Jangan lewatkan penjelasan Prolam di KCJ pada Minggu, 31 Februari 2016 ini!
Belajar Dharma serius? Bersertifikat? Yes!
Jangan lewatkan penjelasan Prolam di KCJ pada Minggu, 31 Februari 2016 ini!
Belajar Dharma serius? Bersertifikat? Yes!
Bulan Januari 2016 ini dimulai dengan sharing dari Tim Sumati Kirti mengenai teaching dari Suhu Bhadra Ruci pada Maha Pranidhana Puja 2 pada bulan Desember 2015 lalu.
Kadam Choeling Indonesia artinya pusat belajar aliran Kadampa. Di sini anak-anak belajar Dharma, Dharma Center.
KCI bukan toko, melainkan sekolah.
Di sini orang-orang datang bukan saat ada masalah saja dan setelah masalah hilang tidak datang, namun orang-orang datang juga saat keadaan baik. Di saat ke depannya, ketika anak-anak KCI menemukan masalah apa pun, mereka bisa mengatasi segala masalahnya dengan bekal yang mereka dapat selama belajar di KCI.
Dulu selama kita kuliah, kita menghabiskan waktu banyak untuk belajar kuliah. Apakah kita pernah menghabiskan waktu untuk belajar Dharma?
Kita perlu bertanya terlebih dahulu, apa pentingnya Dharma untuk kita?
Adakah yang setelah belajar Dharma menjadi lebih baik? Menjadi berkurang marahnya, menjadi lebih sabar?
Kalau begitu, kita seharusnya lebih banyak put an effort di belajar Dharma.
Selama ini kita belajar tekstual, dan itu harus dimasukkan ke hati, bukan hanya di otak saja, sehingga kita bisa berubah.
Gubernur KCJ mengingatkan kembali bahwa di tahun 2015 lalu kita tak bisa bertemu dengan Guru kita karena kesehatan memburuk.
Kita belajar saling bergantungan dan karma (aksi-reaksi) ada Guru ada murid, ada murid maka akan ada guru. Kemarin Guru tak bisa datang, apakah karena Gurunya yang tak sanggup? Atau karena kita yang tak sanggup menerima ajaran dari Guru?
Kita harus benar benar belajar lebih banyak agar dapat menjadi wadah yang sanggup menerima ajaran dari Guru.
Di tahun 2016 ini kita harus serius untuk belajar Dharma, bersyukur KCJ merupakan center pilot dimana akan diadakan program dari Sumati Kirti, yaitu Program Pembelajaran Lamrim (Prolam), info lebih lanjut akan segera dikeluarkan.
Belajar serius ini bukan hanya jargon main-main saja, tapi kita harus serius memandang hidup kita. Kita boleh bekerja, bermain, dll, tapi kita harus tetap punya tujuan hidup, yaitu memperjuangkan spiritual. Bekerja dan hal lainnya menjadi pelengkap kita mencapai tujuan itu. Segala sesuatu harus menunjang spiritual, bukan sebaliknya.
Di tahun ini kita harus buat resolusi, kita harus meletakkan itu jadi yang utama, dia prioritas, menjadi nomer satu. Kita harus lebih disiplin terhadap diri kita.
Kalau kita belajar serius, ada sesuatu yang berubah di diri kita, komunitas kita dan bahkan kita bisa sampai menyebarkan Lamrim ke nusantara. Ini sesuai dengan harapan Guru-guru kita.
Jadi, semangat semua! 😁
Artikel ditulis oleh Yanto Tanuwijaya
Yes.. All roads lead to this yaitu kematian. Kedengarannya sangat pesimis sekali. Tapi jangan khawatir, sebenarnya ini adalah artikel yang sangat optimis. Keep reading..
Ketika kita berbicara mengenai kematian, tentu saja kita harus membicarakan tentang kehidupan juga. Ini adalah dua sisi mata uang yang sama dan tentu saja sangat berkaitan erat. Mengapa sangat berkaitan erat? Bukannya dua hal ini adalah dua peristiwa yang sangat berbeda?
Karena kematian akan mempengaruhi kehidupan dan juga sebaliknya, kehidupan akan mempengaruhi kematian. Ketika kita mengalami sebuah kejadian yang hampir merenggut nyawa kita, apakah itu sebuah kecelakaan atau vonis dokter yang mengatakan kita tidak akan hidup lebih lama lagi, tingkah laku kita akan berubah. Kita akan memikirkan hal yang berbeda dari kehidupan kita.
Kita akan memikirkan bagaimana kehidupan kita. Apa yang sudah saya lakukan dalam kehidupan ini? Apakah banyak yang baik atau banyak yang buruk? Kita mencoba mencari cara untuk memanfaatkan kehidupan yang kita punya sekarang. Sebelum waktunya habis.
Banyak orang yang mengalami perubahan setelah mereka mengalami kejadian-kejadian seperti ini. Kebanyakan adalah hal-hal yang positif. Bukan menjadi mendendam tapi malah menjadi lebih memaafkan. Bukan membenci malah menjadi berwelas asih. Ini adalah transformasi positif terhadap kehidupan kita dari kejadian hampir meninggal.
Oleh karena itu, salah satu yang harus direnungkan setiap hari adalah mengenai kematian khususnya kematian kita sendiri. Jika melihat sebuah fenomena kematian, apakah di koran atau melihat ada makhluk yang mati, kita harus merefleksikan fenomena kematian itu terhadap diri kita sendiri. Kita tahu bahwa kita juga pasti akan mati dan kita juga tidak dapat menentukan kapan kita akan mati.
Sebuah kutipan dari Kumpulan Ucapan-ucapan yang Menggembirakan yang bisa dilihat pada Pembebasan di Tangan Kita jilid 2:
Diantara sekian banyak orang yang terlihat saat fajar,
Beberapa di antaranya tidak akan terlihat lagi ketika malam menjelang
Di antara banyak orang yang terlihat pada malam hari
Beberapa di antaranya tidak akan terlihat lagi ketika subuh menjelang
Kutipan ini benar-benar menggambarkan kondisi kita saat ini. Kita tidak mempunyai kontrol sama sekali atas kematian kita. Kita belum bisa lepas dari kematian.
So, harus bagaimana?
Kita masih memiliki kehidupan. Kita masih mempunyai waktu untuk mempersiapkan kematian. Sama seperti orang-orang yang mengalami kejadian hampir meninggal, jika kita terus menerus merenungkan kematian kita, kita akan tergerak untuk menggunakan kehidupan kita yang sekarang untuk mempersiapkan kehidupan yang berikutnya.
Kenapa begitu? Apakah kita tidak boleh menikmati kehidupan kita yang sekarang saja? Boleh saja kita menikmati kehidupan kita yang sekarang, tapi apakah kita akan siap dengan konsekuensinya?
Banyak orang yang sangat fokus pada kehidupan yang sekarang, pada akhir hidupnya, merasakan sangat menyesal. Ketika di ambang kematiannya, mereka menyesal karena tidak siap meninggalkan kehidupan yang sekarang. Dan yang lebih parahnya, melakukan banyak karma buruk untuk menikmati kehidupan yang sekarang sehingga hampir pasti akan menuju ke alam rendah.
Kenapa kita harus memikirkan kehidupan mendatang? It’s very simple. Karena kita tahu kita tidak akan hidup lama, maksimal 100 tahun. Tapi sekarang sangat banyak orang yang sudah meninggal di umur 60 tahunan. Dan setelah itu, kita akan terlahir kembali dan mati dan lahir lagi dan mati dan lahir lagi. Berulang-ulang dan untuk waktu yang sangat lama.
Sebenarnya ini sama saja dengan berinvestasi. Jika kita memenangkan lotere 1 milyar, apakah kita akan habiskan saat itu juga? Atau kita akan investasikan lagi sehingga menghasilkan uang lebih banyak lagi? Ya kehidupan kita yang sekarang ini adalah modal uang lotere tersebut. Kita bisa menggunakan modal yang kita punya untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik pada kehidupan-kehidupan berikutnya.
Perubahan orientasi hidup ini akan membawa kita untuk memanfaatkan kehidupan kita sekarang untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih mulia yaitu kehidupan mendatang yang lebih baik, pembebasan dari samsara dan pencapaian kebuddhaan. Ya modal kita yaitu kehidupan ini mempunyai potensi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan merenungkan kematian kita.
Mari berinvestasi menggunakan kehidupan kita sekarang untuk mencapai tujuan-tujuan yang mulia.
Sarwa Manggalam.
"Ibarat seekor anak gajah yang mendambakan kenikmatan beberapa suap
Rumput yg tumbuh di tepi lembah yg dalam dan
Akibatnya jatuh ke jurang yang dalam tanpa mendapat sesuap pun,
Demikian pula halnya mereka yg mendambakan kenikmatan-kenikmatan di dunia ini."
~Sisya-lekha
Pada Sabtu, 28 November 2015 dan Minggu, 29 November 2015 ini, warga KCJ mengikuti kegiatan yang cukup berbeda dari biasanya, yaitu kelas spesial bersama Biksu Tenzin Chograb. Peserta yang hadir dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4-8 orang masing-masing kelompok) yang dipimpin oleh tim Sumati Kirti. Setiap kelompok memiliki tema diskusi masing-masing. Tema diskusinya antara lain adalah:
- Batin dan Faktor Mental
Manusia terdiri dari 5 agregat dan 51 mental faktor, 4 faktor mental yang selalu hadir, 11 faktor mental bajik dan 27 faktor mental tak bajik (6 klesha akar dan 20 klesha sekunder).
- Madhyamika (Middle Way)
Mengajarkan jalan tengah agar kita tidak ekstrim ke kiri maupun ke kanan. Tidak ekstrim ke nihilisme maupun eternalisme. Hukum sebab akibat yang saling bergantungan di mana ada sesuatu yang bergantung, yang tidak ada adalah sesuatu yg berdiri sendiri. Segala sesuatu yang komposit tidaklah kekal akan selalu berubah. Hanya fenomena non-komposit, yaitu keBuddhaan yang bersifat kekal.
- Jalan Mudah
Cara mudah memberikan compassion ke semua makhluk. Di sini coba direnungkan berkah maupun realisasi apa yang telah dicapai kemudian mencoba membagikan berkah/blessing ini dengan compassion untuk semua makhluk.
- Uttara-Tantra
Sifat Kebuddhaan merupakan mental kontinum yang unggul, tidak berawal, tidak memiliki tengah dan tidak memiliki akhir. Ia ada di batin setiap mahkluk, namun tertutup klesha. Layaknya kaca yang tertempel debu yang dapat dibersihkan, layaknya buah yang banyak kulitnya yang dapat dikupas satu persatu.
- 37 Praktik Bodhisattva
Saat ibu-ibu yang sangat baik terhadap kita dari awal yg tak bermula sedang menderita, apalah artinya sebuah kebahagiaan diri kita sendiri?
Oleh karena itu, membangkitkan batin pencerahan dengan tujuan untuk membebaskan semua makhluk yg tak terhingga jumlahnya adalah Praktik Bodhisattva.
Salah satu poin prakrik Bodhisattva adalah bahwa kita harus menghormati orang yang menghina diri kita, itu adalah praktik Bodhisatwa.
Setelah mengikuti diskusi selama kurang lebih 2 jam, peserta dikumpulkan kembali dalam forum besar dan kemudian masing-masing kelompok menceritakan apa yang mereka dapat dari kelompok tersebut. Ada beberapa pertanyaan yang kurang dimengerti, ditanyakan dan dijawab oleh Tim Sumatikirti dan Biksu Tenzin Chograb.
Sebagai seseorang yang ditutupi klesha, kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan cenderung memilih Guru yang memuji-muji kita dan menolak Guru yang mengkritik ataupun menghina kita.
Kita tidak dapat melihat makna dari kata-kata beliau dan justru membentengi diri kita dengan berlapis-lapis ego kita.
Kita perlu melihat manakah Guru yang betul-betul dapat mengurangi klesha kita, merubah sikap kita, mendorong kita untuk berubah. Bukan seorang Guru yang justru menaikkan ego kita, kseombongan kita.
"Jika engkau mengandalkan siapapun yang lebih unggul -sepenuhnya tenteram,
Dan diberkahi dengan disiplin etika,
Dan kebijaksanaan yang melampaui,
Engkau akan menjadi lebih unggul bahkan ketimbang mereka yang lebih unggul."
~Mitra Varga
Di zaman kemerosotan ini, memang sangat sulit mencari Guru yang memenuhi 10 kualitas -berdisiplin, tenang, sepenuhnya tenteram, memiliki kualitas baik yang melebihi muridnya, kaya pengetahuan tekstual, pengetahuan realitas mendalam, perhatian cinta kasih, mahir dalam membimbing murid-murid, dan meninggalkan keputusasaan.
Namun sangat penting sekali untuk dapat menemukan Guru tersebut. Karena semua sumber pencapaian spiritual berasal dari Guru.
"Pada akhirnya semua topik Lamrim akan bermuara pada topik Berbakti pada Guru Spiritual."
~Lenny Hidayat
Mengapa begitu?
Akan dibahas di kelas Minggu, 22 November 2015 ya...
Ditulis oleh poeterafajar,
Jakarta, 27 Juli 2015
Berbakti pada guru spiritual merupakan sebuah perjalanan, yang tak akan pernah putus sampai kita mencapai Kesempurnaan Batin. Perkembangan batin seseorang tidak bisa diukur berdasarkan waktu, melainkan berdasarkan seberapa kuat kemauan atau motivasi seseorang untuk mencapai keadaan batin yang stabil. Bukan persoalan berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkembang, tetapi lebih mengarah ke seberapa kuat kemauan kita untuk bisa bekembang.
Aku berasal dari keluarga Tionghoa dan aku dididik berdasarkan kebudayaan Tionghoa yang keras. Yang dimana anak laki-laki tidak boleh nangis, air mata adalah simbol kelemahan laki-laki, dan anak laki-laki terutama anak pertama harus melakukan tanggung jawab ini itu segala macam, membawanama besar keluarga, menghasilkan banyak duit, mengangkat status keluarga. Dan yang paling parah adalah bahkan anak laki-laki ini tidak tahu-menahu kenapa dia harus melakukan semua hal ini. “Jangan banyak tanya. Just do it…” kata-kata ini yang biasa terlontar dari mulut ortu yang mungkin malas menjelaskan mengenai sesuatu kepada anaknya. Terlalu cepat kalimat ini dilontarkan kepada seorang anak usia 6-7 tahun, yang tidak tahu bagaimana caranya berbakti, meraka akan berontak atau mengikuti ucapan orang tuanya atas dasar perasaan takut dipukul.
Secara langsung ataupun tidak, kita tak memberi kesempatan pada diri kita untuk mengenal dan mengembangkan hati kita. Yang ada malah kita sibuk meng-copycat kepribadian orang tua kita dan mengesampingkan dan even worse membekukan hati kita.
Bukan maksud untuk mencemooh kebudayaan tionghoa, aku selalu mempercayai sebuah kebudayaan bisa bertahan hidup selama beribu-tahun sampai sekarang pastilah didasari oleh nilai-nilai luhur dan bajik. Yang menjadi masalah adalah seberapa dalam persepsi manusia dalam memahami nilai-nilai tersebut. Bukan pada budayanya tapi lebih kepada orang yang memahami dan mengimplementasikan budaya sebagai way of life itu yang perlu dipertanyakan. Dengan pemahaman kebudayaan yang setengah-setengah, maka kita akan mendapatkan hasil yang setengah-setengah pula or even worse.
“Banyak orang merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan pada hidup mereka.”
– Suhu Bhadraruci-
Statement ini merupakan alasan utama yang sangat mendasar dan kritis kenapa kita harus mengenaldiri kita. Jika kita tidak mengenal hati kita,bagaimana kita dapat menemukan cara untuk mengembangkan diri kita? Kita sangat sering mengacuhkan hati kita, hal ini kita lakukan selama bertahun-tahun dan membuat hati kita menjadi keras.
Hati yang keras adalah hati yang selalu merasa diri baik-baik saja, I’m fine, takut melihat ke dalam hati kita yang sebenarnya, afraid of who we are exactly, secara tidak langsung kita membuang diri kita yang sebenarnya. Dan akhirnya kebanyakan orang hanya mengikuti jalan hidup orang yang sukses menurut diri kita dan orang sekeliling kita. Inilah yang tahapan bagaimana mainset bisa terbentuk. Tak heran orang bijak sering berkata: “Orang disekitar dan lingkunganlah yang membentuk diri kita.”
Orang yang berhati keras adalah orang yang memiliki hidup yang menderita but meraka tidak tahu kalau mereka menderita, Jika mereka menyadarinya saat itu pula mereka bakal mencari cara untuk memperlembut hati mereka logically speaking, kita mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Mereka hidup tidak berdasarkan apa kata hati sendiri, melainkan apa kata orang lain dan lingkungan sekitar. Hidup bukan atas kemauan hati sendiri. Bagaimana kita tahu apa yang kita mau, jika kita tidak mengenal dengan baik siapa diri kita?
“Cry is not a crime”
–Bude Novi-
Kalimat ini pula yang menyadarkanku akan seberapa kerasnya aku terhadap hatiku selama 20 tahun ini. “Nangislah pada saat ingin menangis dan jangan ditahan. Rasakan dan pahami kemudian ekspresikan hatimu, jadikan hatimu lembut.” Masih teringat ucapan Bude yang membekas pada ingatanku sampai sekarang.
Sejak saat itu,aku berusaha mengenal dan menerima diriku sendiri, dan Aku aware akan kondisi diriku. Dari sikap aware ini baru bisa merasakan seberapa menderita dan tak nyamannya diriku, dan karena aku tahu aku menderita, aku mencoba mencari cara untuk tidak menderita, lebih jauh lagi pada saat kita mencari, mendapatkan dan kemudian melakukan cara tersebut, aku menoleh ke belakang dan aku sadar bahwa aku tak sendirian, banyak orang yang 'terjebak’ dalam hal yang sama. Baru timbul rasa kasihan melihat orang lain menderita dan mencoba untuk menolong mereka. Inilah pemikiran yang sangat simple dan mendasar dari batin welas asih.
Hati yang lembut adalah hati yang menerima diri, baik-buruk, kuat-lemah, apa adanya. Dari hati yang lembut aku belajar banyak hal. Aku paham seperti apa diriku, apa passion-ku yang sebenarnya, dan bahkan tahu bagaimana cara untuk mengembangkan batin dan diriku yang akhirnya berujung pada kestabilan hati dan kebahagiaan sejati.
Suhu sering berkata : “Batin welas asih adalah sumber dari semua aktivitas bajik.” Batin welas asih tak akan pernah muncul dari hati yang keras, batin welas asih muncul pada hati yang lembut. Sebuah batin yang bisa merasakan penderitaan diri sendiri dan empati pada orang lain. Singkat kata dari kelembutan hati inilah yang bisa membuat keseluruhan aktivitas menolong yang kita lakukan menjadi bajik.
Itulah sebabnya tak heran dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat seseorang (termasuk diriku) yang memiliki hati yang keras sepanjang hidupnya bahkan sampai dia mati. Sebaliknya, ada orang yang awalnya berhati keras tapi lama-kelamaan menjadi tambah lembut dan juga memiliki batin yang semakin stabil seiring bertambahnya usia.
Dan sekarang pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan ke diri kita masing-masing adalah ‘Apakah kita sadar (aware) akan kondisi batin kita?’ Kemudian setelah kita sadar tentang seberapa parahnya batin kita, apa yang kemudian kita lakukan? Apakah tetap membiarkannya atau bertekad untuk berubah dan berkembang ke kondisi batin yang lebih stabil?
Ya, memang tak dapat dipungkiri bahwa seseorang menjadi keras atau lembut tergantung didikan orang tua, kondisi lingkungan dan berbagai faktor eksternal lainnya. Namun terlepas dari itu yang paling penting sebenarnya kitalah yang (secara sadar atau terpaksa) memilih untuk menuruti mereka atau tidak.
Namun kebanyakan situasi sering mengarahkan kita menuju ‘keterpaksaan’ dalam memilih. Dan tak jarang pula akibat dari ‘keterpaksaan’ tersebut menimbulkan kegagalan atau hasil yang tak sesuai ekspektasi. Mengapa kita sering mengarah ke situasi ‘terpaksa’? Karena kita tidak cukup kuat dan stabil untuk memilih yang mana sering kali menghasilkan sikap ragu dalam menentukan pilihan. Mengapa ragu? karena kita kurang wawasan dan kurang belajar. Mengapa kita malas belajar? Karena tidak merasa pelajaran tersebut bermanfaat untuk kita.
Biasanya hal ini yang terjadi pada self-talk kita, dan bagaikan lingkaran setan, pola ini akan terjadi terus-menerus selama kita tidak memutuskan lingkaran tersebut dan berkembang. Untuk memutuskan lingkaran tersebutlah kita butuh 2 hal, yaitu Guru yang handal dan kesungguhan hati untuk mengembangkan batin.
Seorang Guru yang handal tentu merupakan seseorang yang sudah melewati fase ‘keterpaksaan’ tadi dan tahu cara melewatinya. Dan tentunya beliau hanya bisa mengajar dan mendidik, mau atau tidak, nurut atau tidak, kembali lagi ke diri kita masing-masing.
Berguru itu sangat tidak mudah, seperti berhadapan pada batin kita sendiri ibarat cermin. Memperlihatkan seberapa parah dan hitamnya batin kita. Ini merupakan pelajaran seumur hidup yang tidak gampang untuk direalisasikan. Siapa sih yang mau mengakui bahwa batin kita buruk dan mementingkan diri sendiri? Siapa sih yang mau dikritik? Siapa sih yang tidak mau dipuji dan senang dengan pujian?
Dan yang lebih parahnya lagi, siapa sih yang mau dengan rela mengkritik batin kita yang hitam dan memarahi sikap mementingkan diri sendirinya kita? Kalau bukan guru kita sendiri. Padahal beliau tahu jelas, dengan beliau mengkritik diri kita, beliau akan dibenci.
Beliau mengkritik karena beliau kasihan, peduli dan sayang terhadap kita. Beliau tidak ingin kita mengalami hal buruk yang dulu pernah beliau alami. Atas dasar inilah yang menjadi pijakan dasar kenapa beliau mau dan rela susah payah mengajari dan mendidik kita. Tetapi kembali lagi beliau tidak bisa hanya bekerja sendiri, tanpa kesungguhan hati dari kita.
“Setelah mengembara dalam samsara, adalah [Para Guruku] yang menemukanku.
Terhalang oleh delusi, adalah Mereka yang membangunkanku dari tidur.
Setelah tenggelam dalam samudra samsara, adalah Mereka yang menarikku keluar.
Setelah tersesat, adalah Mereka yang menunjukkanku jalan yang benar.”
Teramat indah bait yang dikutip dari Sutra Dasadharmaka diatas. Memang benar orang tua kita sangat berjasa dalam hal memberikan kita tubuh jasmani, namun dengan tubuh jasmani saja tidaklah cukup, kita harus menyadari seberapa berharga tubuh manusia tersebut dan menarik manfaat sebesar-besarnya dari tubuh manusia tersebut. Namun yang mampu menuntun kita setahap demi setahap untuk mencapai realisasi seperti ini tidak lain adalah seorang Guru.
Berkat kebaikan hati beliaulah kita dapat sadar (aware) dan melakukan hal yang benar sehingga menghasilkan kebajikan, menghindari perbuatan buruk dan terhindar dari akibat karma hitam. Bisa dikatakan tanpa Berkah Guru, tak akan ada kebajikan. Tanpa kebajikan, kita akan mati dan kemungkinan besar terjatuh kembali di alam rendah. (Guru adalah dasar dari semua kualitas baik yang aku miliki). Hal inilah yang merupakan sebab mendasar kenapa kita harus berbakti dan bertumpu pada guru spiritual dengan sungguh-sungguh.