| Tanggal | : | 23 - 31 Desember 2015 |
| Lokasi | : | Vila Istana Bunga, Lembang. Bandung-Jawa Barat |
| Topik | : | Pembebasan Di Tangan Kita |
Thursday, September 24, 2015
Yuk Segera Daftar...
Fangshen dan Puja saat Idul Adha
Yang menderita dalam penderitaan tubuh dan pikiran
Menemukan samudra kebahagiaan
Dan kesukacitaan dari jasa kebajikanku.
Semoga kebahagiaan tak akan surut, dan semoga mereka semua tanpa kesulitan menemukan angin kegembiraan dari para Bodhisattva."
~Bodhicaryavattara
Monday, August 31, 2015
Berguru pada Guru Spiritual
Ditulis oleh poeterafajar,
Jakarta, 27 Juli 2015
Berbakti pada guru spiritual merupakan sebuah perjalanan, yang tak akan pernah putus sampai kita mencapai Kesempurnaan Batin. Perkembangan batin seseorang tidak bisa diukur berdasarkan waktu, melainkan berdasarkan seberapa kuat kemauan atau motivasi seseorang untuk mencapai keadaan batin yang stabil. Bukan persoalan berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkembang, tetapi lebih mengarah ke seberapa kuat kemauan kita untuk bisa bekembang.
Aku berasal dari keluarga Tionghoa dan aku dididik berdasarkan kebudayaan Tionghoa yang keras. Yang dimana anak laki-laki tidak boleh nangis, air mata adalah simbol kelemahan laki-laki, dan anak laki-laki terutama anak pertama harus melakukan tanggung jawab ini itu segala macam, membawanama besar keluarga, menghasilkan banyak duit, mengangkat status keluarga. Dan yang paling parah adalah bahkan anak laki-laki ini tidak tahu-menahu kenapa dia harus melakukan semua hal ini. “Jangan banyak tanya. Just do it…” kata-kata ini yang biasa terlontar dari mulut ortu yang mungkin malas menjelaskan mengenai sesuatu kepada anaknya. Terlalu cepat kalimat ini dilontarkan kepada seorang anak usia 6-7 tahun, yang tidak tahu bagaimana caranya berbakti, meraka akan berontak atau mengikuti ucapan orang tuanya atas dasar perasaan takut dipukul.
Secara langsung ataupun tidak, kita tak memberi kesempatan pada diri kita untuk mengenal dan mengembangkan hati kita. Yang ada malah kita sibuk meng-copycat kepribadian orang tua kita dan mengesampingkan dan even worse membekukan hati kita.
Bukan maksud untuk mencemooh kebudayaan tionghoa, aku selalu mempercayai sebuah kebudayaan bisa bertahan hidup selama beribu-tahun sampai sekarang pastilah didasari oleh nilai-nilai luhur dan bajik. Yang menjadi masalah adalah seberapa dalam persepsi manusia dalam memahami nilai-nilai tersebut. Bukan pada budayanya tapi lebih kepada orang yang memahami dan mengimplementasikan budaya sebagai way of life itu yang perlu dipertanyakan. Dengan pemahaman kebudayaan yang setengah-setengah, maka kita akan mendapatkan hasil yang setengah-setengah pula or even worse.
“Banyak orang merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan pada hidup mereka.”
– Suhu Bhadraruci-
Statement ini merupakan alasan utama yang sangat mendasar dan kritis kenapa kita harus mengenaldiri kita. Jika kita tidak mengenal hati kita,bagaimana kita dapat menemukan cara untuk mengembangkan diri kita? Kita sangat sering mengacuhkan hati kita, hal ini kita lakukan selama bertahun-tahun dan membuat hati kita menjadi keras.
Hati yang keras adalah hati yang selalu merasa diri baik-baik saja, I’m fine, takut melihat ke dalam hati kita yang sebenarnya, afraid of who we are exactly, secara tidak langsung kita membuang diri kita yang sebenarnya. Dan akhirnya kebanyakan orang hanya mengikuti jalan hidup orang yang sukses menurut diri kita dan orang sekeliling kita. Inilah yang tahapan bagaimana mainset bisa terbentuk. Tak heran orang bijak sering berkata: “Orang disekitar dan lingkunganlah yang membentuk diri kita.”
Orang yang berhati keras adalah orang yang memiliki hidup yang menderita but meraka tidak tahu kalau mereka menderita, Jika mereka menyadarinya saat itu pula mereka bakal mencari cara untuk memperlembut hati mereka logically speaking, kita mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Mereka hidup tidak berdasarkan apa kata hati sendiri, melainkan apa kata orang lain dan lingkungan sekitar. Hidup bukan atas kemauan hati sendiri. Bagaimana kita tahu apa yang kita mau, jika kita tidak mengenal dengan baik siapa diri kita?
“Cry is not a crime”
–Bude Novi-
Kalimat ini pula yang menyadarkanku akan seberapa kerasnya aku terhadap hatiku selama 20 tahun ini. “Nangislah pada saat ingin menangis dan jangan ditahan. Rasakan dan pahami kemudian ekspresikan hatimu, jadikan hatimu lembut.” Masih teringat ucapan Bude yang membekas pada ingatanku sampai sekarang.
Sejak saat itu,aku berusaha mengenal dan menerima diriku sendiri, dan Aku aware akan kondisi diriku. Dari sikap aware ini baru bisa merasakan seberapa menderita dan tak nyamannya diriku, dan karena aku tahu aku menderita, aku mencoba mencari cara untuk tidak menderita, lebih jauh lagi pada saat kita mencari, mendapatkan dan kemudian melakukan cara tersebut, aku menoleh ke belakang dan aku sadar bahwa aku tak sendirian, banyak orang yang 'terjebak’ dalam hal yang sama. Baru timbul rasa kasihan melihat orang lain menderita dan mencoba untuk menolong mereka. Inilah pemikiran yang sangat simple dan mendasar dari batin welas asih.
Hati yang lembut adalah hati yang menerima diri, baik-buruk, kuat-lemah, apa adanya. Dari hati yang lembut aku belajar banyak hal. Aku paham seperti apa diriku, apa passion-ku yang sebenarnya, dan bahkan tahu bagaimana cara untuk mengembangkan batin dan diriku yang akhirnya berujung pada kestabilan hati dan kebahagiaan sejati.
Suhu sering berkata : “Batin welas asih adalah sumber dari semua aktivitas bajik.” Batin welas asih tak akan pernah muncul dari hati yang keras, batin welas asih muncul pada hati yang lembut. Sebuah batin yang bisa merasakan penderitaan diri sendiri dan empati pada orang lain. Singkat kata dari kelembutan hati inilah yang bisa membuat keseluruhan aktivitas menolong yang kita lakukan menjadi bajik.
Itulah sebabnya tak heran dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat seseorang (termasuk diriku) yang memiliki hati yang keras sepanjang hidupnya bahkan sampai dia mati. Sebaliknya, ada orang yang awalnya berhati keras tapi lama-kelamaan menjadi tambah lembut dan juga memiliki batin yang semakin stabil seiring bertambahnya usia.
Dan sekarang pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan ke diri kita masing-masing adalah ‘Apakah kita sadar (aware) akan kondisi batin kita?’ Kemudian setelah kita sadar tentang seberapa parahnya batin kita, apa yang kemudian kita lakukan? Apakah tetap membiarkannya atau bertekad untuk berubah dan berkembang ke kondisi batin yang lebih stabil?
Ya, memang tak dapat dipungkiri bahwa seseorang menjadi keras atau lembut tergantung didikan orang tua, kondisi lingkungan dan berbagai faktor eksternal lainnya. Namun terlepas dari itu yang paling penting sebenarnya kitalah yang (secara sadar atau terpaksa) memilih untuk menuruti mereka atau tidak.
Namun kebanyakan situasi sering mengarahkan kita menuju ‘keterpaksaan’ dalam memilih. Dan tak jarang pula akibat dari ‘keterpaksaan’ tersebut menimbulkan kegagalan atau hasil yang tak sesuai ekspektasi. Mengapa kita sering mengarah ke situasi ‘terpaksa’? Karena kita tidak cukup kuat dan stabil untuk memilih yang mana sering kali menghasilkan sikap ragu dalam menentukan pilihan. Mengapa ragu? karena kita kurang wawasan dan kurang belajar. Mengapa kita malas belajar? Karena tidak merasa pelajaran tersebut bermanfaat untuk kita.
Biasanya hal ini yang terjadi pada self-talk kita, dan bagaikan lingkaran setan, pola ini akan terjadi terus-menerus selama kita tidak memutuskan lingkaran tersebut dan berkembang. Untuk memutuskan lingkaran tersebutlah kita butuh 2 hal, yaitu Guru yang handal dan kesungguhan hati untuk mengembangkan batin.
Seorang Guru yang handal tentu merupakan seseorang yang sudah melewati fase ‘keterpaksaan’ tadi dan tahu cara melewatinya. Dan tentunya beliau hanya bisa mengajar dan mendidik, mau atau tidak, nurut atau tidak, kembali lagi ke diri kita masing-masing.
Berguru itu sangat tidak mudah, seperti berhadapan pada batin kita sendiri ibarat cermin. Memperlihatkan seberapa parah dan hitamnya batin kita. Ini merupakan pelajaran seumur hidup yang tidak gampang untuk direalisasikan. Siapa sih yang mau mengakui bahwa batin kita buruk dan mementingkan diri sendiri? Siapa sih yang mau dikritik? Siapa sih yang tidak mau dipuji dan senang dengan pujian?
Dan yang lebih parahnya lagi, siapa sih yang mau dengan rela mengkritik batin kita yang hitam dan memarahi sikap mementingkan diri sendirinya kita? Kalau bukan guru kita sendiri. Padahal beliau tahu jelas, dengan beliau mengkritik diri kita, beliau akan dibenci.
Beliau mengkritik karena beliau kasihan, peduli dan sayang terhadap kita. Beliau tidak ingin kita mengalami hal buruk yang dulu pernah beliau alami. Atas dasar inilah yang menjadi pijakan dasar kenapa beliau mau dan rela susah payah mengajari dan mendidik kita. Tetapi kembali lagi beliau tidak bisa hanya bekerja sendiri, tanpa kesungguhan hati dari kita.
“Setelah mengembara dalam samsara, adalah [Para Guruku] yang menemukanku.
Terhalang oleh delusi, adalah Mereka yang membangunkanku dari tidur.
Setelah tenggelam dalam samudra samsara, adalah Mereka yang menarikku keluar.
Setelah tersesat, adalah Mereka yang menunjukkanku jalan yang benar.”
Teramat indah bait yang dikutip dari Sutra Dasadharmaka diatas. Memang benar orang tua kita sangat berjasa dalam hal memberikan kita tubuh jasmani, namun dengan tubuh jasmani saja tidaklah cukup, kita harus menyadari seberapa berharga tubuh manusia tersebut dan menarik manfaat sebesar-besarnya dari tubuh manusia tersebut. Namun yang mampu menuntun kita setahap demi setahap untuk mencapai realisasi seperti ini tidak lain adalah seorang Guru.
Berkat kebaikan hati beliaulah kita dapat sadar (aware) dan melakukan hal yang benar sehingga menghasilkan kebajikan, menghindari perbuatan buruk dan terhindar dari akibat karma hitam. Bisa dikatakan tanpa Berkah Guru, tak akan ada kebajikan. Tanpa kebajikan, kita akan mati dan kemungkinan besar terjatuh kembali di alam rendah. (Guru adalah dasar dari semua kualitas baik yang aku miliki). Hal inilah yang merupakan sebab mendasar kenapa kita harus berbakti dan bertumpu pada guru spiritual dengan sungguh-sungguh.
Tuesday, August 25, 2015
KCJ Goes To Museum!!
Setelah melihat perjalanan perekonomian nusantara, perjalanan kami dilanjutkan ke museum wayang yang masih di Kawasan Kota Tua Jakarta. Melihat beragamnya jenis wayang di Nusantara, memberikan arti sangat kayanya kebudayaan Bumi Nusantara yang kita tinggali saat ini. Meskipun awalnya terkesan “menyeramkan” karena berlokasi di bangunan tua serta aroma barang antik yang kadang membuat bulu kuduk merinding, secara keseluruhan museum wayang layak dikunjungi untuk membuka mata kita akan kayanya kebudayaan Nusantara yang perlu kita banggakan.
Sebenarnya masih banyak museum yang bisa dikunjungi di Kawasan Kota Tua Jakarta, namun dikarenakan waktu yang sudah menjelang sore dan pegelnya kaki karena jalan terus, perjalanan menjelajahi museum disudahi untuk kali ini. Kegiatan ini memang terkesan kecil dan remeh, namun dari kegiatan kecil ini diharapkan tumbuh rasa kebanggaan dan cinta akan Tanah Air Indonesia, tempat dimana kita lahir, hidup, (semoga) hingga menutup usia. Jadi, Bagaimana Anda memaknai kemerdekaan?
Kalau kami, memulai langkah yang kecil agar bisa melakukan perjalanan dari Sabang hingga Merauke.
Sampai bertemu lagi di perjalanan-perjalanan berikutnya. MERDEKA!!!
Selamat Ulang Tahun Y.M. Tenzin Kunchog
Sebelum tiup lilin, tidak lupa kami wefie bersama di momen berbahagia ini. Teriring doa kami untuk Y.M. Tenzin Kunchog, semoga aspirasi dan cita-cita Beliau dapat cepat tercapai dan halangan-halangan diminimalisir, api yang menyala-nyala diatas kue ditiup disertai tepuk tangan yang bersahut-sahutan. Acara ditutup dengan membagi-bagikan kue untuk disantap bersama-sama.Meditasi itu….
Sesekalinya berada di tengah pusat perbelanjaan, ada satu hal yang tertangkap cukup sering, yaitu tas gym. Kebetulan pada tas tersebut terdapat nama gym yang bersangkutan, sehingga saya bisa menyimpulkan ya, ini tas gym, bukan sekedar tas pada umumnya. Karena penasaran lalu mencari tahu lebih lanjut tentang gym dan fitness dari kenalan yang kebetulan juga punya tas yang sama. Jadi kita membayar sejumlah tertentu uang kepada gym, lalu kita menjalani serangkaian latihan, dipandu instruktur, lalu pakai alat A, B dan C, lalu selesai, lelah, pegal, pulang, lalu di jam dan hari yang lain melanjutkan latihan. Keluarannya suatu saat di masa mendatang adalah mungkin lebih kurus, lebih berisi, tubuh lebih estetis, mungkin. Sederhananya, ada niatan ‘tuk menjalani latihan, ada suatu disiplin, ada uang, waktu, dan tenaga yang dikerahkan, sehingga ada keluaran yang diperoleh dari upaya.
Tadi itu bicara olah fisik. Untuk olah mental, meskipun tidak ada gym khusus mental atau setidaknya yang terang-terangan deklarasi, upaya untuk mengolah mental juga cukup banyak. Ini dapat dilihat dari banyaknya berbagai buku bergenre self-help, berjudul ‘rahasia’, sup ayam, 4 kebiasaan, 6 kebiasaan, mungkin kelak 100 kebiasaan seiring waktu. Juga banyak seminar motivasi, pelatihan-pelatihan memprogram pikiran (bukan hipnotis), dan sebagainya. Secara garis besar polanya mirip dengan fitness, bayar uang sejumlah tertentu, dipandu, ada tahapan, harus ini dan itu, dan seterusnya. Sang Buddha juga sejak 2500-an tahun lalu juga sebenarnya sudah meresepkan hal yang sama, bedanya adalah tanpa biaya. Mungkin karena kalah dalam iklan dan kampanye, Ajaran Buddha dan Guru Besar Buddhis tentang meditasi tidak menjadi best seller atau sesuatu yang happening di korporat.
Meski beda secara biaya, secara pamor, metode, dan nilai, antara meditasi dan seminar maupun training motivasi dan sebagainya itu, tetapi mereka melihat kesamaan bahwa pikiran dan batin adalah aset yang harus diolah. Tapi kenapa saya memilih Meditasi Buddhis di antara semua pendekatan tersebut, adalah karena jurus olah batin ala Buddha lah yang menyelesaikan masalah tanpa masalah yang berfungsi juga untuk kehidupan mendatang; selain juga karena saya seorang Buddhis atau paling tidak beratribut Buddhis maka saya berpihak, esprit de corps, dan seminimalnya karena saya diminta menulis artikel tentang Meditasi Buddhis dan ditagih.
Meditasi Buddhis juga seperti halnya fitness memiliki suatu disiplin tertentu, menjalankannya secara serampangan akan menimbulkan efek samping kebosanan, kapok, atau malah kebal atau bebal terhadap efek meditasi alias batin membatu tak bisa berubah; kita yang berumur 30 tahun akan tetap memiliki batin kita yang 10 tahun, semacam itu kurang lebih. Sesi meditasi yang ideal dijelaskan dalam kitab suci adalah 4 sesi, subuh, pagi, siang, dan malam sebelum tengah malam. Durasinya, Yang Mulia Kamalasila menjelaskan, adalah satu jam, atau setengahnya, atau lebih sedikit lagi selama kita masih bersemangat; sehingga ketika berhenti dari meditasi kita berhenti dengan impresi yang baik terhadap meditasi, bukan sebaliknya, muak dan di kemudian hari melihat bantalan meditasi sebagai momok seram.
Bagaimana bermeditasi diajarkan dalam Gomchen Lamrim atau karya Lamrim lainnya adalah objek meditasi harus ditetapkan terlebih dahulu, begitu juga urutannya, tidak boleh ada penambahan atau pengurangan, dan seterusnya. Merujuk daripada instruksi ini, maka sebelum bermeditasi, kita harus terlebih dahulu kenal dengan objek meditasi, dan setidaknya punya familiaritas tertentu sehingga tidak melupakannya di tengah meditasi kita. Dengan demikian, ini menjelaskan mengapa studi-kontemplasi-meditasi merupakan urutan penting dalam menjalankan meditasi. Kebutuhan studi sangat mendesak karena begitu banyak pilihan objek meditasi yang masing-masing punya TUPOKSI-nya masing-masing untuk mengatasi kilesha tertentu agar mencapai tujuan. Untuk semakin memperkuat lagi perlu dan mendesaknya belajar demi mendukung meditasi, mengutip nasehat Buddha dalam Sutra Sadhnirmochana:
“… Para Bodhisattva ini harus mendengarkan Ajaran-ajaran ini dengan benar, mengingat isinya, melatih pelafalan lisan, dan menganalisanya secara seksama. Dengan pemahaman sempurna, mereka harus pergi ke tempat terpencil seorang diri dan merenungkan Ajaran-ajaran ini serta memusatkan perhatian pada Ajaran tersebut secara terus-menerus…”
Berikutnya, yang merupakan tombol start untuk meditasi adalah niat (‘tuk bermeditasi). Untuk menumbuhkan niat bermeditasi, mengetahui manfaat dari meditasi adalah penting, dan agar manfaat tersebut bisa relevan maka kita memerlukan ketertarikan antara batin dan kehidupan kita. Alexander Berzin menjelaskan bahwa, “kita bukan seorang korban dari apapun yang dilemparkan oleh kehidupan kita. sebaliknya kita berperan sentral pada apa dan bagaimana kita mengalami kehidupan kita… untuk melakukanya kita harus tahu bagaimana cara kerja batin kita.” Begitu kita bisa menempatkan batin posisi awalnya yang adalah pusat kehidupan kita, barulah manfaat meditasi bisa relevan bagi kita. Tanpanya, bisa jadi meditasi menjadi sekedar olahraga, olahraga diam dalam hening sambil bersila.
Akhir kata, seperti halnya ketika fitness, anda juga butuh seorang instruktur, sama halnya dan apalagi dalam meditasi juga butuh pemandu. Makanya Lamrim mengatakan guru spiritual adalah Akar dari Sang Jalan.
Keagungan Ajaran
- Kita akan memiliki kemampuan untuk memahami bahwa semua Ajaran Buddha bebas dari pertentangan
- Semua literatur akan terlihat sebagai Instruksi untuk berlatih/berpraktik Dharma
- Kita dapat dengan mudah mengerti maksud dari Sang Penakluk, dalam artian kita dapat mencapai tahapan jalan karena luasnya Dharma Sang Buddha telah diorganisasikan dalam satu sistem yang koheren
- Dengan secara alami kita akan terbebas dari kesalahan besar mengabaikan/menolak dharma









