanan sebagai simbol proklamasi Dharma. Kemudian disusul oleh Dewi bumi Sthavara (Tib. Sayi Lhamo) yang mempersembahkan vas emas yang terisi penuh dengan nektar kehidupan abadi.

Terus, apa sih makna dari kedelapan simbol ini.
Yuk kita simak!

1.       Payung Berharga (Skt. Chattra; Tib. Rin-chen-duke)

Payung menyimbolkan aktivitas bajik dari memberikan perlindungan kepada semua makhluk atas penderitaan, hawa nafsu, halangan, penyakit dan kekuatan lainnya yang merusak.


2.       Sepasang Ikan Mas (Skt. Suvarnamatsya; Tib. Sair-nyah)

Simbol sepasang ikan mas berasal dari jaman sebelum Buddha yang melambangkan dua sungai suci utama di India yaitu sungai Gangga dan sungai Yamuna.
Dalam Buddhisme Tibet, ikan yang berenang bebas di air dijadikan simbol kesukacitaan akan kebebasan tanpa rasa takut. Air atau lautan di dalam Buddhisme Tibet diidentikkan dengan lautan samsara.

3.       Vas berharga (Skt. Kalasha; Tib. Boom-pah)

Vas berharga melambangkan hujan umur panjang, kekayan, kemakmuran, dan keuntungan lainnya serta pembebasan yang tak pernah berhenti. Vas ini juga dikenal dengan wadah harta berharga yang tak pernah habis yang menyimbolkan tak pernah habisnya ajaran Buddha yang sangat berharga.


4.       Bunga Teratai (Skt. Padma; Tib. Pay-mah)

Bunga teratai melambangkan pemurnian sempurna atas kekotoran batin yang timbul dari tubuh, ucapan maupun pikiran, dan bunga teratai yang mekar sempurna melambangkan kebahagiaan dari pembebasan sempurna


5.       Kerang Putih Berulir ke Kanan (Skt. Sankha; Tib. Doong-khar-yay-kyeel)

Kerang putih yang berulir ke kanan melambangkan merdunya suara penyebaran Buddha Dharma. Suara dari terompet kerang putih ini sangat merdu, dalam dan tersebar luas serta membuat orang yang mendengarnya segera terjaga dari tidur nyenyaknya. Hal ini melambangkan bahwa Buddha Dharma akan segera menyadarkan kita dari kebodohan dan mendesak kita untuk segera mencapai kebahagiaan yang sejati dari pembebasan untuk diri sendiri dan semua makhluk.
Uliran ke kanan dari kerang ini sangat langka ditemukan dan dipercaya bahwa uliran ini menggemakan gerakan dari sistem tata surya.


6.       Simpul yang tak berujung (Skt. Shrivatsa; Tib. Pell-bay-oo)

Simpul yang tak berujung ini melambangkan sifat alami dari segala sesuatu yang saling bergantung dan hanya muncul sebagai akibat dari hukum karma (hukum sebab akibat). Simpul yang tidak memiliki ujung dan pangkal ini juga melambangkan kebijaksanaan dan welas asih dari Buddha yang tak terbatas.


7.       Panji Kemenangan (Skt. Dhvaja; Tib. Gyel-tsen)

Panji kemenangan melambangkan kemenangan ajaran Buddha atas kematian, kebodohan, ketidakharmonisan dan hal negatif lainnya yang muncul di dunia. Panji ini juga melambangkan kemenangan ajaran Buddha atas semua kekuatan berbahaya dan merusak.


8.       Roda Emas (Skt. Chakra; Tib. Kore-low)

Roda emas Buddha Dharma melambangkan keberuntungan dari ajaran Buddha yang terus berputar (masih terus ada) baik dalam hal pengajaran maupun realisasi yang terjadi di semua alam dalam setiap waktu yang menyebabkan semua makhluk berkesempatan untuk mengalami kebahagiaan dari perbuatan bajik dan pembebasan.


Nah, itulah arti dari kedelapan simbol keberuntungan ini.
Jika Anda ingin lebih jauh mengetahui makna dari 8 simbol ini silahkan membaca buku “The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs” karya Robert Beer

Semoga semua makhluk berbahagia

Sumber:
1. Beer, Robert. 1999. "The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs". Shambala 
         Publication, Massachusetts, USA.
2. Rush, John A. "The Eight Auspicious Symbols of Buddhism A Study in Spiritual 
          Picture". 30 Januari 2015.                         http://www.clinicalanthropology.com/images/EightAuspiciousSymbols.gif