Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Tuesday, August 25, 2015

KCJ Goes To Museum!!

Bagaimana Anda Memaknai Kemerdekaan?

Pertanyaan simple yang mungkin sulit untuk kita jawab secara gamblang di 70 tahun Indonesia Merdeka.  Kemajuan teknologi, kebebasan berpendapat, hingga mulai memudarnya rasa cinta tanah air mungkin bisa kita jadikan “kambing hitam”. Namun, “kambing hitam” itu tidak akan pernah jadi “kambing hitam” apabila kita mau, dan pastinya bisa, mengenang dan memaknai perjuangan para pahlawan yang rela berkorban waktu, tenaga, hingga nyawa untuk memerdekakan Indonesia.
 



KCJ berinisiatif untuk memulai suatu gerakan kecil untuk mengenang dan memaknai perjuangan pahlawan kita, yaitu dengan cara berkunjung ke museum. Kegiatan ini diprakarsai oleh Katherine Chandra dan Erlina Erwan untuk menggerakkan massa.
 
Museum yang dituju adalah Museum Bank Indonesia yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta. Memasuki gedung tua yang berarsitekturkan Belanda kuno itu, tidak disangka kami disambut oleh sebuah museum modern yang ciamik dalam menampilkan perjalanan perekonomian Nusantara dari masa-masa kejayaan kerajaan, masa penjajahan, masa kemerdekaan, hingga sekarang. Perjalanan bagaimana perekonomian dapat membuat Indonesia berjaya hingga Indonesia kandas karena dijajah, diceritakan dengan tampilan yang modern disertai tata pencahayaan yang menarik. Bagaimana peranan penting perekonomian dalam masa-masa awal kemerdekaan, Gunting Syafrudin, hingga krisis moneter 1997 diceritakan dengan lengkap mulai dari penyebabnya, dampak yang dihasilkan, hingga pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kejadian-kejadian tersebut dan dapat dipelajari secara menyenangkan.
 
Setelah melihat perjalanan perekonomian nusantara, perjalanan kami dilanjutkan ke museum wayang yang masih di Kawasan Kota Tua Jakarta. Melihat beragamnya jenis wayang di Nusantara, memberikan arti sangat kayanya kebudayaan Bumi Nusantara yang kita tinggali saat ini. Meskipun awalnya terkesan “menyeramkan” karena berlokasi di bangunan tua serta aroma barang antik yang kadang membuat bulu kuduk merinding, secara keseluruhan museum wayang layak dikunjungi untuk membuka mata kita akan kayanya kebudayaan Nusantara yang perlu kita banggakan.
 
Sebenarnya masih banyak museum yang bisa dikunjungi di Kawasan Kota Tua Jakarta, namun dikarenakan waktu yang sudah menjelang sore dan pegelnya kaki karena jalan terus, perjalanan menjelajahi museum disudahi untuk kali ini. Kegiatan ini memang terkesan kecil dan remeh, namun dari kegiatan kecil ini diharapkan tumbuh rasa kebanggaan dan cinta akan Tanah Air Indonesia, tempat dimana kita lahir, hidup, (semoga) hingga menutup usia. 

Jadi, Bagaimana Anda memaknai kemerdekaan?
Kalau kami, memulai langkah yang kecil agar bisa melakukan perjalanan dari Sabang hingga Merauke.

Sampai bertemu lagi di perjalanan-perjalanan berikutnya. MERDEKA!!!

Friday, January 30, 2015

8 Simbol Keberuntungan

Kepada Buddha, Dharma, dan Sangha yang mulia
Aku berlindung hingga aku mencapai pencerahan
Dengan praktik berdana dan kebajikan lain yang kulakukan
Semoga aku dapat segera mencapai pencerahan yang lengkap dan sempurna bagi kepentingan semua makhluk.

Hai Pembaca!

Apakah Anda tahu mengenai 8 simbol keberuntungan? Pernah melihatnya? 

Pada kesempatan ini, saya akan mengulas makna dari 8 simbol tersebut untuk menambah wawasan kita.
8 simbol keberuntungan atau dikenal dengan Ashtamangala (Sansekerta) atau བཀྲ་ཤིས་རྟགས་བརྒྱད (baca: tashee-tag-gyay) dalam bahasa Tibet atau 吉祥八宝 (baca: Jíxiáng bā bǎo) dalam bahasa Tiongkok terdiri dari: payung berharga, sepasang ikan mas, vas berharga, bunga teratai, kerang putih berulir ke kanan, simpul yang tak berujung, panji kemenangan, dan roda emas.

Dalam Buddhisme, 8 simbol keberuntungan ini merupakan representasi persembahan yang diberikan oleh para dewa tepat setelah Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan. Dewa pertama adalah Dewa Brahma yang mempersembahkan roda emas berjeruji seribu sebagai permohonan kepada Buddha untuk memutar roda Dharma. Dewa berikutnya adalah Dewa Indra yang mempersembahkan cangkang kerang putih yang berulir ke kanan sebagai simbol proklamasi Dharma. Kemudian disusul oleh Dewi bumi Sthavara (Tib. Sayi Lhamo) yang mempersembahkan vas emas yang terisi penuh dengan nektar kehidupan abadi.

Terus, apa sih makna dari kedelapan simbol ini.
Yuk kita simak!

1.       Payung Berharga (Skt. Chattra; Tib. Rin-chen-duke)

Payung menyimbolkan aktivitas bajik dari memberikan perlindungan kepada semua makhluk atas penderitaan, hawa nafsu, halangan, penyakit dan kekuatan lainnya yang merusak.


2.       Sepasang Ikan Mas (Skt. Suvarnamatsya; Tib. Sair-nyah)

Simbol sepasang ikan mas berasal dari jaman sebelum Buddha yang melambangkan dua sungai suci utama di India yaitu sungai Gangga dan sungai Yamuna.
Dalam Buddhisme Tibet, ikan yang berenang bebas di air dijadikan simbol kesukacitaan akan kebebasan tanpa rasa takut. Air atau lautan di dalam Buddhisme Tibet diidentikkan dengan lautan samsara.

3.       Vas berharga (Skt. Kalasha; Tib. Boom-pah)

Vas berharga melambangkan hujan umur panjang, kekayan, kemakmuran, dan keuntungan lainnya serta pembebasan yang tak pernah berhenti. Vas ini juga dikenal dengan wadah harta berharga yang tak pernah habis yang menyimbolkan tak pernah habisnya ajaran Buddha yang sangat berharga.


4.       Bunga Teratai (Skt. Padma; Tib. Pay-mah)

Bunga teratai melambangkan pemurnian sempurna atas kekotoran batin yang timbul dari tubuh, ucapan maupun pikiran, dan bunga teratai yang mekar sempurna melambangkan kebahagiaan dari pembebasan sempurna


5.       Kerang Putih Berulir ke Kanan (Skt. Sankha; Tib. Doong-khar-yay-kyeel)

Kerang putih yang berulir ke kanan melambangkan merdunya suara penyebaran Buddha Dharma. Suara dari terompet kerang putih ini sangat merdu, dalam dan tersebar luas serta membuat orang yang mendengarnya segera terjaga dari tidur nyenyaknya. Hal ini melambangkan bahwa Buddha Dharma akan segera menyadarkan kita dari kebodohan dan mendesak kita untuk segera mencapai kebahagiaan yang sejati dari pembebasan untuk diri sendiri dan semua makhluk.
Uliran ke kanan dari kerang ini sangat langka ditemukan dan dipercaya bahwa uliran ini menggemakan gerakan dari sistem tata surya.


6.       Simpul yang tak berujung (Skt. Shrivatsa; Tib. Pell-bay-oo)

Simpul yang tak berujung ini melambangkan sifat alami dari segala sesuatu yang saling bergantung dan hanya muncul sebagai akibat dari hukum karma (hukum sebab akibat). Simpul yang tidak memiliki ujung dan pangkal ini juga melambangkan kebijaksanaan dan welas asih dari Buddha yang tak terbatas.


7.       Panji Kemenangan (Skt. Dhvaja; Tib. Gyel-tsen)

Panji kemenangan melambangkan kemenangan ajaran Buddha atas kematian, kebodohan, ketidakharmonisan dan hal negatif lainnya yang muncul di dunia. Panji ini juga melambangkan kemenangan ajaran Buddha atas semua kekuatan berbahaya dan merusak.


8.       Roda Emas (Skt. Chakra; Tib. Kore-low)

Roda emas Buddha Dharma melambangkan keberuntungan dari ajaran Buddha yang terus berputar (masih terus ada) baik dalam hal pengajaran maupun realisasi yang terjadi di semua alam dalam setiap waktu yang menyebabkan semua makhluk berkesempatan untuk mengalami kebahagiaan dari perbuatan bajik dan pembebasan.


Nah, itulah arti dari kedelapan simbol keberuntungan ini.
Jika Anda ingin lebih jauh mengetahui makna dari 8 simbol ini silahkan membaca buku “The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs” karya Robert Beer

Semoga semua makhluk berbahagia

Sumber:
1. Beer, Robert. 1999. "The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs". Shambala 
         Publication, Massachusetts, USA.
2. Rush, John A. "The Eight Auspicious Symbols of Buddhism A Study in Spiritual 
          Picture". 30 Januari 2015.                         http://www.clinicalanthropology.com/images/EightAuspiciousSymbols.gif