Showing posts with label Sumatikirti. Show all posts
Showing posts with label Sumatikirti. Show all posts

Thursday, January 28, 2016

Program Pembelajaran Lamrim

Jangan lewatkan penjelasan Prolam di KCJ pada Minggu, 31 Februari 2016 ini!

Belajar Dharma serius? Bersertifikat? Yes!

Saturday, January 9, 2016

2016, Let's dedicate this year for seriously learning Dharma

Bulan Januari 2016 ini dimulai dengan sharing dari Tim Sumati Kirti mengenai teaching dari Suhu Bhadra Ruci pada Maha Pranidhana Puja 2 pada bulan Desember 2015 lalu.

Kadam Choeling Indonesia artinya pusat belajar aliran Kadampa. Di sini anak-anak belajar Dharma, Dharma Center.
KCI bukan toko, melainkan sekolah.
Di sini orang-orang datang bukan saat ada masalah saja dan setelah masalah hilang tidak datang, namun orang-orang datang juga saat keadaan baik. Di saat ke depannya, ketika anak-anak KCI menemukan masalah apa pun, mereka bisa mengatasi segala masalahnya dengan bekal yang mereka dapat selama belajar di KCI.

Dulu selama kita kuliah, kita menghabiskan waktu banyak untuk belajar kuliah. Apakah kita pernah menghabiskan waktu untuk belajar Dharma?
Kita perlu bertanya terlebih dahulu, apa pentingnya Dharma untuk kita?
Adakah yang setelah belajar Dharma menjadi lebih baik? Menjadi berkurang marahnya, menjadi lebih sabar?
Kalau begitu, kita seharusnya lebih banyak put an effort di belajar Dharma.
Selama ini kita belajar tekstual, dan itu harus dimasukkan ke hati, bukan hanya di otak saja, sehingga kita bisa berubah.

Gubernur KCJ mengingatkan kembali bahwa di tahun 2015 lalu kita tak bisa bertemu dengan Guru kita karena kesehatan memburuk.

Kita belajar saling bergantungan dan karma (aksi-reaksi) ada Guru ada murid, ada murid maka akan ada guru. Kemarin Guru tak bisa datang, apakah karena Gurunya yang tak sanggup? Atau karena kita yang tak sanggup menerima ajaran dari Guru?
Kita harus benar benar belajar lebih banyak agar dapat menjadi wadah yang sanggup menerima ajaran dari Guru.

Di tahun 2016 ini kita harus serius untuk belajar Dharma, bersyukur KCJ merupakan center pilot dimana akan diadakan program dari Sumati Kirti, yaitu Program Pembelajaran Lamrim (Prolam), info lebih lanjut akan segera dikeluarkan.

Belajar serius ini bukan hanya jargon main-main saja, tapi kita harus serius memandang hidup kita. Kita boleh bekerja, bermain, dll, tapi kita harus tetap punya tujuan hidup, yaitu memperjuangkan spiritual. Bekerja dan hal lainnya menjadi pelengkap kita mencapai tujuan itu. Segala sesuatu harus menunjang spiritual, bukan sebaliknya.

Di tahun ini kita harus buat resolusi, kita harus meletakkan itu jadi yang utama, dia prioritas, menjadi nomer satu. Kita harus lebih disiplin terhadap diri kita.

Kalau kita belajar serius, ada sesuatu yang berubah di diri kita, komunitas kita dan bahkan kita bisa sampai menyebarkan Lamrim ke nusantara. Ini sesuai dengan harapan Guru-guru kita.

Jadi, semangat semua! 😁

Thursday, December 10, 2015

All Roads Lead to This

Artikel ditulis oleh Yanto Tanuwijaya

Yes.. All roads lead to this yaitu kematian. Kedengarannya sangat pesimis sekali. Tapi jangan khawatir, sebenarnya ini adalah artikel yang sangat optimis. Keep reading..

Ketika kita berbicara mengenai kematian, tentu saja kita harus membicarakan tentang kehidupan juga. Ini adalah dua sisi mata uang yang sama dan tentu saja sangat berkaitan erat. Mengapa sangat berkaitan erat? Bukannya dua hal ini adalah dua peristiwa yang sangat berbeda?

Karena kematian akan mempengaruhi kehidupan dan juga sebaliknya, kehidupan akan mempengaruhi kematian. Ketika kita mengalami sebuah kejadian yang hampir merenggut nyawa kita, apakah itu sebuah kecelakaan atau vonis dokter yang mengatakan kita tidak akan hidup lebih lama lagi, tingkah laku kita akan berubah. Kita akan memikirkan hal yang berbeda dari kehidupan kita.

Kita akan memikirkan bagaimana kehidupan kita. Apa yang sudah saya lakukan dalam kehidupan ini? Apakah banyak yang baik atau banyak yang buruk? Kita mencoba mencari cara untuk memanfaatkan kehidupan yang kita punya sekarang. Sebelum waktunya habis.

Banyak orang yang mengalami perubahan setelah mereka mengalami kejadian-kejadian seperti ini. Kebanyakan adalah hal-hal yang positif. Bukan menjadi mendendam tapi malah menjadi lebih memaafkan. Bukan membenci malah menjadi berwelas asih. Ini adalah transformasi positif terhadap kehidupan kita dari kejadian hampir meninggal.

Oleh karena itu, salah satu yang harus direnungkan setiap hari adalah mengenai kematian khususnya kematian kita sendiri. Jika melihat sebuah fenomena kematian, apakah di koran atau melihat ada makhluk yang mati, kita harus merefleksikan fenomena kematian itu terhadap diri kita sendiri. Kita tahu bahwa kita juga pasti akan mati dan kita juga tidak dapat menentukan kapan kita akan mati.

Sebuah kutipan dari Kumpulan Ucapan-ucapan yang Menggembirakan yang bisa dilihat pada Pembebasan di Tangan Kita jilid 2:

Diantara sekian banyak orang yang terlihat saat fajar,
Beberapa di antaranya tidak akan terlihat lagi ketika malam menjelang
Di antara banyak orang yang terlihat pada malam hari
Beberapa di antaranya tidak akan terlihat lagi ketika subuh menjelang

Kutipan ini benar-benar menggambarkan kondisi kita saat ini. Kita tidak mempunyai kontrol sama sekali atas kematian kita. Kita belum bisa lepas dari kematian.

So, harus bagaimana?

Kita masih memiliki kehidupan. Kita masih mempunyai waktu untuk mempersiapkan kematian. Sama seperti orang-orang yang mengalami kejadian hampir meninggal, jika kita terus menerus merenungkan kematian kita, kita akan tergerak untuk menggunakan kehidupan kita yang sekarang untuk mempersiapkan kehidupan yang berikutnya.

Kenapa begitu? Apakah kita tidak boleh menikmati kehidupan kita yang sekarang saja? Boleh saja kita menikmati kehidupan kita yang sekarang, tapi apakah kita akan siap dengan konsekuensinya?

Banyak orang yang sangat fokus pada kehidupan yang sekarang, pada akhir hidupnya, merasakan sangat menyesal. Ketika di ambang kematiannya, mereka menyesal karena tidak siap meninggalkan kehidupan yang sekarang. Dan yang lebih parahnya, melakukan banyak karma buruk untuk menikmati kehidupan yang sekarang sehingga hampir pasti akan menuju ke alam rendah.

Kenapa kita harus memikirkan kehidupan mendatang? It’s very simple. Karena kita tahu kita tidak akan hidup lama, maksimal 100 tahun. Tapi sekarang sangat banyak orang yang sudah meninggal di umur 60 tahunan. Dan setelah itu, kita akan terlahir kembali dan mati dan lahir lagi dan mati dan lahir lagi. Berulang-ulang dan untuk waktu yang sangat lama.

Sebenarnya ini sama saja dengan berinvestasi. Jika kita memenangkan lotere 1 milyar, apakah kita akan habiskan saat itu juga? Atau kita akan investasikan lagi sehingga menghasilkan uang lebih banyak lagi? Ya kehidupan kita yang sekarang ini adalah modal uang lotere tersebut. Kita bisa menggunakan modal yang kita punya untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik pada kehidupan-kehidupan berikutnya.

Perubahan orientasi hidup ini akan membawa kita untuk memanfaatkan kehidupan kita sekarang untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih mulia yaitu kehidupan mendatang yang lebih baik, pembebasan dari samsara dan pencapaian kebuddhaan. Ya modal kita yaitu kehidupan ini mempunyai potensi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan merenungkan kematian kita.

Mari berinvestasi menggunakan kehidupan kita sekarang untuk mencapai tujuan-tujuan yang mulia.

Sarwa Manggalam.

Sunday, November 29, 2015

Special Weekend with Tenzin Chograb

"Ibarat seekor anak gajah yang mendambakan kenikmatan beberapa suap
Rumput yg tumbuh di tepi lembah yg dalam dan
Akibatnya jatuh ke jurang yang dalam tanpa mendapat sesuap pun,
Demikian pula halnya mereka yg mendambakan kenikmatan-kenikmatan di dunia ini."
~Sisya-lekha

Pada Sabtu, 28 November 2015 dan Minggu, 29 November 2015 ini, warga KCJ mengikuti kegiatan yang cukup berbeda dari biasanya, yaitu kelas spesial bersama Biksu Tenzin Chograb. Peserta yang hadir dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4-8 orang masing-masing kelompok) yang dipimpin oleh tim Sumati Kirti. Setiap kelompok memiliki tema diskusi masing-masing. Tema diskusinya antara lain adalah:


- Batin dan Faktor Mental
Manusia terdiri dari 5 agregat dan 51 mental faktor, 4 faktor mental yang selalu hadir, 11 faktor mental bajik dan 27 faktor mental tak bajik (6 klesha akar dan 20 klesha sekunder).

- Madhyamika (Middle Way)
Mengajarkan jalan tengah agar kita tidak ekstrim ke kiri maupun ke kanan. Tidak ekstrim ke nihilisme maupun eternalisme. Hukum sebab akibat yang saling bergantungan di mana ada sesuatu yang bergantung, yang tidak ada adalah sesuatu yg berdiri sendiri. Segala sesuatu yang komposit tidaklah kekal akan selalu berubah. Hanya fenomena non-komposit, yaitu keBuddhaan yang bersifat kekal.


- Jalan Mudah
Cara mudah memberikan compassion ke semua makhluk. Di sini coba direnungkan berkah maupun realisasi apa yang telah dicapai kemudian mencoba membagikan berkah/blessing ini dengan compassion untuk semua makhluk.


- Uttara-Tantra
Sifat Kebuddhaan merupakan mental kontinum yang unggul, tidak berawal, tidak memiliki tengah dan tidak memiliki akhir. Ia ada di batin setiap mahkluk, namun tertutup klesha. Layaknya kaca yang tertempel debu yang dapat dibersihkan, layaknya buah yang banyak kulitnya yang dapat dikupas satu persatu.

- 37 Praktik Bodhisattva

Saat ibu-ibu yang sangat baik terhadap kita dari awal yg tak bermula sedang menderita, apalah artinya sebuah kebahagiaan diri kita sendiri?

Oleh karena itu, membangkitkan batin pencerahan dengan tujuan untuk membebaskan semua makhluk yg tak terhingga jumlahnya adalah Praktik Bodhisattva.

Salah satu poin prakrik Bodhisattva adalah bahwa kita harus menghormati orang yang menghina diri kita, itu adalah praktik Bodhisatwa.


Setelah mengikuti diskusi selama kurang lebih 2 jam, peserta dikumpulkan kembali dalam forum besar dan kemudian masing-masing kelompok menceritakan apa yang mereka dapat dari kelompok tersebut. Ada beberapa pertanyaan yang kurang dimengerti, ditanyakan dan dijawab oleh Tim Sumatikirti dan Biksu Tenzin Chograb.


Monday, November 23, 2015

Kamu Buddhis? Yakin?

Artikel ditulis oleh Hendra Wijaya


Saya terkadang sedih melihat nasib umat Buddhis di Indonesia. Banyak dari kita yang berpikir bahwa tidak perlu belajar Dharma dalam-dalam, yang penting tahu mesti berbuat baik, kurangin berbuat buruk, itu aja cukup kok.

Ada juga yang berpikir kalau setiap minggu ke wihara aja cukup lah. Di wihara kan saya berbuat baik, saya berdana, saya mendengarkan Dharma, saya memberi persembahan kepada Biksu Sangha dan Buddha.

Ada juga yang berpikir, kamu jangan belajar dalam dalam, nanti kamu jadi biksu loh. Nanti kalau kamu jadi Biksu, siapa yang meneruskan sisilah keluarga kita, bisnis yang sudah papa rintis bertahun-tahun? Nanti tidak ada yg urusin papa mama ketika kami tua. Atau sebaliknya, nanti siapa yang ngurusin kamu ketika kamu tua nanti?

Ada juga yang bukannya ke wihara tapi ke kelenteng, menggenggam puluhan dupa dengan asap mengepul, memohon-mohon usaha lancar, cepat kaya, banyak rejeki, keluarga sehat, damai dan tentram. Saya tidak membahas mengenai berdoanya, berdoa tentu sah-sah saja. Tetapi yang saya bahas adalah objek dan subjeknya itu loh.

Lalu ada juga yang ke wihara untuk mencari jodoh, masuk panitia untuk tujuan yang sama juga. Atau pun untuk mencari kesibukan. Ketika sudah lanjut usia, yah daripada dirumah bengong, mending ikut bantu-bantu deh, ikut baca doa berduka, baksos dan lain sebagainya.

Lebih parah lagi, ke wihara hanya ketika pemberkatan pernikahan saja.

Seribu satu kegiatan kita ini sebagai umat Buddhis, Anda mungkin akan mengkritik saya dengan mengatakan, loh ke wihara, persembahan, berdana, dengar ceramah itu kan baik, walaupun hanya di hari minggu. Jadi panitia di wihara atau ikut organisasi di wihara kan baik, daripada ikut kegiatan yang buruk buruk, masih lebih baik kan kita aktif di wihara?

Ya, kita mungkin berpikir itu berbuat baik. Tetapi kita lupa apa itu artinya menjadi seorang Buddhis. Buddhis yang sesungguhnya. Apa itu Buddhis yang sesungguhnya?

Begini, Pangeran Sidharta capek-capek duduk di bawah pohon Bodhi untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk. Setelah beliau mencapai pencerahan, Beliau mengajar selama 35 tahun agar umat manusia mengikuti jejak beliau mencapai pencerahan yang SAMA dengan beliau.

Dua ribu lima ratus tahun kemudian, tujuan Buddha pun tetap sama tidak berubah. Ingin kita mencapai pencerahan seperti beliau. Namun lihatlah kenyataannya, pelajaran paling sederhana dari sang Buddha pun tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari hari kita. Apa itu?

Bahwa semua contoh yang saya sebutkan di atas, sebaik apapun itu, SEMUANYA hanya ditujukan untuk KEHIDUPAN SAAT INI SAJA! Tidak satupun tindakan yang kita anggap bajik diatas ditujukan untuk itu. Ini sama persis seperti yang suka dikatakan oleh motivator-motivator ulung. Untuk menjadi kaya raya, 1). Set dulu goal anda. Apa yang ingin anda raih, harus clear, harus jelas, spesifik. 2). Yakin bahwa anda bisa mencapainya. dan 3). Bayangkan dan hiduplah seakan akan anda telah memperolehnya. Begitu kan kurang lebihnya?

Loh, bukannya sang Buddha juga mengajarkan hal yang sama? Kalau umat Buddhis hanya mikirin kehidupan saat ini, apakah GOAL untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk akan bisa dicapai? apakah Nirwana yang disebut-sebut para Biksu/Biksuni dalam ceramahnya mampu kita capai? Apakah bisa kita capai kalau kita bahkan tidak pernah berpikir untuk ingin mencapainya? Sepertinya tidak mungkin.

Jangan-jangan kita sendiri belum percaya dengan adanya kehidupan yang akan datang yah? Wah gawat deh, padahal pelajaran mendasar sang Buddha adalah mengenai karma dan tumimbal lahir. Untuk mencapai kebuddhaan, Buddha Sakyamuni menempuh 3 kalpa besar utk bisa menjadi Buddha. Ini bukti jelas bahwa kehidupan akan datang itu nyata ada didepan mata dan kita pasti akan menjalaninya. Pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk mempersiapkan kehidupan kita yang akan datang? NOL BESAR.

Contoh, kalau ketika kita SMA tidak memiliki cita-cita yang sangat kuat ingin jadi pilot, apakah mungkin kita akan berjuang untuk mencapai itu? Jadi, untuk mencapai tujuan yang kita mau, tentunya kita harus set goal kita dulu. Tidak perlu motivator ulung untuk ajarkan itu semua, Sang Buddha sejak 2500 tahun yang lalu sudah ajarkan itu semua. Kita nya aja yang tidak sadar.

Nah, masuk ke poin kedua saya. Ayah saya bilang: “Huei, gak usah ajarin papa tentang karma dalem-dalem, yang penting papa gak buat jahat, dan papa berbuat baik, itu aja udah cukup.” Inilah pola pikir kebanyakan orang. Merasa ga perlu belajar. Merasa paling pintar sedunia. Dari ketiga racun dunia (lobha, dosa, moha) mana yang paling parah penyakitnya? Jawabannya adalah Moha. Karena kita tidak tahu maka kita tidak ingin berubah. Justru pelajaran pertama kita adalah HARUS belajar Dharma untuk menghapus ketidaktahuan.

Loh, saya belajar Dharma kok, saya kan tiap hari minggu ke wihara dan mendengarkan ceramah Biksu/Biksuni Sangha, itu termasuk belajar kan? Betul itu mendengarkan dharma, tapi coba bandingkan dong, Anda jadi S1 aja butuh 4 tahun kan? Kuliah tiap hari supaya jadi sarjana, ekstra 2 tahun lagi jadi S2, entah berapa tahun lagi untuk jadi professor S3. Berapa mata kuliah dan berapa buku tebal yang mesti kita lahap untuk jadi sarjana? Lalu menurut Anda apakah dengan ke wihara setiap minggu CUKUP untuk membebaskan kita dari samsara? Berapa persen dari ceramah itu yang kita ingat? Berapa banyak buku Dharma yang kita baca? Dan berapa persen dari yang kita ingat itu akan kita praktikkan?

Jadi, jangan remehkan belajar Dharma. Dengan belajar Dharma sebenarnya kita mendapatkan dua manfaat. Pertama, kita menghilangkan ketidaktahuan terhadap hal tersebut dan kedua kita mendapatkan kebijaksanaan dari hal tersebut. Suatu hal luar biasa yang diajarkan oleh sang Buddha. Moha (ketidaktahuan) berkurang dan Panna (kebijaksanaan) meningkat. Kalau hitungan orang Cina ini dibilang investasi paling menguntungkan, gak mungkin rugi.

Pelajaran selanjutnya, mengenai sembahyang ke kelenteng, saya tidak melarang orang pergi ke kelenteng. tentunya setiap doa itu baik. Kita ke kelenteng mempersembahkan dupa, minyak, uang, lilin, lalu kita berdoa minta ini itu. Coba perhatikan doa-doa kita. Apakah doa-doa kita semuanya isinya hanya untuk kehidupan ini saja? Adakah yang isinya supaya kehidupan akan datang lebih baik, minta lahir jadi manusia buddhis lagi, lebih baik, lebih cerdas, lebih kaya dari kehidupan ini, minta cepet cepet keluar dari samsara? Saya tidak yakin tuh kalau doanya akan seperti itu kalau dia tidak belajar Dharma dengan baik.

Lalu ya, jelas-jelas isi Tisarana yang pertama itu kan AKU BERLINDUNG KEPADA BUDDHA. Loh kok jadi nya kita minta perlindungan kepada dewa-dewi? Kenapa kita tidak berlindung kepada Buddha? Apakah karena dibilangnya, “Dewa kan masih hidup, Buddha kan sudah mati?”

Sudah lupakah kita akan tekad Pangeran Sidharta untuk membebaskan semua makhluk dari samsara? Apakah setelah parinibanna sang Buddha melupakan janjinya? Meninggalkan kita sendirian di samsara ini? Wah, berarti Buddha jahat dong meninggalkan kita di samsara.

Kenyataannya tidak begitu, Buddha dengan segala kemampuannya dengan tubuh Rupakaya, Samboghakaya, Dharmakaya-Nya hingga detik ini pun masih bekerja untuk membebaskan semua makhluk dari samsara.

Lalu kenapa kita masih mencari perlindungan ke tempat lain? Ini menekankan kembali pentingnya belajar agar kita tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Ada juga yang bilang, tidak perlu belajar banyak-banyak, yang penting kita banyak meditasi. Nah, ini juga salah kaprah. Ini seperti seorang mahasiswa semester 1 disuruh langsung operasi bedah. Apakah Anda mau dioperasi oleh mahasiswa ini? Apa alasan Anda menolak dia? Sederhana kan? Emang dia tau apa tentang operasi, dia kan masih semester 1? Dokter umum aja masih belum lulus. Belajar dulu deh yang bener. Mungkin kira-kira begitu jawabannya.

Nah, sama kan dengan meditasi. Apa yang mau kita meditasikan kalau kita gak punya modal untuk bermeditasi. Coba kita pikir baik-baik, apa tujuannya kita bermeditasi? Untuk mencapai nirwana kan? Untuk keluar dari samsara kan?

Kenapa kita ingin keluar dari samsara? Harusnya kita mengisi otak kita dulu dengan informasi yang cukup mengenai samsara. Kita harus belajar dulu kenapa kita pengen keluar dari samsara?

Salah satu jawabannya adalah karena samsara itu tidak enak (atau enak ya???), karena saya capek, lahir lagi, tua lagi, sakit lagi, mati lagi, berulang ulang tak terhitung banyaknya. Saya ingin menghentikan lingkaran penderitaan ini. Maka kita perlu belajar mengapa kita bisa terlahir lagi dan lagi melalui topik 12 mata rantai.

Mengutip lagi kata-kata motivator, ‘Know your enemy.’ Pelajari dulu musuh kita, siapa musuh kita untuk keluar dari samsara? Musuh kita adalah kilesa. Nah berarti kan kita perlu belajar dulu toh tentang kilesa.

Sehingga, ketika kita meditasi, kita TAHU DENGAN JELAS, siapa yang harus kita basmi.

Balik lagi ke contoh dokter bedah, dokternya harus punya pengetahuan lengkap tentang cara bedah yang benar, punya pengetahuan mengenai penyakit kita, dan yang paling penting TAU CARA OPERASI-nya. Sebenarnya sama aja kan dengan ajaran Sang Buddha. Lalu bagaimana mungkin kita berharap bahwa dengan pengetahuan kita yang seperti mahasiswa kedokteran semester 1 tersebut, sanggup bermeditasi dan bisa keluar dari samsara tanpa melalui tahapan belajar? Impossible!

Jadi, umat Buddhis itu isinya tidak cuma pergi ke wihara seminggu sekali, berdana seminggu sekali, pasang lilin seminggu sekali, dengar ceramah seminggu sekali. Ini ibarat seminggu sekali nabung seribu rupiah lalu berharap hasil investasi bisa jadi milyaran dalam sekejap. Mana mungkin? Anda pasti lebih jago hitung daripada saya.

Saran saya, ambil waktu untuk merenung, sebenernya mau nya kita apa sih jadi manusia di kehidupan ini? MINIMAL kita harus mendedikasikan hidup kita untuk kehidupan akan datang yang lebih baik, atau kalau bisa lebih baik lagi, ingin keluar dari samsara, atau yang paling agung, ingin menjadi Samma-Sambuddha seperti Buddha Sakyamuni. Toh, memang ini tujuan utama nya kita menjadi buddhis, yaitu menjadi seorang Buddha. Ketidak percayaan diri kita sendirilah yang menghalangi itu.

Bagaimana caranya? Hanya TIGA. BELAJAR, BELAJAR, BELAJAR!!!
Hilangkan Moha kita hingga modal kebijaksanaan (pengetahuan) kita cukup.

Beberapa topik penting menurut saya adalah,
  1. Kemuliaan terlahir sebagai manusia (ini agar kita merasa beruntung terlahir sebagai manusia dan memiliki harapan untuk mencapai kebuddhaan)
  2. Kematian. Bahwa sehebat apapun kita, kita pasti mati dan lebih gawat lagi, kita tidak tahu kapan kita akan mati.
  3. Alam Rendah. Setelah kematian, kalau kita selama hidup gak pernah mikirin kehidupan akan datang, maka kita kan jatuh ke alam rendah, entah itu jadi hantu kelaparan, atau binatang, atau neraka panas dan dingin.
  4. Tisarana. Setelah membangkitkan ketakutan akan kematian dan alam rendah yang menghantui kita, kita mencari perlindungan kepada Buddha Dharma Sangha. Inilah perlindungan sesungguhnya.
  5. Karma. Setelah memohon perlindungan, kita mempelajari karma dengan baik agar kita tidak jatuh ke alam rendah dan agar dapat mengumpulkan kesempurnaan enam paramita.

Inilah minimal topik topik yang perlu kita pelajari, renungkan, meditasikan untuk menjamin agar kehidupan mendatang kita menjadi lebih baik. Tak lupa, selalu dedikasikan apapun benih kebajikan yang kita miliki untuk kehidupan kita yang akan datang.

Ingat, karma kita adalah milik kita sendiri, bukan milik orang lain. Mulailah kumpulkan sebab sebab untuk kehidupan akan datang yang kita impikan.

Saya dedikasikan kebajikan dari membuat tulisan ini untuk umur panjang semua guru Dharma yang Agung, dan semoga siapapun yang membaca tulisan ini dapat memetik manfaat yang sebesar besarnya.

Semoga semua kehidupan kita yang akan datang akan lebih baik lagi dari yang sekarang, dan semoga kita segera mencapai pencerahan yang lengkap sempurna demi semua makhluk.

Sarva Manggalam.

Monday, November 16, 2015

Sudahkah Anda Menemukan Guru Spiritual?

Sebagai seseorang yang ditutupi klesha, kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan cenderung memilih Guru yang memuji-muji kita dan menolak Guru yang mengkritik ataupun menghina kita.
Kita tidak dapat melihat makna dari kata-kata beliau dan justru membentengi diri kita dengan berlapis-lapis ego kita.
Kita perlu melihat manakah Guru yang betul-betul dapat mengurangi klesha kita, merubah sikap kita, mendorong kita untuk berubah. Bukan seorang Guru yang justru menaikkan ego kita, kseombongan kita.

"Jika engkau mengandalkan siapapun yang lebih unggul -sepenuhnya tenteram,
Dan diberkahi dengan disiplin etika,
Dan kebijaksanaan yang melampaui,
Engkau akan menjadi lebih unggul bahkan ketimbang mereka yang lebih unggul."
~Mitra Varga

Di zaman kemerosotan ini, memang sangat sulit mencari Guru yang memenuhi 10 kualitas -berdisiplin, tenang, sepenuhnya tenteram, memiliki kualitas baik yang melebihi muridnya, kaya pengetahuan tekstual, pengetahuan realitas mendalam, perhatian cinta kasih, mahir dalam membimbing murid-murid, dan meninggalkan keputusasaan.
Namun sangat penting sekali untuk dapat menemukan Guru tersebut. Karena semua sumber pencapaian spiritual berasal dari Guru.

"Pada akhirnya semua topik Lamrim akan bermuara pada topik Berbakti pada Guru Spiritual."
~Lenny Hidayat

Mengapa begitu?

Akan dibahas di kelas Minggu, 22 November 2015 ya...



Monday, August 31, 2015

Berguru pada Guru Spiritual

Ditulis oleh poeterafajar,
Jakarta, 27 Juli 2015

Berbakti pada guru spiritual merupakan sebuah perjalanan, yang tak akan pernah putus sampai kita mencapai Kesempurnaan Batin. Perkembangan batin seseorang tidak bisa diukur berdasarkan waktu, melainkan berdasarkan seberapa kuat kemauan atau motivasi seseorang untuk mencapai keadaan batin yang stabil. Bukan persoalan berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkembang, tetapi lebih mengarah ke seberapa kuat kemauan kita untuk  bisa bekembang.

Aku berasal dari keluarga Tionghoa dan aku dididik berdasarkan kebudayaan Tionghoa yang keras. Yang dimana anak laki-laki tidak boleh nangis, air mata adalah simbol kelemahan laki-laki, dan anak laki-laki terutama anak pertama harus melakukan tanggung jawab ini itu segala macam, membawanama besar keluarga, menghasilkan banyak duit, mengangkat status keluarga. Dan yang paling parah adalah bahkan anak laki-laki ini tidak tahu-menahu kenapa dia harus melakukan semua hal ini. “Jangan banyak tanya. Just do it…” kata-kata ini yang biasa terlontar dari mulut ortu yang mungkin malas menjelaskan mengenai sesuatu kepada anaknya. Terlalu cepat kalimat ini dilontarkan kepada seorang anak usia 6-7 tahun, yang tidak tahu bagaimana caranya berbakti, meraka akan berontak atau mengikuti ucapan orang tuanya atas dasar perasaan takut dipukul.

Secara langsung ataupun tidak, kita tak memberi kesempatan pada diri kita untuk mengenal dan mengembangkan hati kita. Yang ada malah kita sibuk meng-copycat kepribadian orang tua kita dan mengesampingkan dan even worse membekukan hati kita.
Bukan maksud untuk mencemooh kebudayaan tionghoa, aku selalu mempercayai sebuah kebudayaan bisa bertahan hidup selama beribu-tahun sampai sekarang pastilah didasari oleh nilai-nilai luhur dan bajik. Yang menjadi masalah adalah seberapa dalam  persepsi manusia dalam memahami nilai-nilai tersebut. Bukan pada budayanya tapi lebih kepada orang yang memahami dan mengimplementasikan budaya sebagai way of life itu yang perlu dipertanyakan. Dengan pemahaman kebudayaan yang setengah-setengah, maka kita akan mendapatkan hasil yang setengah-setengah pula or even worse.

“Banyak orang merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan pada hidup mereka.”
– Suhu Bhadraruci-

Statement ini merupakan alasan utama yang sangat mendasar dan kritis kenapa kita harus mengenaldiri kita. Jika kita tidak mengenal hati kita,bagaimana kita dapat menemukan cara untuk mengembangkan diri kita? Kita sangat sering mengacuhkan hati kita, hal ini kita lakukan selama bertahun-tahun dan membuat hati kita menjadi keras.
Hati yang keras adalah hati yang selalu merasa diri baik-baik saja, I’m fine, takut melihat ke dalam hati kita yang sebenarnya, afraid of who we are exactly, secara tidak langsung kita membuang diri kita yang sebenarnya. Dan akhirnya kebanyakan orang hanya mengikuti jalan hidup orang yang sukses menurut diri kita dan orang sekeliling kita. Inilah yang tahapan bagaimana mainset bisa terbentuk. Tak heran orang bijak sering berkata: “Orang disekitar dan lingkunganlah yang membentuk diri kita.”

Orang yang berhati keras adalah orang yang memiliki hidup yang menderita but meraka tidak tahu kalau mereka menderita, Jika mereka menyadarinya saat itu pula mereka bakal mencari cara untuk memperlembut hati mereka logically speaking, kita mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Mereka hidup tidak berdasarkan apa kata hati sendiri, melainkan apa kata orang lain dan lingkungan sekitar. Hidup bukan atas kemauan hati sendiri. Bagaimana kita tahu apa yang kita mau, jika kita tidak mengenal dengan baik siapa diri kita?

“Cry is not a crime”
–Bude Novi-

Kalimat ini pula yang menyadarkanku akan seberapa kerasnya aku terhadap hatiku selama 20 tahun ini. “Nangislah pada saat ingin menangis dan jangan ditahan. Rasakan dan pahami kemudian ekspresikan hatimu, jadikan hatimu lembut.” Masih teringat ucapan Bude yang membekas pada ingatanku sampai sekarang.
 
Sejak saat itu,aku berusaha mengenal dan menerima diriku sendiri, dan Aku aware akan kondisi diriku. Dari sikap aware ini baru bisa merasakan seberapa menderita dan tak nyamannya diriku, dan karena  aku tahu aku menderita, aku mencoba mencari cara untuk tidak menderita, lebih jauh lagi pada saat kita mencari, mendapatkan dan kemudian melakukan cara tersebut, aku menoleh ke belakang dan aku sadar bahwa aku tak sendirian, banyak orang yang 'terjebak’ dalam hal yang sama. Baru timbul rasa kasihan melihat orang lain menderita dan mencoba untuk menolong mereka. Inilah pemikiran yang sangat simple dan mendasar dari batin welas asih.

Hati yang lembut adalah hati yang menerima diri, baik-buruk, kuat-lemah, apa adanya. Dari hati yang lembut aku belajar banyak hal. Aku paham seperti apa diriku, apa passion-ku yang sebenarnya, dan bahkan tahu bagaimana cara untuk mengembangkan batin dan diriku yang akhirnya berujung pada kestabilan hati dan kebahagiaan sejati.

Suhu sering berkata : “Batin welas asih adalah sumber dari semua aktivitas bajik.” Batin welas asih tak akan pernah muncul dari hati yang keras, batin welas asih muncul pada hati yang lembut. Sebuah batin yang bisa merasakan penderitaan diri sendiri dan empati pada orang lain. Singkat kata dari kelembutan hati inilah yang bisa membuat keseluruhan aktivitas menolong yang kita lakukan menjadi bajik.

Itulah sebabnya tak heran dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat seseorang (termasuk diriku) yang memiliki hati yang keras sepanjang hidupnya bahkan sampai dia mati. Sebaliknya, ada orang yang awalnya berhati keras tapi lama-kelamaan menjadi tambah lembut dan juga memiliki batin yang semakin stabil seiring bertambahnya usia.

Dan sekarang pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan ke diri kita masing-masing adalah  ‘Apakah kita sadar (aware) akan kondisi batin kita?’ Kemudian setelah kita sadar tentang seberapa parahnya batin kita, apa yang kemudian kita lakukan? Apakah tetap membiarkannya atau bertekad untuk berubah dan berkembang ke kondisi batin yang lebih stabil?

Ya, memang tak dapat dipungkiri bahwa seseorang menjadi keras atau lembut tergantung didikan orang tua, kondisi lingkungan dan berbagai faktor eksternal lainnya. Namun terlepas dari itu yang paling penting sebenarnya kitalah yang (secara sadar atau terpaksa) memilih untuk menuruti mereka atau tidak.
Namun kebanyakan situasi sering mengarahkan kita menuju ‘keterpaksaan’ dalam memilih. Dan tak jarang pula akibat dari ‘keterpaksaan’ tersebut menimbulkan kegagalan atau hasil yang tak sesuai ekspektasi. Mengapa kita sering mengarah ke situasi ‘terpaksa’? Karena kita tidak cukup kuat dan stabil untuk memilih yang mana sering kali menghasilkan sikap ragu dalam menentukan pilihan. Mengapa ragu? karena kita kurang wawasan dan kurang belajar. Mengapa kita malas belajar?  Karena tidak merasa pelajaran tersebut bermanfaat untuk kita.

Biasanya hal ini yang terjadi pada self-talk kita, dan bagaikan lingkaran setan, pola ini akan terjadi terus-menerus selama kita tidak memutuskan lingkaran tersebut dan berkembang. Untuk memutuskan lingkaran tersebutlah kita butuh 2 hal, yaitu Guru yang handal dan kesungguhan hati untuk mengembangkan batin.

Seorang Guru yang handal tentu merupakan seseorang yang sudah melewati fase ‘keterpaksaan’ tadi dan tahu cara melewatinya. Dan tentunya beliau hanya bisa mengajar dan mendidik, mau atau tidak, nurut atau tidak, kembali lagi ke diri kita masing-masing.
Berguru itu sangat tidak mudah, seperti berhadapan pada batin kita sendiri ibarat cermin. Memperlihatkan seberapa parah dan hitamnya batin kita. Ini merupakan pelajaran seumur hidup yang tidak gampang untuk direalisasikan. Siapa sih yang mau mengakui bahwa batin kita buruk dan mementingkan diri sendiri? Siapa sih yang mau dikritik? Siapa sih yang tidak mau dipuji dan senang dengan pujian?

Dan yang lebih parahnya lagi, siapa sih yang mau dengan rela mengkritik batin kita yang hitam dan memarahi sikap mementingkan diri sendirinya kita? Kalau bukan guru kita sendiri. Padahal beliau tahu jelas, dengan beliau mengkritik diri kita, beliau akan dibenci.

Beliau mengkritik karena beliau kasihan, peduli dan sayang terhadap kita. Beliau tidak ingin kita mengalami hal buruk yang dulu pernah beliau alami. Atas dasar inilah yang menjadi pijakan dasar kenapa beliau mau dan rela susah payah mengajari dan mendidik kita. Tetapi kembali lagi beliau tidak bisa hanya bekerja sendiri, tanpa kesungguhan hati dari kita.

“Setelah mengembara dalam samsara, adalah [Para Guruku] yang menemukanku.
Terhalang oleh delusi, adalah Mereka yang membangunkanku dari tidur.
Setelah tenggelam dalam samudra samsara, adalah Mereka yang menarikku keluar.
Setelah tersesat, adalah Mereka yang menunjukkanku jalan yang benar.”

Teramat indah bait yang  dikutip dari Sutra Dasadharmaka diatas. Memang benar orang tua kita sangat berjasa dalam hal memberikan kita tubuh jasmani, namun dengan tubuh jasmani saja tidaklah cukup, kita harus menyadari seberapa berharga tubuh manusia tersebut dan menarik manfaat sebesar-besarnya dari tubuh manusia tersebut. Namun yang mampu menuntun kita setahap demi setahap untuk mencapai realisasi seperti ini tidak lain adalah seorang Guru.

Berkat kebaikan hati beliaulah kita dapat sadar (aware) dan melakukan hal yang benar sehingga menghasilkan kebajikan, menghindari perbuatan buruk dan terhindar dari akibat karma hitam. Bisa dikatakan tanpa Berkah Guru, tak akan ada kebajikan. Tanpa kebajikan, kita akan mati dan kemungkinan besar terjatuh kembali di alam rendah. (Guru adalah dasar dari semua kualitas baik yang aku miliki). Hal inilah yang merupakan sebab mendasar kenapa kita harus berbakti dan bertumpu pada guru spiritual dengan sungguh-sungguh.