Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Monday, August 1, 2016

Siapkah kamu menghadapinya?

Artikel ditulis oleh Yanto Tanuwijaya


"Aku akan sukses sebelum mati."

-Mike Mohede


Kita baru-baru ini dikejutkan oleh kabar duka cita, Mike Mohede dan Muhammad Ali telah meninggal. Kabar meninggal Mike Mohede secara mendadak di usia sangat muda tanpa adanya riwayat penyakit jantung membuat Indonesia berduka cita. Indonesia kehilangan satu penyanyi bersuara emas.

Lebih jauh lagi, kabar meninggal Ali bukan saja membuat Indonesia berduka cita, bahkan membuat seluruh dunia berduka. Ali merupakan sosok yang sangat  fenomenal. Dia adalah juara dunia tinju kelas berat tiga kali dan bahkan orang-­orang  memberikan julukan “The Greatest” untuknya.

Bahkan seseorang yang sangat fenomenal pun harus mati. Begitu pula dengan banyak  orang­-orang fenomenal lainnya seperti Steve Jobs, Gandhi, Martin Luther King, dan banyak lainnya pun ternyata tidak bisa kabur dari yang namanya kematian.

Selain mereka, ada juga sosok­-sosok penguasa. Para raja-­raja di Cina, India, Mesir dan  juga raja­-raja di tanah air kita juga sama, kita sekarang hanya bisa membaca tentang  kisah-­kisah mereka di buku­buku sejarah, mereka sudah tidak ada lagi. Selain itu juga ada Sang Buddha sendiri yang memiliki 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan dari tubuh Buddha juga menunjukkan adanya ketidakkekalan dalam bentuk kematian.

Lalu setelah melihat orang-­orang hebat tersebut, bagaimana dengan diri kita sendiri?

Apakah kita terkenal seperti Mike Mohede? Apakah kita sekuat Muhammad Ali? Sanggup untuk menjadi juara tinju kelas berat sampai  tiga kali? Atau memiliki kekayaan seperti Steve Jobs? Atau memiliki kekuasaan untuk  memerintah pasukan yang sangat banyak seperti para raja­raja jaman dahulu? Atau  memiliki kebajikan melebihi kebajikan pada tubuh buddha?

Jika mereka saja tidak dapat kabur dari dewa kematian, bagaimana dengan diri kita? Kita  tidak memiliki keistimewaan seperti mereka. Lalu kenapa kita masih saja menipu diri kita  sendiri? Kita selalu berpikir kalau kita pasti akan hidup terus. Jarang sekali kita berpikir bahwa kita akan mati bahkan hampir tidak pernah. Kita sebenarnya tahu kalau kita pasti  akan mati, tapi kita mencoba untuk mengalihkan perhatian kita dari pikiran buruk tersebut.
Satu lagi yang kita tidak mau pikirkan adalah tidak jelasnya kapan kita mati. Kita sudah sering melihat orang-­orang yang kita lihat sedang sehat tapi ternyata meninggal. Orang yang masih muda, juga tidak luput dari kematian. Tapi dengan begitu banyaknya kenyataan yang terlihat di depan kita, kita seperti menutup mata. Kita mengabaikan kenyataan tersebut  dan menghindar darinya.

Ini adalah kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Kita harus mati dan kita bisa mati kapan  saja. Kematian mungkin terlihat sangat jauh tapi sebenarnya sangat dekat. Sebenarnya, dengan kita menerima kenyataan bahwa kita akan mati, kita akan lebih menghargai waktu  yang kita miliki sekarang. Dengan mengerti bahwa waktu kita sangat terbatas, maka dia akan sangat berharga bagi kita.  

“My favorite things in live, don’t cost any money,  It’s really clear that the most precious resource that we all have is time.”
-Steve Jobs

Dengan kondisi masih hidup, artinya kita memiliki kesempatan yang berharga berupa waktu.  Tapi banyak orang yang tidak mengerti apa yang harus dilakukan dengan waktu yang  berharga ini. Banyak orang yang membiarkan waktu itu berlalu begitu saja. Tidak  menghasilkan banyak manfaat. Tidak memberikan sesuatu yang berguna. Bahkan malah waktu yang berharga itu malah digunakan untuk hal­-hal yang merusak.

Orang­-orang yang seperti ini hanya memiliki tujuan untuk menikmati hidup ini saja. Tetapi  tidak melihat sebuah gambaran yang lebih besar. Dengan adanya resource berupa waktu, kita akan mampu membentuk masa depan kita yang jauh lebih baik. Dengan mengerti dan  menerima kenyataan bahwa kematian itu nyata bagi diri kita sendiri, kita akan jauh lebih  menghargai kehidupan kita.

Seperti sebuah sumber daya yang ketika kita olah dengan benar akan menghasilkan hal­-hal yang bernilai. Misalnya, besi, semen dan pasir ketika kita olah dengan benar akan dapat  menghasilkan sebuah gedung yang megah. Waktu juga sama, ketika kita mengolahnya dengan baik maka kita dapat membuat sesuatu yang megah bagi diri kita.


Asuransi

Asuransi merupakan sesuatu yang sangat menarik. Pada saat sekarang ini, segala sesuatu  bisa diasuransikan. Dari asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, asuransi  rumah sampai asuransi kredit. Ketika kita membeli polis asuransi, kita mengetahui secara  sadar bahwa barang­barang ini akan rusak tapi kita mencoba untuk menjaganya.

Sehubungan dengan topik kematian, kita hanya akan membahas mengenai asuransi jiwa.  Ketika seseorang membeli sebuah polis asuransi jiwa, sebenarnya dia sudah mengerti  mengenai kematian. Dia tau bahwa dia akan mati dan juga dia tidak tahu kapan dia akan  mati. Jika seseorang tidak mengerti bahwa dia pasti mati maka buat apa dia membeli  sebuah polis asuransi? Hal ini pasti hanya sebuah hal yang sia­-sia.

Dengan membeli polis asuransi, biasanya yang diharapkan adalah keluarga yang kita  tinggalkan tidak akan merasa kesulitan untuk melanjutkan kehidupannya. Dengan  penggantian dari polis tersebut, kita berharap keluarga kita tidak akan kelaparan atau harus  berhutang sana sini untuk hidup mereka. Walaupun kita mati, keluarga kita tidak akan sengsara.

Pemikiran ini benar tapi masih belum tuntas, masih ada yang hilang dalam jalan pemikiran  mengenai asuransi ini. Step pertama mengenai kematian, bahwa kita pasti mati dan kita  tidak tahu kapan, ini sudah sangat baik sekali. Step selanjutnya mengenai memikirkan  kondisi keluarga kita setelah kita meninggal juga sebuah hal yang sangat baik. Tetapi yang  masih kurang adalah step memikirkan kondisi diri kita sendiri saat kita mati. Ketika kita hanya memikirkan mengenai keluarga kita, itu artinya kita menganggap bahwa  setelah kita mati, kita seperti hilang begitu saja. Tetapi sebagai umat Buddha, kita percaya  mengenai reinkarnasi. Kita tahu ketika kita meninggal, kita akan terlahir kembali ke salah  satu alam kehidupan. Nah masalah inilah yang harus kita pikirkan.

Lalu apa persiapan kita untuk menyongsong kematian dan kelahiran kembali tersebut?  Sebenarnya pemikiran mengenai asuransi ini juga harusnya bisa kita terapkan untuk diri  kita. Kita mau keluarga kita tidak sengsara setelah kita meninggal. Dengan alur pikir yang  sama, mengapa kita tidak memikirkan bahwa kita juga tidak mau sengsara di kelahiran kita  yang berikutnya?


"Aku tidak merokok, tapi aku menyimpan korek api di sakuku.  Ketika aku melakukan suatu kejahatan. Aku akan menyalakannya dan memanaskan  telapak tanganku. Lalu aku akan berkata pada diriku:  Jika kamu tidak bisa tahan panas ini, bagaimana kamu bisa tahan panas tak terbayangkan  di neraka?"
-Moh. Ali­

Muhammad Ali memberikan contoh yang sangat baik sekali. Dia tidak mau sengsara di  kehidupan setelah kematian, maka dia akan menjaga dirinya dari melakukan perbuatan  jahat. Dengan selalu mengingat bahwa kita akan mati, dan masih ada kehidupan berikutnya, kita akan menjaga perbuatan kita untuk menghindar dari kesengsaraan pada kehidupan kita  berikutnya.

Jelas kita tidak mau sengsara di kehidupan kita yang berikutnya. Kalau begitu, kita harus  cari polis asuransi mana yang bisa menjamin bahwa kita tidak akan sengsara pada  kehidupan kita yang berikutnya. Apakah ada? Tentu ada. Buddha dan para Guru besar  menunjukkan ada dua metode untuk mencegah kelahiran berikutnya yang sengsara yaitu  Tisarana dan Karma.

So kapan mulai ikut asuransi untuk menjamin kehidupan kita yang berikutnya?

Thursday, December 10, 2015

All Roads Lead to This

Artikel ditulis oleh Yanto Tanuwijaya

Yes.. All roads lead to this yaitu kematian. Kedengarannya sangat pesimis sekali. Tapi jangan khawatir, sebenarnya ini adalah artikel yang sangat optimis. Keep reading..

Ketika kita berbicara mengenai kematian, tentu saja kita harus membicarakan tentang kehidupan juga. Ini adalah dua sisi mata uang yang sama dan tentu saja sangat berkaitan erat. Mengapa sangat berkaitan erat? Bukannya dua hal ini adalah dua peristiwa yang sangat berbeda?

Karena kematian akan mempengaruhi kehidupan dan juga sebaliknya, kehidupan akan mempengaruhi kematian. Ketika kita mengalami sebuah kejadian yang hampir merenggut nyawa kita, apakah itu sebuah kecelakaan atau vonis dokter yang mengatakan kita tidak akan hidup lebih lama lagi, tingkah laku kita akan berubah. Kita akan memikirkan hal yang berbeda dari kehidupan kita.

Kita akan memikirkan bagaimana kehidupan kita. Apa yang sudah saya lakukan dalam kehidupan ini? Apakah banyak yang baik atau banyak yang buruk? Kita mencoba mencari cara untuk memanfaatkan kehidupan yang kita punya sekarang. Sebelum waktunya habis.

Banyak orang yang mengalami perubahan setelah mereka mengalami kejadian-kejadian seperti ini. Kebanyakan adalah hal-hal yang positif. Bukan menjadi mendendam tapi malah menjadi lebih memaafkan. Bukan membenci malah menjadi berwelas asih. Ini adalah transformasi positif terhadap kehidupan kita dari kejadian hampir meninggal.

Oleh karena itu, salah satu yang harus direnungkan setiap hari adalah mengenai kematian khususnya kematian kita sendiri. Jika melihat sebuah fenomena kematian, apakah di koran atau melihat ada makhluk yang mati, kita harus merefleksikan fenomena kematian itu terhadap diri kita sendiri. Kita tahu bahwa kita juga pasti akan mati dan kita juga tidak dapat menentukan kapan kita akan mati.

Sebuah kutipan dari Kumpulan Ucapan-ucapan yang Menggembirakan yang bisa dilihat pada Pembebasan di Tangan Kita jilid 2:

Diantara sekian banyak orang yang terlihat saat fajar,
Beberapa di antaranya tidak akan terlihat lagi ketika malam menjelang
Di antara banyak orang yang terlihat pada malam hari
Beberapa di antaranya tidak akan terlihat lagi ketika subuh menjelang

Kutipan ini benar-benar menggambarkan kondisi kita saat ini. Kita tidak mempunyai kontrol sama sekali atas kematian kita. Kita belum bisa lepas dari kematian.

So, harus bagaimana?

Kita masih memiliki kehidupan. Kita masih mempunyai waktu untuk mempersiapkan kematian. Sama seperti orang-orang yang mengalami kejadian hampir meninggal, jika kita terus menerus merenungkan kematian kita, kita akan tergerak untuk menggunakan kehidupan kita yang sekarang untuk mempersiapkan kehidupan yang berikutnya.

Kenapa begitu? Apakah kita tidak boleh menikmati kehidupan kita yang sekarang saja? Boleh saja kita menikmati kehidupan kita yang sekarang, tapi apakah kita akan siap dengan konsekuensinya?

Banyak orang yang sangat fokus pada kehidupan yang sekarang, pada akhir hidupnya, merasakan sangat menyesal. Ketika di ambang kematiannya, mereka menyesal karena tidak siap meninggalkan kehidupan yang sekarang. Dan yang lebih parahnya, melakukan banyak karma buruk untuk menikmati kehidupan yang sekarang sehingga hampir pasti akan menuju ke alam rendah.

Kenapa kita harus memikirkan kehidupan mendatang? It’s very simple. Karena kita tahu kita tidak akan hidup lama, maksimal 100 tahun. Tapi sekarang sangat banyak orang yang sudah meninggal di umur 60 tahunan. Dan setelah itu, kita akan terlahir kembali dan mati dan lahir lagi dan mati dan lahir lagi. Berulang-ulang dan untuk waktu yang sangat lama.

Sebenarnya ini sama saja dengan berinvestasi. Jika kita memenangkan lotere 1 milyar, apakah kita akan habiskan saat itu juga? Atau kita akan investasikan lagi sehingga menghasilkan uang lebih banyak lagi? Ya kehidupan kita yang sekarang ini adalah modal uang lotere tersebut. Kita bisa menggunakan modal yang kita punya untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik pada kehidupan-kehidupan berikutnya.

Perubahan orientasi hidup ini akan membawa kita untuk memanfaatkan kehidupan kita sekarang untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih mulia yaitu kehidupan mendatang yang lebih baik, pembebasan dari samsara dan pencapaian kebuddhaan. Ya modal kita yaitu kehidupan ini mempunyai potensi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan merenungkan kematian kita.

Mari berinvestasi menggunakan kehidupan kita sekarang untuk mencapai tujuan-tujuan yang mulia.

Sarwa Manggalam.

Monday, November 23, 2015

Kamu Buddhis? Yakin?

Artikel ditulis oleh Hendra Wijaya


Saya terkadang sedih melihat nasib umat Buddhis di Indonesia. Banyak dari kita yang berpikir bahwa tidak perlu belajar Dharma dalam-dalam, yang penting tahu mesti berbuat baik, kurangin berbuat buruk, itu aja cukup kok.

Ada juga yang berpikir kalau setiap minggu ke wihara aja cukup lah. Di wihara kan saya berbuat baik, saya berdana, saya mendengarkan Dharma, saya memberi persembahan kepada Biksu Sangha dan Buddha.

Ada juga yang berpikir, kamu jangan belajar dalam dalam, nanti kamu jadi biksu loh. Nanti kalau kamu jadi Biksu, siapa yang meneruskan sisilah keluarga kita, bisnis yang sudah papa rintis bertahun-tahun? Nanti tidak ada yg urusin papa mama ketika kami tua. Atau sebaliknya, nanti siapa yang ngurusin kamu ketika kamu tua nanti?

Ada juga yang bukannya ke wihara tapi ke kelenteng, menggenggam puluhan dupa dengan asap mengepul, memohon-mohon usaha lancar, cepat kaya, banyak rejeki, keluarga sehat, damai dan tentram. Saya tidak membahas mengenai berdoanya, berdoa tentu sah-sah saja. Tetapi yang saya bahas adalah objek dan subjeknya itu loh.

Lalu ada juga yang ke wihara untuk mencari jodoh, masuk panitia untuk tujuan yang sama juga. Atau pun untuk mencari kesibukan. Ketika sudah lanjut usia, yah daripada dirumah bengong, mending ikut bantu-bantu deh, ikut baca doa berduka, baksos dan lain sebagainya.

Lebih parah lagi, ke wihara hanya ketika pemberkatan pernikahan saja.

Seribu satu kegiatan kita ini sebagai umat Buddhis, Anda mungkin akan mengkritik saya dengan mengatakan, loh ke wihara, persembahan, berdana, dengar ceramah itu kan baik, walaupun hanya di hari minggu. Jadi panitia di wihara atau ikut organisasi di wihara kan baik, daripada ikut kegiatan yang buruk buruk, masih lebih baik kan kita aktif di wihara?

Ya, kita mungkin berpikir itu berbuat baik. Tetapi kita lupa apa itu artinya menjadi seorang Buddhis. Buddhis yang sesungguhnya. Apa itu Buddhis yang sesungguhnya?

Begini, Pangeran Sidharta capek-capek duduk di bawah pohon Bodhi untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk. Setelah beliau mencapai pencerahan, Beliau mengajar selama 35 tahun agar umat manusia mengikuti jejak beliau mencapai pencerahan yang SAMA dengan beliau.

Dua ribu lima ratus tahun kemudian, tujuan Buddha pun tetap sama tidak berubah. Ingin kita mencapai pencerahan seperti beliau. Namun lihatlah kenyataannya, pelajaran paling sederhana dari sang Buddha pun tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari hari kita. Apa itu?

Bahwa semua contoh yang saya sebutkan di atas, sebaik apapun itu, SEMUANYA hanya ditujukan untuk KEHIDUPAN SAAT INI SAJA! Tidak satupun tindakan yang kita anggap bajik diatas ditujukan untuk itu. Ini sama persis seperti yang suka dikatakan oleh motivator-motivator ulung. Untuk menjadi kaya raya, 1). Set dulu goal anda. Apa yang ingin anda raih, harus clear, harus jelas, spesifik. 2). Yakin bahwa anda bisa mencapainya. dan 3). Bayangkan dan hiduplah seakan akan anda telah memperolehnya. Begitu kan kurang lebihnya?

Loh, bukannya sang Buddha juga mengajarkan hal yang sama? Kalau umat Buddhis hanya mikirin kehidupan saat ini, apakah GOAL untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk akan bisa dicapai? apakah Nirwana yang disebut-sebut para Biksu/Biksuni dalam ceramahnya mampu kita capai? Apakah bisa kita capai kalau kita bahkan tidak pernah berpikir untuk ingin mencapainya? Sepertinya tidak mungkin.

Jangan-jangan kita sendiri belum percaya dengan adanya kehidupan yang akan datang yah? Wah gawat deh, padahal pelajaran mendasar sang Buddha adalah mengenai karma dan tumimbal lahir. Untuk mencapai kebuddhaan, Buddha Sakyamuni menempuh 3 kalpa besar utk bisa menjadi Buddha. Ini bukti jelas bahwa kehidupan akan datang itu nyata ada didepan mata dan kita pasti akan menjalaninya. Pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk mempersiapkan kehidupan kita yang akan datang? NOL BESAR.

Contoh, kalau ketika kita SMA tidak memiliki cita-cita yang sangat kuat ingin jadi pilot, apakah mungkin kita akan berjuang untuk mencapai itu? Jadi, untuk mencapai tujuan yang kita mau, tentunya kita harus set goal kita dulu. Tidak perlu motivator ulung untuk ajarkan itu semua, Sang Buddha sejak 2500 tahun yang lalu sudah ajarkan itu semua. Kita nya aja yang tidak sadar.

Nah, masuk ke poin kedua saya. Ayah saya bilang: “Huei, gak usah ajarin papa tentang karma dalem-dalem, yang penting papa gak buat jahat, dan papa berbuat baik, itu aja udah cukup.” Inilah pola pikir kebanyakan orang. Merasa ga perlu belajar. Merasa paling pintar sedunia. Dari ketiga racun dunia (lobha, dosa, moha) mana yang paling parah penyakitnya? Jawabannya adalah Moha. Karena kita tidak tahu maka kita tidak ingin berubah. Justru pelajaran pertama kita adalah HARUS belajar Dharma untuk menghapus ketidaktahuan.

Loh, saya belajar Dharma kok, saya kan tiap hari minggu ke wihara dan mendengarkan ceramah Biksu/Biksuni Sangha, itu termasuk belajar kan? Betul itu mendengarkan dharma, tapi coba bandingkan dong, Anda jadi S1 aja butuh 4 tahun kan? Kuliah tiap hari supaya jadi sarjana, ekstra 2 tahun lagi jadi S2, entah berapa tahun lagi untuk jadi professor S3. Berapa mata kuliah dan berapa buku tebal yang mesti kita lahap untuk jadi sarjana? Lalu menurut Anda apakah dengan ke wihara setiap minggu CUKUP untuk membebaskan kita dari samsara? Berapa persen dari ceramah itu yang kita ingat? Berapa banyak buku Dharma yang kita baca? Dan berapa persen dari yang kita ingat itu akan kita praktikkan?

Jadi, jangan remehkan belajar Dharma. Dengan belajar Dharma sebenarnya kita mendapatkan dua manfaat. Pertama, kita menghilangkan ketidaktahuan terhadap hal tersebut dan kedua kita mendapatkan kebijaksanaan dari hal tersebut. Suatu hal luar biasa yang diajarkan oleh sang Buddha. Moha (ketidaktahuan) berkurang dan Panna (kebijaksanaan) meningkat. Kalau hitungan orang Cina ini dibilang investasi paling menguntungkan, gak mungkin rugi.

Pelajaran selanjutnya, mengenai sembahyang ke kelenteng, saya tidak melarang orang pergi ke kelenteng. tentunya setiap doa itu baik. Kita ke kelenteng mempersembahkan dupa, minyak, uang, lilin, lalu kita berdoa minta ini itu. Coba perhatikan doa-doa kita. Apakah doa-doa kita semuanya isinya hanya untuk kehidupan ini saja? Adakah yang isinya supaya kehidupan akan datang lebih baik, minta lahir jadi manusia buddhis lagi, lebih baik, lebih cerdas, lebih kaya dari kehidupan ini, minta cepet cepet keluar dari samsara? Saya tidak yakin tuh kalau doanya akan seperti itu kalau dia tidak belajar Dharma dengan baik.

Lalu ya, jelas-jelas isi Tisarana yang pertama itu kan AKU BERLINDUNG KEPADA BUDDHA. Loh kok jadi nya kita minta perlindungan kepada dewa-dewi? Kenapa kita tidak berlindung kepada Buddha? Apakah karena dibilangnya, “Dewa kan masih hidup, Buddha kan sudah mati?”

Sudah lupakah kita akan tekad Pangeran Sidharta untuk membebaskan semua makhluk dari samsara? Apakah setelah parinibanna sang Buddha melupakan janjinya? Meninggalkan kita sendirian di samsara ini? Wah, berarti Buddha jahat dong meninggalkan kita di samsara.

Kenyataannya tidak begitu, Buddha dengan segala kemampuannya dengan tubuh Rupakaya, Samboghakaya, Dharmakaya-Nya hingga detik ini pun masih bekerja untuk membebaskan semua makhluk dari samsara.

Lalu kenapa kita masih mencari perlindungan ke tempat lain? Ini menekankan kembali pentingnya belajar agar kita tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Ada juga yang bilang, tidak perlu belajar banyak-banyak, yang penting kita banyak meditasi. Nah, ini juga salah kaprah. Ini seperti seorang mahasiswa semester 1 disuruh langsung operasi bedah. Apakah Anda mau dioperasi oleh mahasiswa ini? Apa alasan Anda menolak dia? Sederhana kan? Emang dia tau apa tentang operasi, dia kan masih semester 1? Dokter umum aja masih belum lulus. Belajar dulu deh yang bener. Mungkin kira-kira begitu jawabannya.

Nah, sama kan dengan meditasi. Apa yang mau kita meditasikan kalau kita gak punya modal untuk bermeditasi. Coba kita pikir baik-baik, apa tujuannya kita bermeditasi? Untuk mencapai nirwana kan? Untuk keluar dari samsara kan?

Kenapa kita ingin keluar dari samsara? Harusnya kita mengisi otak kita dulu dengan informasi yang cukup mengenai samsara. Kita harus belajar dulu kenapa kita pengen keluar dari samsara?

Salah satu jawabannya adalah karena samsara itu tidak enak (atau enak ya???), karena saya capek, lahir lagi, tua lagi, sakit lagi, mati lagi, berulang ulang tak terhitung banyaknya. Saya ingin menghentikan lingkaran penderitaan ini. Maka kita perlu belajar mengapa kita bisa terlahir lagi dan lagi melalui topik 12 mata rantai.

Mengutip lagi kata-kata motivator, ‘Know your enemy.’ Pelajari dulu musuh kita, siapa musuh kita untuk keluar dari samsara? Musuh kita adalah kilesa. Nah berarti kan kita perlu belajar dulu toh tentang kilesa.

Sehingga, ketika kita meditasi, kita TAHU DENGAN JELAS, siapa yang harus kita basmi.

Balik lagi ke contoh dokter bedah, dokternya harus punya pengetahuan lengkap tentang cara bedah yang benar, punya pengetahuan mengenai penyakit kita, dan yang paling penting TAU CARA OPERASI-nya. Sebenarnya sama aja kan dengan ajaran Sang Buddha. Lalu bagaimana mungkin kita berharap bahwa dengan pengetahuan kita yang seperti mahasiswa kedokteran semester 1 tersebut, sanggup bermeditasi dan bisa keluar dari samsara tanpa melalui tahapan belajar? Impossible!

Jadi, umat Buddhis itu isinya tidak cuma pergi ke wihara seminggu sekali, berdana seminggu sekali, pasang lilin seminggu sekali, dengar ceramah seminggu sekali. Ini ibarat seminggu sekali nabung seribu rupiah lalu berharap hasil investasi bisa jadi milyaran dalam sekejap. Mana mungkin? Anda pasti lebih jago hitung daripada saya.

Saran saya, ambil waktu untuk merenung, sebenernya mau nya kita apa sih jadi manusia di kehidupan ini? MINIMAL kita harus mendedikasikan hidup kita untuk kehidupan akan datang yang lebih baik, atau kalau bisa lebih baik lagi, ingin keluar dari samsara, atau yang paling agung, ingin menjadi Samma-Sambuddha seperti Buddha Sakyamuni. Toh, memang ini tujuan utama nya kita menjadi buddhis, yaitu menjadi seorang Buddha. Ketidak percayaan diri kita sendirilah yang menghalangi itu.

Bagaimana caranya? Hanya TIGA. BELAJAR, BELAJAR, BELAJAR!!!
Hilangkan Moha kita hingga modal kebijaksanaan (pengetahuan) kita cukup.

Beberapa topik penting menurut saya adalah,
  1. Kemuliaan terlahir sebagai manusia (ini agar kita merasa beruntung terlahir sebagai manusia dan memiliki harapan untuk mencapai kebuddhaan)
  2. Kematian. Bahwa sehebat apapun kita, kita pasti mati dan lebih gawat lagi, kita tidak tahu kapan kita akan mati.
  3. Alam Rendah. Setelah kematian, kalau kita selama hidup gak pernah mikirin kehidupan akan datang, maka kita kan jatuh ke alam rendah, entah itu jadi hantu kelaparan, atau binatang, atau neraka panas dan dingin.
  4. Tisarana. Setelah membangkitkan ketakutan akan kematian dan alam rendah yang menghantui kita, kita mencari perlindungan kepada Buddha Dharma Sangha. Inilah perlindungan sesungguhnya.
  5. Karma. Setelah memohon perlindungan, kita mempelajari karma dengan baik agar kita tidak jatuh ke alam rendah dan agar dapat mengumpulkan kesempurnaan enam paramita.

Inilah minimal topik topik yang perlu kita pelajari, renungkan, meditasikan untuk menjamin agar kehidupan mendatang kita menjadi lebih baik. Tak lupa, selalu dedikasikan apapun benih kebajikan yang kita miliki untuk kehidupan kita yang akan datang.

Ingat, karma kita adalah milik kita sendiri, bukan milik orang lain. Mulailah kumpulkan sebab sebab untuk kehidupan akan datang yang kita impikan.

Saya dedikasikan kebajikan dari membuat tulisan ini untuk umur panjang semua guru Dharma yang Agung, dan semoga siapapun yang membaca tulisan ini dapat memetik manfaat yang sebesar besarnya.

Semoga semua kehidupan kita yang akan datang akan lebih baik lagi dari yang sekarang, dan semoga kita segera mencapai pencerahan yang lengkap sempurna demi semua makhluk.

Sarva Manggalam.

Monday, August 31, 2015

Berguru pada Guru Spiritual

Ditulis oleh poeterafajar,
Jakarta, 27 Juli 2015

Berbakti pada guru spiritual merupakan sebuah perjalanan, yang tak akan pernah putus sampai kita mencapai Kesempurnaan Batin. Perkembangan batin seseorang tidak bisa diukur berdasarkan waktu, melainkan berdasarkan seberapa kuat kemauan atau motivasi seseorang untuk mencapai keadaan batin yang stabil. Bukan persoalan berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkembang, tetapi lebih mengarah ke seberapa kuat kemauan kita untuk  bisa bekembang.

Aku berasal dari keluarga Tionghoa dan aku dididik berdasarkan kebudayaan Tionghoa yang keras. Yang dimana anak laki-laki tidak boleh nangis, air mata adalah simbol kelemahan laki-laki, dan anak laki-laki terutama anak pertama harus melakukan tanggung jawab ini itu segala macam, membawanama besar keluarga, menghasilkan banyak duit, mengangkat status keluarga. Dan yang paling parah adalah bahkan anak laki-laki ini tidak tahu-menahu kenapa dia harus melakukan semua hal ini. “Jangan banyak tanya. Just do it…” kata-kata ini yang biasa terlontar dari mulut ortu yang mungkin malas menjelaskan mengenai sesuatu kepada anaknya. Terlalu cepat kalimat ini dilontarkan kepada seorang anak usia 6-7 tahun, yang tidak tahu bagaimana caranya berbakti, meraka akan berontak atau mengikuti ucapan orang tuanya atas dasar perasaan takut dipukul.

Secara langsung ataupun tidak, kita tak memberi kesempatan pada diri kita untuk mengenal dan mengembangkan hati kita. Yang ada malah kita sibuk meng-copycat kepribadian orang tua kita dan mengesampingkan dan even worse membekukan hati kita.
Bukan maksud untuk mencemooh kebudayaan tionghoa, aku selalu mempercayai sebuah kebudayaan bisa bertahan hidup selama beribu-tahun sampai sekarang pastilah didasari oleh nilai-nilai luhur dan bajik. Yang menjadi masalah adalah seberapa dalam  persepsi manusia dalam memahami nilai-nilai tersebut. Bukan pada budayanya tapi lebih kepada orang yang memahami dan mengimplementasikan budaya sebagai way of life itu yang perlu dipertanyakan. Dengan pemahaman kebudayaan yang setengah-setengah, maka kita akan mendapatkan hasil yang setengah-setengah pula or even worse.

“Banyak orang merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan pada hidup mereka.”
– Suhu Bhadraruci-

Statement ini merupakan alasan utama yang sangat mendasar dan kritis kenapa kita harus mengenaldiri kita. Jika kita tidak mengenal hati kita,bagaimana kita dapat menemukan cara untuk mengembangkan diri kita? Kita sangat sering mengacuhkan hati kita, hal ini kita lakukan selama bertahun-tahun dan membuat hati kita menjadi keras.
Hati yang keras adalah hati yang selalu merasa diri baik-baik saja, I’m fine, takut melihat ke dalam hati kita yang sebenarnya, afraid of who we are exactly, secara tidak langsung kita membuang diri kita yang sebenarnya. Dan akhirnya kebanyakan orang hanya mengikuti jalan hidup orang yang sukses menurut diri kita dan orang sekeliling kita. Inilah yang tahapan bagaimana mainset bisa terbentuk. Tak heran orang bijak sering berkata: “Orang disekitar dan lingkunganlah yang membentuk diri kita.”

Orang yang berhati keras adalah orang yang memiliki hidup yang menderita but meraka tidak tahu kalau mereka menderita, Jika mereka menyadarinya saat itu pula mereka bakal mencari cara untuk memperlembut hati mereka logically speaking, kita mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Mereka hidup tidak berdasarkan apa kata hati sendiri, melainkan apa kata orang lain dan lingkungan sekitar. Hidup bukan atas kemauan hati sendiri. Bagaimana kita tahu apa yang kita mau, jika kita tidak mengenal dengan baik siapa diri kita?

“Cry is not a crime”
–Bude Novi-

Kalimat ini pula yang menyadarkanku akan seberapa kerasnya aku terhadap hatiku selama 20 tahun ini. “Nangislah pada saat ingin menangis dan jangan ditahan. Rasakan dan pahami kemudian ekspresikan hatimu, jadikan hatimu lembut.” Masih teringat ucapan Bude yang membekas pada ingatanku sampai sekarang.
 
Sejak saat itu,aku berusaha mengenal dan menerima diriku sendiri, dan Aku aware akan kondisi diriku. Dari sikap aware ini baru bisa merasakan seberapa menderita dan tak nyamannya diriku, dan karena  aku tahu aku menderita, aku mencoba mencari cara untuk tidak menderita, lebih jauh lagi pada saat kita mencari, mendapatkan dan kemudian melakukan cara tersebut, aku menoleh ke belakang dan aku sadar bahwa aku tak sendirian, banyak orang yang 'terjebak’ dalam hal yang sama. Baru timbul rasa kasihan melihat orang lain menderita dan mencoba untuk menolong mereka. Inilah pemikiran yang sangat simple dan mendasar dari batin welas asih.

Hati yang lembut adalah hati yang menerima diri, baik-buruk, kuat-lemah, apa adanya. Dari hati yang lembut aku belajar banyak hal. Aku paham seperti apa diriku, apa passion-ku yang sebenarnya, dan bahkan tahu bagaimana cara untuk mengembangkan batin dan diriku yang akhirnya berujung pada kestabilan hati dan kebahagiaan sejati.

Suhu sering berkata : “Batin welas asih adalah sumber dari semua aktivitas bajik.” Batin welas asih tak akan pernah muncul dari hati yang keras, batin welas asih muncul pada hati yang lembut. Sebuah batin yang bisa merasakan penderitaan diri sendiri dan empati pada orang lain. Singkat kata dari kelembutan hati inilah yang bisa membuat keseluruhan aktivitas menolong yang kita lakukan menjadi bajik.

Itulah sebabnya tak heran dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat seseorang (termasuk diriku) yang memiliki hati yang keras sepanjang hidupnya bahkan sampai dia mati. Sebaliknya, ada orang yang awalnya berhati keras tapi lama-kelamaan menjadi tambah lembut dan juga memiliki batin yang semakin stabil seiring bertambahnya usia.

Dan sekarang pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan ke diri kita masing-masing adalah  ‘Apakah kita sadar (aware) akan kondisi batin kita?’ Kemudian setelah kita sadar tentang seberapa parahnya batin kita, apa yang kemudian kita lakukan? Apakah tetap membiarkannya atau bertekad untuk berubah dan berkembang ke kondisi batin yang lebih stabil?

Ya, memang tak dapat dipungkiri bahwa seseorang menjadi keras atau lembut tergantung didikan orang tua, kondisi lingkungan dan berbagai faktor eksternal lainnya. Namun terlepas dari itu yang paling penting sebenarnya kitalah yang (secara sadar atau terpaksa) memilih untuk menuruti mereka atau tidak.
Namun kebanyakan situasi sering mengarahkan kita menuju ‘keterpaksaan’ dalam memilih. Dan tak jarang pula akibat dari ‘keterpaksaan’ tersebut menimbulkan kegagalan atau hasil yang tak sesuai ekspektasi. Mengapa kita sering mengarah ke situasi ‘terpaksa’? Karena kita tidak cukup kuat dan stabil untuk memilih yang mana sering kali menghasilkan sikap ragu dalam menentukan pilihan. Mengapa ragu? karena kita kurang wawasan dan kurang belajar. Mengapa kita malas belajar?  Karena tidak merasa pelajaran tersebut bermanfaat untuk kita.

Biasanya hal ini yang terjadi pada self-talk kita, dan bagaikan lingkaran setan, pola ini akan terjadi terus-menerus selama kita tidak memutuskan lingkaran tersebut dan berkembang. Untuk memutuskan lingkaran tersebutlah kita butuh 2 hal, yaitu Guru yang handal dan kesungguhan hati untuk mengembangkan batin.

Seorang Guru yang handal tentu merupakan seseorang yang sudah melewati fase ‘keterpaksaan’ tadi dan tahu cara melewatinya. Dan tentunya beliau hanya bisa mengajar dan mendidik, mau atau tidak, nurut atau tidak, kembali lagi ke diri kita masing-masing.
Berguru itu sangat tidak mudah, seperti berhadapan pada batin kita sendiri ibarat cermin. Memperlihatkan seberapa parah dan hitamnya batin kita. Ini merupakan pelajaran seumur hidup yang tidak gampang untuk direalisasikan. Siapa sih yang mau mengakui bahwa batin kita buruk dan mementingkan diri sendiri? Siapa sih yang mau dikritik? Siapa sih yang tidak mau dipuji dan senang dengan pujian?

Dan yang lebih parahnya lagi, siapa sih yang mau dengan rela mengkritik batin kita yang hitam dan memarahi sikap mementingkan diri sendirinya kita? Kalau bukan guru kita sendiri. Padahal beliau tahu jelas, dengan beliau mengkritik diri kita, beliau akan dibenci.

Beliau mengkritik karena beliau kasihan, peduli dan sayang terhadap kita. Beliau tidak ingin kita mengalami hal buruk yang dulu pernah beliau alami. Atas dasar inilah yang menjadi pijakan dasar kenapa beliau mau dan rela susah payah mengajari dan mendidik kita. Tetapi kembali lagi beliau tidak bisa hanya bekerja sendiri, tanpa kesungguhan hati dari kita.

“Setelah mengembara dalam samsara, adalah [Para Guruku] yang menemukanku.
Terhalang oleh delusi, adalah Mereka yang membangunkanku dari tidur.
Setelah tenggelam dalam samudra samsara, adalah Mereka yang menarikku keluar.
Setelah tersesat, adalah Mereka yang menunjukkanku jalan yang benar.”

Teramat indah bait yang  dikutip dari Sutra Dasadharmaka diatas. Memang benar orang tua kita sangat berjasa dalam hal memberikan kita tubuh jasmani, namun dengan tubuh jasmani saja tidaklah cukup, kita harus menyadari seberapa berharga tubuh manusia tersebut dan menarik manfaat sebesar-besarnya dari tubuh manusia tersebut. Namun yang mampu menuntun kita setahap demi setahap untuk mencapai realisasi seperti ini tidak lain adalah seorang Guru.

Berkat kebaikan hati beliaulah kita dapat sadar (aware) dan melakukan hal yang benar sehingga menghasilkan kebajikan, menghindari perbuatan buruk dan terhindar dari akibat karma hitam. Bisa dikatakan tanpa Berkah Guru, tak akan ada kebajikan. Tanpa kebajikan, kita akan mati dan kemungkinan besar terjatuh kembali di alam rendah. (Guru adalah dasar dari semua kualitas baik yang aku miliki). Hal inilah yang merupakan sebab mendasar kenapa kita harus berbakti dan bertumpu pada guru spiritual dengan sungguh-sungguh.

Tuesday, August 25, 2015

KCJ Goes To Museum!!

Bagaimana Anda Memaknai Kemerdekaan?

Pertanyaan simple yang mungkin sulit untuk kita jawab secara gamblang di 70 tahun Indonesia Merdeka.  Kemajuan teknologi, kebebasan berpendapat, hingga mulai memudarnya rasa cinta tanah air mungkin bisa kita jadikan “kambing hitam”. Namun, “kambing hitam” itu tidak akan pernah jadi “kambing hitam” apabila kita mau, dan pastinya bisa, mengenang dan memaknai perjuangan para pahlawan yang rela berkorban waktu, tenaga, hingga nyawa untuk memerdekakan Indonesia.
 



KCJ berinisiatif untuk memulai suatu gerakan kecil untuk mengenang dan memaknai perjuangan pahlawan kita, yaitu dengan cara berkunjung ke museum. Kegiatan ini diprakarsai oleh Katherine Chandra dan Erlina Erwan untuk menggerakkan massa.
 
Museum yang dituju adalah Museum Bank Indonesia yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta. Memasuki gedung tua yang berarsitekturkan Belanda kuno itu, tidak disangka kami disambut oleh sebuah museum modern yang ciamik dalam menampilkan perjalanan perekonomian Nusantara dari masa-masa kejayaan kerajaan, masa penjajahan, masa kemerdekaan, hingga sekarang. Perjalanan bagaimana perekonomian dapat membuat Indonesia berjaya hingga Indonesia kandas karena dijajah, diceritakan dengan tampilan yang modern disertai tata pencahayaan yang menarik. Bagaimana peranan penting perekonomian dalam masa-masa awal kemerdekaan, Gunting Syafrudin, hingga krisis moneter 1997 diceritakan dengan lengkap mulai dari penyebabnya, dampak yang dihasilkan, hingga pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kejadian-kejadian tersebut dan dapat dipelajari secara menyenangkan.
 
Setelah melihat perjalanan perekonomian nusantara, perjalanan kami dilanjutkan ke museum wayang yang masih di Kawasan Kota Tua Jakarta. Melihat beragamnya jenis wayang di Nusantara, memberikan arti sangat kayanya kebudayaan Bumi Nusantara yang kita tinggali saat ini. Meskipun awalnya terkesan “menyeramkan” karena berlokasi di bangunan tua serta aroma barang antik yang kadang membuat bulu kuduk merinding, secara keseluruhan museum wayang layak dikunjungi untuk membuka mata kita akan kayanya kebudayaan Nusantara yang perlu kita banggakan.
 
Sebenarnya masih banyak museum yang bisa dikunjungi di Kawasan Kota Tua Jakarta, namun dikarenakan waktu yang sudah menjelang sore dan pegelnya kaki karena jalan terus, perjalanan menjelajahi museum disudahi untuk kali ini. Kegiatan ini memang terkesan kecil dan remeh, namun dari kegiatan kecil ini diharapkan tumbuh rasa kebanggaan dan cinta akan Tanah Air Indonesia, tempat dimana kita lahir, hidup, (semoga) hingga menutup usia. 

Jadi, Bagaimana Anda memaknai kemerdekaan?
Kalau kami, memulai langkah yang kecil agar bisa melakukan perjalanan dari Sabang hingga Merauke.

Sampai bertemu lagi di perjalanan-perjalanan berikutnya. MERDEKA!!!

Meditasi itu….

Artikel ini ditulis pada tanggal 11 Agustus 2015

Sesekalinya berada di tengah pusat perbelanjaan, ada satu hal yang tertangkap cukup sering, yaitu tas gym. Kebetulan pada tas tersebut terdapat nama gym yang bersangkutan, sehingga saya bisa menyimpulkan ya, ini tas gym, bukan sekedar tas pada umumnya. Karena penasaran lalu mencari tahu lebih lanjut tentang gym dan fitness dari kenalan yang kebetulan juga punya tas yang sama. Jadi kita membayar sejumlah tertentu uang kepada gym, lalu kita menjalani serangkaian latihan, dipandu instruktur, lalu pakai alat A, B dan C, lalu selesai, lelah, pegal, pulang, lalu di jam dan hari yang lain melanjutkan latihan. Keluarannya suatu saat di masa mendatang adalah mungkin lebih kurus, lebih berisi, tubuh lebih estetis, mungkin. Sederhananya, ada niatan ‘tuk menjalani latihan, ada suatu disiplin, ada uang, waktu, dan tenaga yang dikerahkan, sehingga ada keluaran yang diperoleh dari upaya.

Tadi itu bicara olah fisik. Untuk olah mental, meskipun tidak ada gym khusus mental atau setidaknya yang terang-terangan deklarasi, upaya untuk mengolah mental juga cukup banyak. Ini dapat dilihat dari banyaknya berbagai buku bergenre self-help, berjudul ‘rahasia’, sup ayam, 4 kebiasaan, 6 kebiasaan, mungkin kelak 100 kebiasaan seiring waktu. Juga banyak seminar motivasi, pelatihan-pelatihan memprogram pikiran (bukan hipnotis), dan sebagainya. Secara garis besar polanya mirip dengan fitness, bayar uang sejumlah tertentu, dipandu, ada tahapan, harus ini dan itu, dan seterusnya. Sang Buddha juga sejak 2500-an tahun lalu juga sebenarnya sudah meresepkan hal yang sama, bedanya adalah tanpa biaya. Mungkin karena kalah dalam iklan dan kampanye, Ajaran Buddha dan Guru Besar Buddhis  tentang meditasi tidak menjadi best seller atau sesuatu yang happening di korporat.

Meski beda secara biaya, secara pamor, metode, dan nilai, antara meditasi dan seminar maupun training motivasi dan sebagainya itu, tetapi mereka melihat kesamaan bahwa pikiran dan batin adalah aset yang harus diolah. Tapi kenapa saya memilih Meditasi Buddhis di antara semua pendekatan tersebut, adalah karena jurus olah batin ala Buddha lah yang menyelesaikan masalah tanpa masalah yang berfungsi juga untuk kehidupan mendatang; selain juga karena saya seorang Buddhis atau paling tidak beratribut Buddhis maka saya berpihak, esprit de corps, dan seminimalnya karena saya diminta menulis artikel tentang Meditasi Buddhis dan ditagih.

Meditasi Buddhis juga seperti halnya fitness memiliki suatu disiplin tertentu, menjalankannya secara serampangan akan menimbulkan efek samping kebosanan, kapok, atau malah kebal atau bebal terhadap efek meditasi alias batin membatu tak bisa berubah; kita yang berumur 30 tahun akan tetap memiliki batin kita yang 10 tahun, semacam itu kurang lebih. Sesi meditasi yang ideal dijelaskan dalam kitab suci adalah 4 sesi, subuh, pagi, siang, dan malam sebelum tengah malam. Durasinya, Yang Mulia Kamalasila menjelaskan, adalah satu jam, atau setengahnya, atau lebih sedikit lagi selama kita masih bersemangat; sehingga ketika berhenti dari meditasi kita berhenti dengan impresi yang baik terhadap meditasi, bukan sebaliknya, muak dan di kemudian hari melihat bantalan meditasi sebagai momok seram.

Bagaimana bermeditasi diajarkan dalam Gomchen Lamrim atau karya Lamrim lainnya adalah objek meditasi harus ditetapkan terlebih dahulu, begitu juga urutannya, tidak boleh ada penambahan atau pengurangan, dan seterusnya. Merujuk daripada instruksi ini, maka sebelum bermeditasi, kita harus terlebih dahulu kenal dengan objek meditasi, dan setidaknya punya familiaritas tertentu sehingga tidak melupakannya di tengah meditasi kita. Dengan demikian, ini menjelaskan mengapa studi-kontemplasi-meditasi merupakan urutan penting dalam menjalankan meditasi. Kebutuhan studi sangat mendesak karena begitu banyak pilihan objek meditasi yang masing-masing punya TUPOKSI-nya masing-masing untuk mengatasi kilesha tertentu agar mencapai tujuan. Untuk semakin memperkuat lagi perlu dan mendesaknya belajar demi mendukung meditasi, mengutip nasehat Buddha dalam Sutra Sadhnirmochana:
“… Para Bodhisattva ini harus mendengarkan Ajaran-ajaran ini dengan benar, mengingat isinya, melatih pelafalan lisan, dan menganalisanya secara seksama. Dengan pemahaman sempurna, mereka harus pergi ke tempat terpencil seorang diri dan merenungkan Ajaran-ajaran ini serta memusatkan perhatian pada Ajaran tersebut secara terus-menerus…”

Jika seorang Bodhisattva saja juga harus belajar, apalagi saya, dan mereka, dan anda yang seperti saya? Maka sungguh luas dan mendalam nasehat Yang Mulia Suhu Bhadraruci, Butuh Banyak Belajar Biar Bisa Bantu Banyak Orang (B7O).

Berikutnya, yang merupakan tombol start untuk meditasi adalah niat (‘tuk bermeditasi). Untuk menumbuhkan niat bermeditasi, mengetahui manfaat dari meditasi adalah penting, dan agar manfaat tersebut bisa relevan maka kita memerlukan ketertarikan antara batin dan kehidupan kita. Alexander Berzin menjelaskan bahwa, “kita bukan seorang korban dari apapun yang dilemparkan oleh kehidupan kita. sebaliknya kita berperan sentral pada apa dan bagaimana kita mengalami kehidupan kita… untuk melakukanya kita harus tahu bagaimana cara kerja batin kita.” Begitu kita bisa menempatkan batin posisi awalnya yang adalah pusat kehidupan kita, barulah manfaat meditasi bisa relevan bagi kita. Tanpanya, bisa jadi meditasi menjadi sekedar olahraga, olahraga diam dalam hening sambil bersila.

Akhir kata, seperti halnya ketika fitness, anda juga butuh seorang instruktur, sama halnya dan apalagi dalam meditasi juga butuh pemandu. Makanya Lamrim mengatakan guru spiritual adalah Akar dari Sang Jalan.
Sarva Manggalam [tk]

Keagungan Ajaran

 Artikel ditulis oleh Attha Surya Dharma, 23 Juli 2015 

Dharma ini lebih baik, yang ini kurang baik. Dharma yang ini yang harusnya aku praktikkan, Dharma yang itu aku tidak dapat terima dengan akalku. Praktik Dharma ini superior, aku harus menjalankan yang ini saja, dan tidak membuang waktu lebih banyak terhadap praktik yang lain (yang lebih inferior). Ketika kita tidak dengan cara yang baik mengerti suatu Dharma, akan sangat mudah muncul pemikiran-pemikiran demikian, yang membuat Dharma yang kita pelajari menjadi percuma (malah akan berakibat negatif)  karena kesalahan kita sendiri membangkitkan pikiran yang tidak bajik. Namun dengan metode Lamrim, Jalan Bertahap Menuju Pencerahan, kita akan dapat mengerti bagaimana keseluruhan Teks Dharma ini berkaitan satu sama lainnya dalam kesatuan sistem yang koheren (logis dan masuk akal).

Apakah yang disebut dengan Ajaran? Disini, Ajaran yaitu Dharma dalam bahasa sansekerta, atau Dhamma dalam bahasa Pali, atau Cho dalam bahasa Tibet, merujuk kepada teks akar dari Instruksi Pelita Sang Jalan menuju Pencerahan oleh Atisha. Menurut sumber Teks Instruksi Guru Yang Berharga, ada empat bagian untuk menjelaskan kualitas unggul dari ajaran Lamrim. Dengan belajar dan mempraktekkan Lamrim:
  1. Kita akan memiliki kemampuan untuk memahami bahwa semua Ajaran Buddha bebas dari pertentangan
  2. Semua literatur akan terlihat sebagai Instruksi untuk berlatih/berpraktik Dharma
  3. Kita dapat dengan mudah mengerti maksud dari Sang Penakluk, dalam artian kita dapat mencapai tahapan jalan karena luasnya Dharma Sang Buddha telah diorganisasikan dalam satu sistem yang koheren
  4. Dengan secara alami kita akan terbebas dari kesalahan besar mengabaikan/menolak dharma

Mari kita memulai dengan membahas poin yang pertama, bahwa (1) tidak ada pertentangan di seluruh Ajaran Buddha. Bagian ini amat penting dan sering kita jumpai di sekitar kita, bahwa yang mempercayai Tipitaka pali, menyatakan bahwa Tripitaka sanskrit tidak valid, juga demikian sebaliknya. Hal ini kerap terjadi jika kita gagal melihat Ajaran Buddha adalah tanpa pertentangan. Bila kita mempelajari asal usul Ajaran Buddha, dan darimana suatu Tripitaka itu disusun dan ditulis oleh Guru-guru masa lampau, kita akan mengenali bahwa sebenarnya Sang Buddha mengajarkan Dharma kepada murid-muridnya atas dasar kapasitas seorang murid, bukan berdasarkan apa yang Beliau ketahui. Sang Buddha amat mahir dalam mengajar, Beliau dapat mengajar dalam satu sesi Ajaran Dharma kepada berbagai jenis kapasitas manusia. Bila kita mengingat kualitas ucapan Sang Buddha, bahwa Sang Buddha dapat menjawab berbagai pertanyaan berbeda dari semua makhluk di alam semesta dalam satu waktu yang sama dengan pernyataan tunggal yang akan didengar oleh setiap makhluk tersebut dalam bahasa mereka masing-masing dan dengan cara yang sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing (Liberation In Our Hand Jilid 2, hal 293).  

Sang Buddha memutarkan tiga roda Dharma selama hidupnya, yang dari situ dapat kita golongkan menjadi tiga kendaraan, yaitu Hinayana, Mahayana, dan Tantrayana. Mereka dapat saja terlihat tidak konsisten bila kita melihat hanya dipermukaannya, dikarenakan Buddha mengajar hal yang berbeda dalam waktu yang berbeda tergantung pada apa yang cocok pada seorang murid, namun karena semua Ajaran yang berbeda ini adalah tujuannya untuk mencapai ke kebuddhaan yang lengkap dan sempurna, maka tidak ada kontradiksi diantara Ajaran Buddha ini. Je Rinpoche juga menyebutkan dalam Risalah Agung Tahapan Jalan Mantram, “Dari berbagai arah banyak sungai yang mengalir ke lautan luas”.

Cara untuk memahami bahwa semua Ajaran Buddha adalah bebas dari pertentangan adalah dengan bertumpu kepada Guru yang Suci untuk mendapatkan pemahaman yang kokoh bahwa semua kitab adalah sebab untuk seseorang mencapai pencerahan, baik itu ajaran Hinayana, Mahayana, ataupun Vajrayana. Setelah hal ini, tidak akan terlihat mana perbedaan diantara ketiganya, kita akan mengembangkan rasa hormat yang setara kepada mereka semua. Dengan cara ini, juga kita dapat memulai memilih yang mana yang sesuai bagi kita untuk dipraktikkan. Tentu saja, banyak diantaranya yang diri kita belum siap untuk mempraktekkan suatu Instruksi, namun terhadap Instruksi yang kita belum mampu ini, adalah hal yang baik jika kita tidak bersikap “menolak/meninggalkan” Instruksi Dharma tersebut sama sekali, melainkan kita dapat berpikir “Walaupun saat ini saya belum dapat melakukan (Instruksi tersebut), saya berdoa suatu waktu nanti saya dapat melaksanakan praktik tersebut dan meninggalkan hal-hal yang negatif, dan semoga hal ini terjadi sesegera mungkin” hal ini akan menjadi sebab (sebagai pengakumulasian kebajikan dan menghancurkan penghalang melalui praktik pengakuan dan purifikasi) untuk mendapatkan kualitas batin yang sesuai untuk mempraktikkan hal-hal yang belum dapat kita praktikan sebelumnya.    

Hal kedua yang menjadi keunggulan metode Lamrim ini adalah, (2) dapat melihat Ajaran sebagai Instruksi pribadi. Mengapa Instruksi pribadi? Mari kita ambil contoh, bahwa Dharma ini adalah sebagai obat. Obat dari dokter (yaitu Sang Buddha) yang dapat mengobati penyakit (kilesha) dari seseorang, agar seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan lepas dari penderitaan. Serupa dengan ketika kita sakit demam, sang dokter akan menginstruksikan kita untuk meminum obat sesuai anjuran, dengan berbagai macam metode yang harus dilakukan dan harus di pantang (semisal tidak boleh minum es dan harus istirahat total). Demikian juga yang seharusnya terjadi, Dharma tersebut haruslah berupa Instruksi yang jelas dan tepat mengenai apa saja yang harus kita lakukan untuk melatih batin kita agar kita dapat mencapai kebahagiaan dan bebas dari penyakit.

Secara umum, kedamaian nirvana, dan juga segala bentuk kebahagiaan dan keuntungan sementara hanya dapat ditemukan dalam Kitab Sang Buddha. Hanya ketika seseorang bebas dari segala kebingungan, dapat menunjukkan kepada kita yang mana yang seharusnya dipraktikkan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Kumpulan dari Instruksi-instruksi Buddha ini, terdapat pada Sutra dan Tantra. Namun seiring dengan berlalu waktu, dan mulai merosotnya kebajikan manusia (dibandingkan dengan waktu Sang Buddha masih hidup dan mengajar), maka mulai banyak murid yang tidak dapat melihat kata-kata Buddha di dalam kitab suci ini sebagai Instruksi. Maka dari itulah Guru-Guru Agung seperti Guru Atisha, Guru Je Tsongkhapa dan lainnya, menyusun ulasan dari kata-kata Buddha tersebut untuk mengklarifikasi maksud dari Sang Buddha dan mentransmisikan Instruksi pribadi kepada murid-muridnya. Tanpa ulasan tersebut kita tidak akan dapat (amat sangat sulit) untuk mengerti secara akurat ajaran Buddha yang amat luas. Jika kita merasa setelah mempelajari sutra dan ulasan namun menemukan bahwa yang kita pelajari adalah tidak berguna untuk praktek kita sendiri, berarti kita sudah jatuh pada kesalahan bahwa kita gagal memahami ajaran Buddha sebagai instruksi pribadi yang harus kita jalankan. Mengutip perkataan dari Dromtonpa, “Jika, setelah mempelajari begitu banyak Dharma, kamu merasa butuh mencari kumpulan lain dari ajaran untuk dipraktekkan, maka kamu telah melakukan semuanya salah”. Hal ini digambarkan juga seperti layaknya kuda pacuan, ketika sebelum perlombaan, adalah baik untuk seekor kuda pacuan untuk mempelajari lintasan yang akan diperlombakan. Namun, adalah hal yang amat bodoh, ketika kita melatih kuda pacuan di suatu lintasan, lalu melombakannya di lintasan yang berbeda. Dan kesalahan ini adalah hal-hal yang akan dihalau dengan mempelajari metode Lamrim, kita akan mempelajari dan menemukan bahwa setiap topik dari Lamrim itu adalah merupakan Instruksi, mengenai hal-hal apa saja yang seharusnya kita akumulasikan, dan hal hal apa yang seharusnya kita tanggalkan, hal-hal apa saja yang seharusnya setelah dipelajari, lalu direnungkan, dan kemudian dimeditasikan.

Keagungan ketiga dari Lamrim adalah, (3) Dapat dengan mudah memahami maksud dari Sang Penakluk. Ajaran Buddha, yang terdiri dari Sutra dan Tantra adalah sangat teramat luas. Dalam Tripitaka terjemahan Tibet saja ada 100 volume lebih, lalu dari volume tersebut meliputi berbagai macam topik-topik yang berbeda tingkat kesulitannya, namun dari apa yang kita pelajari, semua hal ini adalah merujuk pada tujuan utama yaitu membimbing murid menuju pencerahan. Adalah teramat sulit bagi kita untuk mempelajari keseluruhan Dharma Sang Buddha tersebut, bahkan untuk seorang murid yang amat cemerlang sekalipun, akan membutuhkan waktu yang lama, usaha yang besar, dan juga tantangan yang luar biasa besar untuk menguasainya.

Inilah yang menjadi tujuan dari metode Lamrim, untuk mempermudah diri kita untuk dapat secara cepat dan mudah untuk mengerti dari arti yang sebenarnya dari Tripitaka. Bagaimana ini mungkin? Guru Atisa telah mengelola seluruh ajaran Buddha yang sedemikian luasnya, menjadi suatu bentuk tahapan jalan untuk individu dalam tiga jenis praktisi. Beliau menjelaskan setiap tahapan jalan tersebut, kita sang murid dapat mempelajari penjelasannya, merenungkannya, dan kemudian merealisasikannya. Dengan cara ini, Tradisi Lamrim, dapat dikatakan mengumpulkan seluruh Ajaran Buddha, dan kemudian memeras intisari dari Ajaran Buddha tersebut dan menyusunnya menjadi sistem yang bertahap, mulai dari bagaimana kita seharusnya belajar Dharma, bertumpu kepada Guru, sampai ke pencapaian kebuddhaan.

Poin keempat dari Keagungan Ajaran Lamrim adalah, secara otomatis kita akan terhindar dari kesalahan besar (menolak Dharma). Kesalahan dari menolak Dharma adalah sangat berat, dan merupakan salah satu kesalahan yang paling berat. Apakah yang disebut menolak Dharma? Ini adalah keyakinan/kepercayaan bahwa beberapa Ajaran Buddha harus dipraktikkan, dan yang lainnya harus dijauhkan (tidak dipraktikkan). Tsongkhapa menjelaskan dalam Sarva-vaidalya-samgraha-sutra:

Manjushri, karma penghalang dari menolak Dharma yang suci adalah sangat halus. Manjushri, siapa pun yang menganggap satu bagian dari kata-kata yang diucapkan Tathagata adalah baik, dan bagian lain adalah buruk adalah menolak Dharma. Siapapun yang menolak Dharma, maka ia mencela Tathagata dan menjelekkan Sangha dengan melakukannya. Dengan mengatakan, “Ajaran ini sesuai, Ajaran itu tidak sesuai,” seseorang sudah menolak Dharma. Dengan mengatakan “Ini diajarkan untuk para Bodhisatva; yang itu diajarkan untuk Sravaka.”seseorang telah menolak Dharma. Dengan mengatakan, “Ini diajarkan untuk Pratyeka Buddha,” seseorang telah menolak Dharma. Dengan mengatakan, “Ini bukanlah latihan untuk Para Bodhisatva,” seseorang telah menolak Dharma.

Berdasarkan bait tersebut, jika kita menolak Dharma, maka secara tidak langsung kita telah menolak juga ketiga Ratna; Buddha, Dharma, dan Sangha. Di satu sisi, jika kita melihat pernyataan tersebut, benar adanya merupakan pembedaan tingkat latihan, namun di sisi lain itu adalah merupakan keberpihakan yang salah arah. Salah arah disini dikarenakan semua Ajaran yang berbeda tersebut seharusnya mendapatkan perhatian yang sama karena membimbing individu menuju pencerahan. Masalah berikutnya muncul ketika kita sudah salah arah, kita akan memiliki anggapan bahwa, yang ini lebih baik dari yang lain, keberpihakan kita memungkinkan kita jatuh kepada penolakan terhadap ajaran yang inferior.

Ketika seseorang memulai untuk belajar Dharma adalah sangat mudah untuk jatuh kepada pemikiran: “Ajaran ini superior, ajaran itu inferior. Yang ini lebih baik, yang itu lebih buruk. Yang ini Mahayana, aku seharusnya berpraktik Mahayana. Aku seharusnya berpraktik Hinayana.” Dengan mempelajari ini (metode Lamrim) ketika kita mengingat bahwa ini adalah suatu hal yang buruk, maka kita dapat menghindari untuk berpikir/berpendapat demikian. Seberapa besarkah karma buruk yang dihasilkan oleh menolak Dharma?

Sutra Raja Konsentrasi mengatakan, “Karma negatif dengan menghancurkan seluruh stupa di Jambudvipa tidak akan seberat karma negatif yang dihasilkan dari menolak Dharma. Dalam cara yang sama, bahkan karma dari membunuh Arahat yang sejumlah pasir di Sungai Gangga tidak akan seberat karma negatif dari menolak Dharma.” Karma negatif yang dihasilkan amat-teramat berat, terutama dikarenakan karma negatif dari menolak Dharma adalah semakin menjauhkan kita dari pencapaian kebuddhaan, dibandingkan kedua aksi karma buruk tersebut. Karma menghancurkan stupa atau membunuh Arahat suatu saat akan habis dan kita dapat berpraktik Dharma kembali. Namun dengan penolakan Dharma yang kuat, maka kita tidak akan pernah mencapai realisasi dari topik Dharma yang kita tolak (mengingat kita membutuhkan semua realisasi Dharma untuk mencapai kebuddhaan).

Lalu, bagaimana kah cara menghindarinya? Pertama-tama kita harus mengingat kedua Keagungan pertama dari metode Lamrim. Bahwa Keagungan karena tidak ada pertentangan di dalam semua Ajaran Sang Buddha, dan melihat semua Teks sebagai Instruksi pribadi. Ada terdapat analogi dari buku-buku Lamrim, mengenai hal ini yang dikaitkan dengan masakan. Ketika kita mempersiapkan suatu masakan yang lezat, maka kita membutuhkan bahan-bahan makanan tertentu: air, garam, bumbu-bumbu, beberapa jenis sayuran dan daging. Setiap bahan makanan tersebut berkontribusi terhadap rasa dan esensi dari makanan itu, kita tidak dapat meninggalkan bahkan satu jenis bahan makanan tersebut, atau rasanya akan berbeda! Dengan cara serupa, semua ajaran Buddha diperlukan untuk mencapai penerangan Sempurna, melalui praktik dari tradisi lamrim ini, kita akan mengerti keseluruhan teks dharma, apa artinya, tujuannya, dan bagaimana mereka melengkapi satu sama lain. Kita akan dapat melihat semua teks sebagai setara, jadi kita akan menghargainya, menghormatinya, dan memuliakannya sebagai metode untuk kita sendiri, untuk berlatih menuju pencerahan sempurna.

Friday, July 24, 2015

Teaching oleh Sangha Monastik KCI di Kadam Choeling Jakarta






Dengan berkah guru yang sangat besar, Kadam Choeling Jakarta mendapatkan kesempatan bajik yang sangat besar untuk bersama-sama mengulas Dharma bersama 
Sangha Monastik Kadam Choeling Indonesia

Berawal saat Retret Libur Lebaran, Suhu Bhadra Ruci melihat keberadaan Sangha Monastik Kadam Choeling Indonesia di Jakarta untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke India. Suhu Bhadra Ruci berinisiatif agar Sangha Monastik KCI yang ada sedikit waktu luang bisa mengulas Dharma setiap malam di Kadam Choeling Jakarta.

Inisiatif ini sangat disambut baik oleh anggota Kadam Choeling Jakarta yang memang sedang “On Fire” setelah Retret Libur Lebaran bersama Suhu Bhadra Ruci. Dengan semangat yang menggebu-gebu, anggota KCJ hadir setiap malam sejak tanggal 18 Juli 2015 hingga saat liputan ini dibuat. Kenapa dibilang semangat yang menggebu-gebu? karena kalau tidak semangat yang menggebu-gebu, bagaimana bisa anggota KCJ yang capek pulang kerja bisa semangat mengulas Dharma dari jam 20.00 s.d. 23.00?

Menyadari sulitnya memperoleh Dharma di Kota Jakarta ini, Anggota KCJ sadar betul bahwa kesempatan ini sangat berharga. Oleh karena itu, berkah guru ini tidak akan disia-siakan begitu saja. Berikut ini adalah beberapa testimoni dari teman-teman yang hadir :

“Awalnya agak ragu karena topiknya ga dikasih tau dan acaranya agak malam. Tapi pikirnya kan jarang2 ada ticing sama monk di Jakarta. Jadinya ikutan deh. Tapi WOW..benar2 diluar dugaan. Setiap hari dapat summary Lamrim diajarkan dengan style khas berbeda-beda dari masing2 monk. Mulai dari banyak pengalaman pribadi YM Inan, sampai pertanyaan2 filosofis susah dijawab oleh YM Tenzin Chograb (tapi membuat terus penasaran dan banyak berpikir). Jadi banyak membuka perspektif baru dan menemukan cara2 berpikir baru dari cuma beberapa kali ikut sesi ini. Thx para monk dan KCJ. Yang lain juga semoga bisa ikutan kelasnya, akan banyak hal baru yang berbeda dari biasanya loh.” – Kevin Tanadi.

“Teaching dari para Monk KCI di center Jakarta yang berlangsung dari hari minggu kemarin (bagi gw) merupakan kesempatan yang sangat langka karena mereka dengan skillfull-nya dapat membuka mata gw cara penerapan Lamrim yang selama ini sangatlah susah dalam kehidupan sehari-hari sebagai lay people menjadi sangat nyata dan real dimana kita dapat menerapkan seluruh ajaran Lamrim setiap hari, jam, dan menit. Kesempatan menerapkan tersebut bukanlah hanya di lingkungan komunitas center sendiri tetapi juga dapat diterapkan di komunitas keluarga bahkan komunitas kerja , dimana para monk dengan ahlinya menunjukkan benang merah yang menjadi penghubung cara penerapannya, cara menghadapinya, dan antidote-nya. Walaupun hanya bisa ikut beberapa hari saja tetapi hal ini sangatlah membantu membuka, mengupas kelemahan pola pikir yang selama ini menghantui gw. Semoga beberapa hari kedepan masih bisa mengikuti sesi dengan para Monk KCI. Namo Buddhaya” – Victor

“Luar biasa sesi Dharma yang dibawakan Monk KCI di KCJ. Atas dasar kebaikan YM Suhu, kita dapat mendengar Dharma yang luar biasa ini, membuka mata terhadap cara melihat Dharma dari sudut pandang yang berbeda, memperlihatkan apa yang seharusnya dijalankan & apa yang seharusnya ditanggalkan (sebagai instruksi) dengan amat mendetail dan terperinci. Terasa geger sekali rasanya otak dan hati, namun hal ini adalah baik, semoga perubahannya ke arah yang baik.” – Attha S.D.

“Teaching oleh para monk sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita terutama terhadap Lamrim dan juga sangat membantu untuk menghadapi aktivitas kita sehari-hari terutama bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan yang penuh dengan kesibukan, tantangan, dan dinamika. Saya tidak menemukan satu pun teaching dari para monk yang tidak memberikan manfaat kepada saya.” – Yosep

“Kalo di Bandung mungkin sudah sering dapat Teaching dr para monk bahkan Suhu..Kalo di Jakarta momen ini super super langka, excited banget bisa denger Teaching langsung dari Monk KCI..Topiknya juga santai jd bisa banyak nanya klo ga ngerti” – Fanny A.

 Kesempatan berharga ini hanya tinggal hari ini dan esok hari. Melihat antusias dan banyak manfaat yang didapat dari temen-temen yang sudah ikutan, yookk kita manfaatkan kesempatan berharga ini sebaik-baiknya.

P.S. : Ditunggu hari ini dan esok hari di KCJ jam 20.00 WIB.