Friday, July 24, 2015
Teaching oleh Sangha Monastik KCI di Kadam Choeling Jakarta
Tuesday, July 21, 2015
Retret Lebaran 2015
"Pada periode lima ratus tahun terakhir
Aku akan mengambil wujud seorang guru
Kalian harus mengenali bahwa aku adalah dia
Kemudian bangkitkanlah rasa hormat terhadapnya.
Di masa mendatang yang mengalami kemerosotan
Aku akan hadir sebagai mahkluk yang [tampak]
'Belum matang [secara spiritual]'
Dan dalam berbagai wujud yang sesuai"
~Liberation 2, hal 51-52
Sebuah retret singkat yang mendalam bersama Suhu, 15-17 Juli 2015, di Kadam Choeling Jakarta. Simak ceritanya di http://www.kadamchoeling.or.id/libur-lebaran-bersama-suhu-di-kcj/
Monday, July 13, 2015
Bodhisattva Vow Part 1 (12 Juli 2015)
BODHISATTVA VOWS
A PRACTICAL GUIDE TO THE SUBLIME ETHICS OF THE MAHAYANA
Siapa yang mengambil ikrar ini?
Siapa pun yang telah mengambil Sumpah Bodhisattva belum tentu seorang Bodhisattva dan seorang Bodhisattva belum tentu telah mengambil Sumpah Bodhisattva. Contoh dari seorang Bodhisattva asli yang tidak mengambil sumpah Bodhisattva adalah seseorang yang telah mencapai batin pencerahan (Bodhicitta) secara nyata dan mempelajari ketiga macam disiplin moral namun meragukan dirinya mempraktikkan latihan-latihan sempurna dan karena dia hanya ingin berlatih secara sempurna maka dia memutuskan untuk sementara tidak mengambil sumpah Bodhisattva dulu.
Apakah kita perlu mengambil Sumpah Bodhisattva dan adakah yang sudah merasa siap mengambil Sumpah Bodhisattva?
Belum ada yang siap, namun kita diinstruksikan untuk mengambilnya. Apa yang kita andalkan kemudian? Kepercayaan terhadap Guru kita.
Konsekuensinya apa? Setiap sumpah pasti ada konsekuensinya. High Risk, High Gain. Dengan perbuatan yang sama dengan orang yang mengambil sila dengan orang yang tidak mengambil sila, hasilnya berbeda.
Kita tahu kilesha apa saja yang kita miliki, seringkali kita merasa 'bohwat', merasa tidak berdaya menghadapinya. Misalnya kita merasa malas, Saya merasa kita harus punya pengikat diri kita yaitu Sumpah ini.
Sumpah ini tidak berakhir dalam satu kehidupan saja, kita bisa mengambil di kehidupan ini dikarenakan kita pernah mengambilnya di kehidupan lampau. Sumpah ini tidak akan berhenti sampai kita mencapai Kebuddhaan.
Apa tujuan Sumpah Bodhisattva ini?
Sila yang diambil ini melatih diri kita untuk dapat mementingkan orang lain dan menurunkan ego kita sendiri, melakukan kebajikan, tidak melakukan ketidakbajikan, dan menolong semua mahkluk.
18 Pelanggaran Utama:
1. Memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain
- Objek: Orang lain di luar diri kita (seorang manusia, dapat mengerti yang kita bicarakan) Jika kita berbicara pada diri sendiri atau kepada seekor hewan pelanggaran tidak terjadi- Kata-kata yang kita ucapkan: Melebih-lebihkan, mengada-adakan (dusta) akan kualitas yang kita miliki; merendahkan, caci maki/cemoohan terhadap orang lain yang memiliki kualitas.
- Motivasi di balik tindakan: Kemelekatan dan kecemburuan/iri hati terhadap materi yang dimiliki orang lain atau kehormatan/reputasi. Namun apabila perbuatan memuji diri sendiri dilakukan atas motivasi untuk memperoleh sesuatu untuk dipersembahkan pada Triratna atau untuk orang lain, hal ini bukan merupakan suatu pelanggaran.
- Bagaimana apabila kita kesal/ marah dan kemudian curhat ke teman? Seringkali kita mengajak orang lain agar orang lain setuju dengan kita. Apakah itu merupakan suatu pelanggaran? Bisa jadi.
2. Tidak memberi harta (uang) atau Dharma
- Objek: Seseorang yang memohon yang benar-benar membutuhkan materi dan Dharma. Orang ini haruslah tidak mempunyai orang lain yang dapat membantunya, kita menjadi satu-satunya harapannya. Permohonan haruslah dilakukan dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat.- Apa yang dimohon yaitu materi dan Dharma. Pengecualian untuk materi adalah barang-barang yang berbahaya bagi diri kita dan orang lain, seperti racun, narkotika, dll.
Apabila seseorang meminta narkotika dan tidak mendapatkannya, bukankah dia menderita? Kita harus dapat melihat dalam jangka panjang apakah dapat membahayakan dia. Namun kita harus mempertimbangkan orang tersebut, apabila kita memberikannya dengan motivasi agar dia dapat bertahan hidup dan kemudian dapat ditolong dan dibawa ke dalam jalan Dharma, itu bukanlah pelanggaran.
- Subjek: Orang yang berkapasitas memberi. Kita memiliki apa yang dimohon.
- Motivasi: Kekikiran
3. Tidak menerima permintaan maaf orang lain atau karena marah menyerang orang lain
- Objek: Orang yang meminta maaf adalah manusia yang meminta maaf di waktu dan cara yang tepat- Motivasi: Kemarahan dan dendam
- Penolakan penyesalan atau menolak untuk memaafkan.
4 faktor pengikat:
- Tidak menganggap tindakan itu salah- Tidak punya punya keinginan untuk tidak mengulang kesalahan, bahkan ingin melakukannya lagi
- Senang melakukan tindakan tersebut
- Tidak mempunyai rasa malu
Friday, July 10, 2015
Keagungan Sumber Ajaran
Mengapa kita harus memastikan bahwa sumber ajaran adalah otentik dan bermutu?
Kita harus memastikan terlebih dahulu, apa tujuan kita untuk mencari suatu sumber Dharma. Tujuan kita mencari Dharma adalah mencari obat yang dapat mengobati “penyakit” dari diri kita sendiri, yaitu Samsara. Dalam mencari Dharma bisa saja kita mencari referensi terhadap kata-kata Buddha di dalam sutra, namun kata-kata Buddha langsung yang terdapat di sutra terkadang terlalu terbuka untuk interpretasi masing-masing dan kita sulit melihat maksud dari Sang Buddha menjelaskan Dharma tersebut (dalam kaitannya bahwa semua kata-kata Buddha adalah instruksi pribadi untuk mencapai pencerahan). Secara alternatif, ada ulasan terhadap kata-kata Buddha yang disusun oleh para Guru besar, dalam hal ini Lamrim. Lamrim adalah Jalan bertahap menuju pencerahan. Jalan bertahap menuju pencerahan ini adalah buah karya dari Maha Guru besar dari India, yaitu Atisa Dipankara Srijnana.Pembahasan Riwayat Atisha sebagai pembahasan; Keagungan Sumber Ajaran, disajikan untuk menunjukkan sumber dharma yang terpercaya.
- Bagaimana Atisha dilahirkan dalam sebuah keluarga terhormat
- Bagaimana Atisha memperoleh pengetahuan dan kualitas dalam kehidupan ini
- Bagaimana Atisha memperoleh kualitas baik dengan mempelajari banyak teks
- Bagaimana Atisha memperoleh kualitas baik dengan melaksanakan praktek yang sesuai
- Bagaimana Atisha berkarya
- Berkarya di India
- Berkarya di Tibet
Yang Mulia Atisha lahir di kota besar di Zahor, wilayah bagian timur India yang dikenal sebagai Bengal, Vikramapura. Ayah dari Atisha adalah Raja Kalyanasri dan istrinya Sri Prabhavati. Kekayaan dan kejayaan dari ayah Atisha bisa disandingkan dengan Raja Tong Khun dari China.
Pangeran merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, Atisha diberi nama Candragarbha. Pangeran yang berusia 18 bulan ketika itu, bepergian ke Caitya dengan Ayahnya, Pangeran muda bertanya, “Siapakah orang-orang yang kerumunan ini?”; Yang kemudian dijawab oleh ayahnya “Mereka adalah Rakyatmu.” Melihat kerumunan banyak orang, Pangeran muda melihat mereka dengan welas asih, Ketika orang tua pangeran dan orang-orang berdoa tentang umur panjang, kesehatan, kekayaan yang berlimpah serta kebebasan dari alam rendah dan pencapaian alam-alam tinggi, Bodhisattva memanjatkan doa ini:
- Kitab Kadampa menyatakan:
- Ketika Atisha berusia 15 tahun, beliau belajar Nyaya-bindu-prakarana, teks tentang logika satu dari 7 risalah oleh Dharmakriti (ahli logika India).
- Ketika usianya menginjak 21 tahun, beliau telah menguasai enam-puluh-empat keahlian. Keahlian ini adalah keahlian duniawi, pengetahuan tubuh, dan kekuatan luar biasa. Yang paling penting dari nya adalah lima ilmu pengetahuan;
- Ilmu pengetahuan akan bahasa
- Ilmu pengetahuan tentang logika
- Ilmu pengetahuan tentang teknologi
- Ilmu pengetahuan tentang pengobatan
- Pengetahuan dan perenungan tentang Buddhisme
- Atas nasihat Dewi Tara, Pangeran pergi mencari Guru
- Brahmana Jetari menganugerahkan upacara Trisarana dan membangkitkan batin pencerahan kepada pangeran
- Atas nasihat Brahmana pangeran mencari Bodhibhadra, guru yang memiliki karma sejak waktu masa lampau
- Pangeran belajar tentang batin pencerahan dan topik lain dengan Vidyakokila (Tua)
- Pangeran selanjutnya dikirim ke Guru Avadhutipa, Guru di satu kehidupan sebelumnya dan dinasehati, “Kembaliah ke kerajaanmu hari ini juga, Engkau boleh kembali setelah merenungkan kerugian-kerugian kehidupan berumah tangga!”
Atas dasar perkataan dari Guru Avadhutipa ini, kemudian Guru Atisha kembali ke ke kerajaannya untuk memohon kepada ayah beliau untuk diijinkan mengejar kehidupan spiritual. Kedatangan Guru Atisha kembali ke kerajaan membuat senang ayahnya, yang masih berharap untuk Atisa meneruskan kerajaannya. Dan memberikan pertanyaan tentang keinginannya untuk pergi dari kerajaan. Ketika ditanyakan tentang kepergiannya, pangeran menjawab:
“Saya pergi untuk mencari seorang Guru, sumber dari perlindungan Sang Muni;Saya pergi ke gunung-gunung untuk mencari kesunyian.Kemanapun saya pergi, saya melihat kekurangan samsara.Siapa pun yang saya temui, hanya berbicara tentang kekurangan samsara.Apapun yang saya lakukan, batinku tidak menemukan ketenangan.Berikanlah izinmu, karena saya berharap untuk mengejar Dharma.Setelah lama menyelidiki samsara ini,saya sedikit pun tidak memiliki hasrat untuk memerintah.Tidak ada perbedaan antara istana emas dan penjara.Tidak ada perbedaan antara seorang putri dengan anak perempuan mara.Tidak ada perbedaan antara ketiga makanan manisDengan daging anjing, nanah, dan darah.Tidak ada perbedaan sedikit punAntara mengenakan kain sutra beronamen indahDengan selimut wol yang kasar di tengah-tengah kotoran.Jadi saya akan pergi sekarang untuk bermeditasi di hutan.Dengan sedikit daging, susu, madu, dan Gula,Hari ini saya akan kembali kepada Yang Mulia Avadhutipa”
Kata-kata dari beliau sungguh amat dalam, dan tersirat penolakan terhadap kenikmatan palsu yang ditawarkan oleh Samsara.
- Guru Atisha juga terlatih baik sutra maupun tantra, Atisha berguru pada Guru Tantra Rahulagupta. Sampai dengan usia 29 tahun, Guru Atisa berguru pada banyak guru Tantra yang mencapai pencapaian spiritual yang tinggi (siddhi), serta mendapatkan banyak Inisiasi Tantra.
- Pada ketika itu juga Guru Rahulagupta menganjurkan Atisa untuk mengambil Sila Biksu. Lalu Sri Heruka, juga Arya Maitreya muncul untuk mendesaknya menjadi biksu.
- Pada usia 29 tahun, Atisa ditahbiskan penuh dari silsilah Mahasamghika oleh Upadahyaya Silaraksita
- Sampai usia 31 tahun Atisha mempelajari Paramitayana, kendaraan penyempurnaan, dengan pendekatan analisa dan dialektikal (berkenaan dengan diskusi logika dari suatu ide atau pendapat). Ia mempelajari kedua Tipitaka level tinggi (Abhidharma), yaitu kitab dari tradisi Mahayana, yang termasuk di dalamnya ada Yogacara/Cittramaitri dan Madhyamika; juga kitab dari tradisi Hinayana, Vaibhasika dan Sauntantrika. Secara khusus, beliau mendalami Mahavibhasa, suatu yang besar, tulisan lengkap dan menyeluruh yang menyusun secara sistematis Abhidharma. Karya besar dari Arahat Suryagupta, atau dikenal juga dengan Dharmapala, yang memiliki 800 bab, beliau mempelajari teks ini selama 12 tahun.
- Diwarnai berbagai pertanda dari Gurunya, Rahulagupta sampai Tara, untuk mencari ajaran tentang Batin pencerahan, Guru Atisha datang ke Indonesia untuk mendapatkan ajaran ini dari Guru Svarnadvipa di Sriwijaya. Selama 12 Tahun, Guru Atisha mendengarkan, merenungkan, dan memeditasikan instruksi lengkap dari Guru Serlingpa. Salah Satu yang paling penting adalah ajaran 'tersembunyi' tentang Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan, sebuah instruksi yang pertama kali diturunkan kepada Arya Asanga oleh Buddha Maitreya, Yang lainnya adalah latihan batin 'Menyetarakan dan Menukar Diri dengan Orang Lain', pertama kali diajarkan oleh Shantideva setelah beliau mendengarnya dari Arya Manjushri.
- Guru Atisha memiliki Latihan Sila
"Dengan memiliki kesadaran batin (mindfulness) dan kewaspadaan introspektif
Engkau tidak melakukan pelanggaran sila, bahkan dalam pikiranmu
Dengan kesadaran (conscientiousness), kesadaran batin (mindfulness), dan tanpa ketidakjujuran
Engkau tidak ternodai oleh pelanggaran-pelanggaran sila."
- Guru Atisha memiliki Latihan Konsentrasi
- Guru Atisha memiliki Latihan Kebijaksanaan
- Bagaimana Atisa berkarya di India
- Bagaimana Atisha Berkarya di Tibet
- Ulasan mengenai aktivitas Atisa di Tibet akan dijelaskan menjadi 2 bagian bagaimana beliau memajukan ajaran Buddhis di Tibet:
- Bagaimana beliau menghilangkan konsepsi salah terhadap Dharma dan membangun tradisi
“Tuan yang berwelas asih, tidak perlu mengajar kami, murid-murid Tibetmu yang tidak patuh, Dharma yang sangat mendalam dan mengerikan, Saya memohon kepadamu untuk membimbing kami dengan instruksi yang mengungkapkan sebab dan akibat karma. Khususnya, Oh Yang Mulia, saya memohon kepadamu untuk menjaga kami dalam welas asihmu dengan mengajarkan Dharma yang Anda sendiri telah kuasai, sesuatu yang mengandung semua ajaran Sutra dan Tantra dari Sang Penakluk beserta dengan ulasannya masing-masing. Lagi pula, ajaran itu harus mengandung Jalan yang lengkap dan tanpa kesalahan, mudah dipraktikan, dan bermanfaat bagi semua orang Tibet.”
- Bagaimana beliau menghilangkan kekuatan yang menghancurkan prilaku murni dan tiga jenis latihan
Wednesday, July 8, 2015
Kelas Bodhisatva Vow
"Dan bagi mereka yg telah mengukur pikirannya dengan baik
Dengan tekad tak akan mundur
Dari usaha membebaskan seluruh
Bentuk kehidupan yg tak terbatas.
Sejak saat itu
Meskipun tidur ataupun tak sadar
Kekuatan kebajikannya seluas angkasa
Akan tiada habisnya mengalir."
~Bodhicaryavatara
Apakah itu Sumpah Bodhisatva?
Apakah Anda sudah mengambilnya?
Apakah Anda sudah menjalakannya dg baik?
Minggu, 12 Juli 2015
Puja + Kelas Dharma
Pk 10.00-13.00
Topik: The Bodhisatva Vow
Moderator: Yanto T / Eka Agustian
Mari belajar Vow dg baik dan pastikan dirimu siap menerima inisiasi Wang akhir tahun ini ya.. 😉
Join Us @KCJ 😆😆








